NEGERI ini dihebohkan dengan kelangkaan daging. Terasa sekali, di sela-sela peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, negeriku belum bebas di bidang ketahanan pangan. Nasib bangsa berdaulat ini ternyata masih tergantung dari asosiasi importir daging. Masih nasionaliskah mereka atau hanya mengeruk keuntungan?
Pada kurun 2010—2011 harga daging sapi di pasar berkisar Rp45 ribu—Rp55 ribu per kilogram (kg). Saat ini harganya mencapai Rp120 ribu—Rp130 ribu per kg. Negeriku yang hebat ini, tapi harga daging meroket. Harga jual daging mahalnya berlipat-lipat dari harga sapi tempat asalnya—Australia yang hanya dijual Rp20 ribu per kg. Negeriku dikalahkan importir. Negeriku terus dijajah oleh bangsanya sendiri.
Bisnis daging di negeri ini seperti lingkaran setan. Pengurusan izin impor sapi banyak menjerumuskan dirinya ke bui. Iya, seperti setan. Makhluk halus yang tidak nyata tapi dirasakan sekali kehadirannya. Luar biasa! Negeriku ini harus bertekuk lutut dengan mafia daging. Tak ada yang mau mengalah. Kenaikan sapi sejak sebulan terakhir pada Agustus 2015 sebesar Rp3,5 juta per ekor. Hebatkan?
Kenaikan itu merupakan harga tertinggi sesudah dikeluarkannya kuota triwulan untuk impor sapi dari pemerintah. Tiga bulan ke depan, kuota hanya 50 ribu ekor. Kalau mau jujur, importir membantu negeri ini dari kesulitan daging sapi. Mereka hanya berpikir bisnis, tak mau membantu rakyat yang membutuhkan daging.
Jangan salahkan Presiden Jokowi mengeluarkan maklumatnya yang tegas. Mantan pengusaha mebel Solo itu memburu penimbun daging yang sengaja mengeruk keuntungan dari situasi krisis daging. “Ya dikejar. Kalau saya bilang saya kejar, ya saya kejar. Hati-hati. Persoalan daging menyangkut dengan rakyat,” kata mantan Gubernur DKI Jakarta ini di Istana Kepresidenan Bogor, Selasa (11/8) lalu.
Pemerintah sangat beralasan untuk memburu pemain daging sapi itu, karena terjadi disparitas harga yang tinggi antara Indonesia dan Singapura, juga dengan Malaysia. Saat ini daging di Indonesia mencapai Rp120 ribu per kilogram, daging di kedua dua negeri jiran itu hanya Rp46 ribu per kilogram. Di Australia sendiri, harganya per kilo Rp20 ribu. Bisa dihitung berapa keuntungan yang dikeruk dari permainan daging impor tersebut.
***
Kuota impor untuk daging dibuka sebelum terjadinya kenaikan harga. Kuota yang seharusnya 250 ribu ekor sapi dari Australia, dipenuhi hanya 50 ribu ekor. Pengimpor merasa ketakutan karena jumlah yang ditetapkan 50 ribu ekor itu tidak mencukupi untuk kebutuhan tiga bulan ke depan—apalagi menghadapi Iduladha. Dengan begitu, alasan mereka menahan sapi yang ada.
Itu yang membuat kening Jokowi mengerut. Pengimpor tidak berpihak ke rakyat, tapi menumpuk daging untuk mengeruk keuntungan. Terbukti, Mabes Polri sampai ke daerah melakukan penyidikan terhadap tempat sapi itu digemukkan. Hasilnya? Ditemukan ribuan sapi yang siap potong di kawasan Tangerang. Itu belum lagi di Lampung, yang memiliki 11 perusahaan penggemukan sapi (feedloter).
Kita tunggu saja, apa alasan feedlot termasuk pedagang daging sapi yang mogok di Lampung, juga di Jabodetabek. Ada indikasi mogok jualan itu memang direkayasa agar harga sapi kian mahal. Bagaimana di Lampung? Polda masih melakukan penyelidikan. Tunggu saja!
