• Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
Kamis, September 17, 2026
Bung Is
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
No Result
View All Result
Bung Is
No Result
View All Result

Visa Baitullah

Agustus 23, 2015
in Refleksi
Lilin Kecil

ArtikelTerkait

Corona Belum Musnah!

Berkalang Limbah

Share Postingan ini :

ISU berkaitan ibadah haji sangat seksi. Mengapa? Selain persoalan agama, juga melibatkan sepersepuluh jumlah penduduk negeri ini untuk memenuhi panggilan suci ke Baitullah (rumah Allah). Tahun ini, Arab Saudi mengeluarkan paket kebijakan tentang visa berikut layanannya selama di Tanah Suci.
Kebijakan Pemerintah Arab Saudi itu keluar di tengah negeri ini sedang memproses pembuatan visa. Tak bisa terelakkan, pemberangkatan kelompok terbang (kloter) pertama di sejumlah embarkasi pekan ini, tamu Allah gagal berangkat karena belum mengantongi visa, izin tinggal. Pemerintah Arab Saudi mulai memberlakukan sistem e-haj (elektronik haji).
Sudah menunggu berangkatnya lama, antre bertahun-tahun, ketika sudah waktunya, tidak juga berangkat. Ohh… negeriku, engkau tak mengantisipasinya lebih awal. Ratusan jemaah calon haji harus bersabar. Ujian sudah dilakukan-Nya sebelum menginjakkan kaki ke Tanah Suci.
Kebijakan negeri minyak itu datangnya secara tiba-tiba. Negeriku dibuatnya kalang kabut. Pada 2009, Pemerintah Arab Saudi menerapkan paspor hijau secara mendadak menjelang keberangkatan haji. Arab menolak paspor cokelat, khusus haji yang diterbitkan Pemerintah Indonesia.
Sangat masuk akal, mengapa Arab harus menggunakan paspor internasional berwarna hijau karena alasan keamanan dan pengawasan. Paspor haji berwarna cokelat memang tidak memenuhi standar keamanan. Paspor itu hanya memuat data seperti foto dan sidik jari.
Paspor hijau menjadi standar organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO). Dengan paspor itu, seluruh data tercatat di imigrasi. Komputer imigrasi Arab akan menyalak ketika disodori paspor teroris dan bandar narkotik. Begitu juga, pendatang dari negara-negara yang mengindap penyakit ebola dan MERS. Jelas-jelas komputernya terganggu. Arab Saudi sangat care (peduli) dengan persoalan yang mematikan negaranya.
Tapi untuk negeriku kurang antisipatif. Negeri ini belum tegak lurus dengan siapa pun juga. Tuan negeri ini adalah hukum. Jika tidak, Indonesia tempat tumbuh subur penjahat teroris dan bandar narkotika jaringan internasional. Sangat biadab! Mereka memanfaatkan kelemahan negeriku. Perilaku dua penjahat itu akan memusnahkan peradaban bangsa ini.
Ketika perang ideologi berkecamuk ditambah aparat lalai, maka anak negeri ini dengan sesuka hatinya menjual negara ke tuan-tuannya di luar negeri. Tuan di sana sangat berkepentingan dengan Negeri Jamrud Khatulistiwa ini. Mereka berbondong-bondong memenuhi isi kocek dengan uang, mengisi perut yang lagi haus dan kelaparan. Masuknya dari kampanye antikorupsi, lingkungan, hak asasi manusia, dan lainnya. Bangsa ini jadi terbius tak sadarkan diri.
***
Indonesia harus belajar ke Arab Saudi, bagaimana menata pengurusan haji lebih baik. Tiap tahun bahkan setiap bulan, ratusan ribu anak bangsa ini menunaikan ibadah umrah dan haji ke Tanah Suci. Jemaah Indonesia terbanyak setelah Turki yang memadati Arab Saudi.
Tidak hanya karena persoalan paspor, virus ebola atau sejenisnya, atau hanya gara-gara visa, jemaah tak bisa berangkat ke rumah Allah di Mekah Al-Mukaramah, dan ziarah ke makam Rasulullah saw di Madinah Al-Munawwarah.
Orang yang berangkat ibadah haji adalah orang yang dicintai Allah. Mengapa? Karena manusia patuh pada perintah-Nya. Allah sendiri berfirman: “Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, di antaranya makam Ibrahim. Barang siapa memasuki Baitullah menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari kewajiban haji maka sesungguhnya Allah Mahakaya tidak memerlukan sesuatu dari alam semesta.” (QS Ali Imran: 96-97).
Tidak ada alasan jemaah gagal berangkat ke Tanah Suci hanya karena visa. Allah sudah mengingatkan pada 14 abad lalu. Allah juga tidak memilah dan memilih seseorang untuk sampai ke Tanah Suci karena kualitas dan ketakwaan hamba-Nya.
Dalam Alquran Surat Al-Hajj Ayat 27 berbunyi: “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus—datang dari segenap penjuru yang jauh.”
Dengan dua ayat Alquran di atas, Direktorat Jenderal (Ditjen) Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama harus membuka baju—kerja lembur 24 jam menyelesaikan visa haji. Bangsa ini mengapresiasi Dirjen PHU Abdul Djamil yang secara terbuka meminta maaf kepada rakyat Indonesia atas amburadulnya pengurusan visa jemaah calon haji.
Djamil mengaku visa jemaah calon haji yang masuk ke gelombang pertama keberangkatan menuju Madinah sudah selesai. Nyatanya? Pada pemberangkatan kloter pertama pekan ini, masih ada ratusan jemaah gagal berangkat karena persoalan visa. Bagaimana visa jemaah gelombang kedua—yang akan terbang ke Jeddah?
Memang, persoalan haji tak pernah habis-habisnya dibahas yang menyita waktu dan pikiran. Karena persoalan dana dan salah urus saja, menyeret dua menteri agama masuk bui. Pertama, Said Aqil Husin Almunawar tersangkut dana abadi umat yang berasal uang haji pada 2002—2004. Kedua, Suryadharma Ali juga terlibat kasus korupsi penyelenggaran haji 2013.
Inilah yang menjadi persoalan besar bangsa. Sudah bayarnya mahal, penginapan jauh dari Masjidil Haram, makan di Armina dan Madinah acak-acakan. Pengalaman pada musim haji 2013, petugas haji datang ke maktab–lantang berkata; “Tak ada korupsi tahun ini.” Ternyata setahun kemudian, Suryadharma terjerat korupsi dan Dirjen PHU Anggito Abimanyu mundur dari jabatannya karena kasus yang sama. Memalukan! ***

