JAKABARING disebut warga Kota Palembang, tempat jin buang anak. Tempatnya sepi dan banyak ditumbuhi ilang-ilang. Baru pada 1990-an, Jakabaring yang merupakan kawasan rawa-rawa direklamasi untuk pengembangan kota di belahan Seberang Ulu. Memang sangat mengerikan kalau sudah menyebut Jakabaring. Karena kawasan ini dikenal tempat berdiamnya kawanan preman yang menguasai Kota Pempek tersebut.
Tekad Gubernur Sumatera Selatan Ramli Hasan Basri mengubah wajah Jakabaring menjadi kenyataan. Saya masih ingat, Ramli dicaci maki. Dengan reklamasi Jakabaring, Palembang akan tenggelam. Ramli tak bergeming. Keinginan kuat itu diteruskan penggantinya Rosihan Arsyad, Syahrial Oesman, dan Alex Noerdin. Dulu rawa-rawa ditimbun lumpur dari Sungai Musi, kini Jakabaring menjadi kawasan elite. Jakabaring sudah mengharumkan nama daerah, juga negeri ini.
Jakabaring tidak seseram dulu. Ia menjadi kawasan olahraga internasional juga pariwisata. Di situ berdiri bangunan stadion megah dilengkapi sarana olahraga lainnya. Dengan sarana itu, Palembang menggapai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) pada 2004, SEA Games pada 2011, bahkan pada 2018 nanti, Kota Pempek ini dipercaya tempat penyelenggaraan Asian Games. Luar biasa memang perjuangannya.
Sejak ada Jakabaring, sarana dilengkapi, atlet dibina, pelatih dapat perhatian, Sumatera Selatan menjadi provinsi terdepan di luar Jawa dalam perolehan medali di PON. Ya, semangat dan sportivitas membuat daerah itu melesat di bidang olahraga juga tempat berlangsungnya kegiatan event berskala nasional dan internasional.
Dulu juga—di era 1980—1990, jika ada pertandingan sepak bola di Palembang, warganya tidak ada yang mau menonton, walaupun digratiskan masuk stadion. Sekarang ini, jangankan gratis, merogoh kocek uang ratusan ribu rupiah pun dilakoni warga Palembang. Masyarakatnya sudah maniak menonton sepak bola. Menonton pertandingan berkelas dunia di Jakabaring merupakan bagian dari gaya hidup mereka.
Sebagai provinsi tetangga, dua kali PON berturut-turut, nama Lampung terus melorot dalam perolehan medali, berupaya bangkit lagi. Padahal banyak menyimpan atlet berprestasi dari berbagai cabang olahraga. Dalam menggondol emas, Lampung pernah jawara di lima besar, bahkan peringkat satu di luar Jawa setiap PON.
Lampung bertekad ingin menjadi jawara lagi. Kalaupun PON lalu berada di posisi kesepuluh. PON tahun mendatang, Lampung ingin memperbaiki peringkatnya. Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Lampung M Ridho Ficardo tidak menargetkan posisi dalam perolehan medali pekan olahraga bergengsi tersebut.
Paling tidak, kata dia, Lampung bangkit dari ketidakberdayaan yang dijepit oleh olahraga provinsi lainnya. Kini, Ridho yang juga gubernur Lampung menyiapkan lahan 50 hektare untuk dibangun sarana dan prasarana olahraga. Ridho yang juga mantan atlet tenis lapangan itu mengundang Pemerintah Pusat dan penguasaha untuk berinvestasi olahraga di daerah ini.
***
Membangkitkan jawara sangatlah mudah. Karena memang Lampung pernah menorehkan prestasi luar biasa di kancah PON. Prestasi Lampung yang pernah berjaya itu tinggal menjadi kenangan. Kemunduran prestasi karena minim pendanaan dan sarana-prasarana. Itu berakibat, atlet menjadi loyo, pembina dan pelatihnya berjalan tertatih-tatih menunggu uluran tangan.
Masyarakat menunggu kepiawaian KONI dan pengurus cabang olahraga membangkitkan semangat atlet dan pelatih untuk meraih cita-cita. Olahraga menjunjung tinggi sportivitas, kejujuran, sikap kesatria serta disiplin sebagai modal awal menuju prestasi. Dari itu pula, Ridho melarang pejabat Pemerintah Provinsi yang juga menjadi pengurus KONI Lampung periode 2015—2019 menerima honor sebagai pengurus KONI.
Keterlibatan sebagian pejabat daerah menjadi pengurus KONI merupakan bentuk lain pengabdian kepada daerah dan bukan sarana memperoleh penghasilan tambahan. “Pejabat yang menginginkan honor dari KONI silakan mengundurkan diri saja sebagai pegawai negeri sipil,” ujar Ridho usai dilantik menjadi ketua umum KONI Lampung di Balai Keratun, Selasa lalu (25/8).
Selain itu, keinginan masyarakat untuk membangkitkan kejayaan olahraga dengan digelarnya diskusi publik bertema Mengembalikan kejayaan olahraga Lampung, Rabu (2/9) lalu. Staf Ahli Menpora Amung Makmun dan mantan juara dunia ganda campuran, Ivana Lie, dalam diskusi itu berpendapat, olahraga Lampung yang memiliki potensi bisa kembali berjaya di tingkat nasional asalkan didukung semua elemen masyarakat.
Banyaknya cabang olahraga unggulan, persiapan lahan 50 hektare yang akan dibangun sarana dan prasarana, menjadi harapan kembalinya sang jawara ke tingkat nasional. Amung menawarkan sejak dini Lampung memikirkan berdirinya sekolah olahraga serta ruang terbuka publik dimanfaatkan sebagai sarana olahraga.
Untuk kembali menjadi jawara itu, masyarakat olahraga Lampung haruslah memperhatikan ilmu pengetahuan (iptek) dengan pendekatan sport science (ilmu olahraga). Seorang olahragawan tidak cukup didampingi pelatih, akan tetapi ahli makanan, terapis, dan psikolog ikut memberikan dorongan agar optimal di gelanggang pertandingan.
Ivana Lie mencontohkan Thailand selalu menjadi raja olahraga di kawasan Asia Tenggara. Di Negeri Gajah Putih itu hampir di tiap daerah memiliki sekolah olahraga, juga melakukan pembinaan sejak tingkat usia dini dengan pendekatan iptek dan sport science.
Tidaklah terlalu sulit jika ada niat, usaha, dan doa. Jawara olahraga Lampung akan kembali berjaya. Angkat besi dan angkat berat Lampung adalah bukti dari kepiawaian membina atlet—meraih medali emas di tingkat nasional juga internasional. ***