Ada kemungkinan pergantian menteri pekan ini, dampak dari karut-marutnya perdagangan daging sapi. Selain mengganti menteri, sikap tegas diambil pemerintah dengan menambah pasokan impor sapi menjadi 100 ribu ekor. Sedangkan pemegang kendali diserahkan kepada Badan Urusan Logistik (Bulog) mendistribusikan sapinya ke masyarakat.
Memang isu perdagangan sapi sangat seksi dan tidak ada habis-habisnya. Ini terbukti lemahnya kedaulatan pangan di negeriku. Menteri Perdagangan dan Menteri Pertanian mungkin menerima laporan tidak lengkap berapa stok sapi, konsumsi daging sapi di dalam negeri, dan berapa stok sapi lokal.
Menjadi catatan penting; Menteri Perdagangan, Menteri Pertanian, Bulog, dan Badan Statistik harus memiliki data yang sama tentang sapi yang beredar di Tanah Air. Dari hasil Sensus Ternak Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2011, jumlah sapi dan kerbau di Indonesia sebesar 14,8 juta.
***
Dalam catatan BPS itu, populasi sapi melampaui angka yang dibutuhkan untuk swasembada daging sebesar 12,6 juta. Untuk diketahui, 50% daging sapi digunakan untuk campuran bahan olahan seperti bakso dan sosis, sedangkan 30% untuk rumah makan, 15%—18% restoran, hotel, dan kafe. Sisanya 3%—5% untuk kebutuhan rumah tangga saat perayaan hajatan.
Angka swasembada dengan kebutuhan sapi tadi, pemerintah perlu diapresiasi karena niatnya untuk memperkaya sektor hilir dari penggemukan sapi. Maka itu, pemerintah memberanikan diri memangkas kuota impor sapi dari 800 ribu sapi menjadi 283 ribu pada 2012. Dampaknya? Bukannya harga daging sapi menurun, melainkan melesat naik tajam Rp100 ribu per kg.
Fenomena itu menunjukkan kebijakan impor perlu dievaluasi lagi. Paling tidak, ada kesalahan yang sangat mendasar dari kebijakan pembatasan kuota impor jika dikaitkan dengan target pencapaian swasembada daging sapi. Menjadi catatan, petani rakyat di negeri ini belum siap seperti di Australia.
Australia mengelola bermotif bisnis sehingga ternak bagi mereka merupakan komoditas komersial. Peternak Indonesia masih berorientasi tabungan. Parahnya lagi, sapi dijual untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, biaya sekolah anak, atau dikonsumsi saat pesta perkawinan. Bahkan, peternak juga tidak segan-segan menjual sapi jenis betina, padahal hewannya itu masih produktif.
Selain itu, bangsa yang sudah merdeka 70 tahun ini harus belajar lagi dari Australia. Peternak Negeri Kanguru tidak mau mengekspor sapi betina unggulan, apalagi dipotong. Karena memang, sapi indukan itulah yang menghasilkan dolar sangat fantastis ketimbang sapi jantan alias sapi potong penggemukan.
Peternak Australia, Shane, pernah mengisyaratkan tidak akan mengekspor sapi indukan. Mengapa? Dalam hitungan tahun, Indonesia akan tumbuh menjadi negara pesaing Australia. Shane adalah peternak indukan, Brahman Company, Garglen, di Queensland.
Minister for The Northern Teritory Aussy Willem Westra berharap Pemerintah Indonesia tetap mengimpor sapi potong dari Australia. Dia menanggapi krisis daging yang terjadi di negeri ini. Perlulah Indonesia bersikap tegas jangan menjadi negara konsumen. Negeriku masih ketergantungan dari Australia. Jika mereka mengembargo sapinya, Indonesia akan terpuruk.
Pemain sapi harus berhati merah putih untuk rakyat. Janganlah perusahaan penggemukan sapi memanfaatkan situasi dengan mengambil keuntungan. Kini, pemerintah tak mengeluarkan lagi izin impor sapi untuk feedloter, tetapi langsung ditangani Bulog. Saatnya anak bangsa yang merayakan HUT ke-70 Indonesia, melakukan penelitian kawin silang untuk mengembangbiakkan sapi indukan. Jika itu berhasil, pastilah peternakan sapi Indonesia akan berjaya. ***