Share Postingan ini :
Previous Post

Feedloter Merah Putih

Next Post

Negeri Meriang

Artikel Terkait

Lilin Kecil
Refleksi

Corona Belum Musnah!

Lilin Kecil
Refleksi

Berkalang Limbah

Lilin Kecil
Refleksi

Lampung Mendunia

Lilin Kecil
Refleksi

Bayar Mahal     

Lilin Kecil
Refleksi

Politikus Berakrobat        

Lilin Kecil
Refleksi

Entrepeneur Lokal    

Next Post
Lilin Kecil

Negeri Meriang

Lilin Kecil

Jawara Bangkit Lagi

Lilin Kecil

Tanah Suci Berduka

Lilin Kecil

Tergiur Sari Manis

Lilin Kecil

Tempat Suci Kritis

Artikel Terbaru

Keterangan Ahli Pers Menegakan Wibawa Profesi dan Etika Jurnalistik

Pers sebagai Mitra Strategis dan Penyedia Solusi Konstruktif

Wakabid Pendidikan PWI Pusat Umumkan 31 Wartawan Kompeten UKW PWI Lampung

Buku Transformasi SDM Pendidikan Islam Di Era Globalisasi

Perkuat Fungsi Pers, LPEF Kawal Peningkatan Kualitas SDM

PWI Pusat Tetapkan Marthen Jadi Sekjen, Iskandar sebagai Wakabid Pendidikan

Facebook Twitter Instagram Youtube
Bung Is

Platform Bung Is berperan sebagai repositori media yang menjaga integritas jurnalistik melalui penguatan kompetensi dan etika profesi oleh Dewan Pers juga PWI di era digital. Seluruh konten, termasuk podcast dan opini, menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menghadapi tantangan teknologi serta memajukan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia.

Beranda
Refleksi
Bung Is Menyapa
Nuansa
Opini
Buku & Jurnal
Peraturan
Pedoman
Nota Kesepahaman Pers

Aktivitas
Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist