BESOK, 10 Agustus 2015, harian Lampung Post ini genap berusia 41 tahun. Pada tanggal yang sama, 41 tahun silam, sedikitnya lima anak bangsa yang menorehkan sejarah berkarya di bidang jurnalistik melahirkan koran ini. Mereka adalah Solfian Akhmad, M Tahir Rajakapitan, Arsyad Effendy, M Harun Muda Indrajaya, dan Ahmad Fuad.
Kelimanya adalah big boss dari surat kabar mingguan Pusiban dan mingguan Independen. Lalu dengan tulus ikhlas, keduanya bergabung menerbitkan surat kabar baru setiap hari bernama Lampung Post.
Hingga kini Lampung Post mengalami pasang surut dan bisa bertahan terbit. Pada 1970-an, harian ini terbit dengan empat halaman. Dicetak menggunakan huruf dari timah. Karya itu masih tersimpan dengan utuh dan rapi di perpustakaan.
Dari cerita perjalanan sejarah, Lampung Post nyaris tak terbit karena tak memiliki fulus atau uang. Solfian Akhmad meminta keikhlasan istri, Lindriyati, membayar biaya cetak dengan menjual gelang emas dari tangannya. Dengan pengorbanan itu, Lampung Post bisa bertahan mengunjungi pembacanya hingga hari ini.
Ya, pengorbanan. Tapi itu tidak cukup. Independen, kerja kreatif, berpikir cerdas membuat awak harian ini masih tetap tegak lurus dengan siapa pun dan di mana pun. Pada 1985, Lampung Post pernah menerima penghargaan sebagai Pers Penegak Pancasila. Mengapa? Karena sejak didirikan mengibarkan panji antikomunis. Lampung Post berkomitmen merekatkan keberagaman bangsa dengan ikatan Merah Putih.
Bahkan Lampung Post pernah diselimuti awan kelam karena tekanan penguasa. Adalah peristiwa Talangsari. Karena koran ini menempatkan diri sebagai mainstream sumber informasi masyarakat sehingga peristiwa Talangsari menjadi terungkap. Akibatnya, kantor Lampung Post dikirimi bom molotov karena merugikan kalangan tertentu. Luar biasa!
Para pendiri koran ini beramanah, wujud integritas moral, subjektivitas ketidaknetralan dalam berbangsa dan bernegara akan membawa negeri ini terjerumus ke kondisi yang lebih buruk lagi. Untuk itu, pelaksanaan tanggung jawab profesi, lembaga penyuara aspirasi rakyat—tidak hanya berbisnis dan mencari keuntungan, tetapi juga menjaga sendi-sendi kebhinnekaan untuk kepentingan publik.
***
Lampung Post juga tetap menjaga keutuhan negeri ini. Sejak 1989 bergabung dan menjadi salah satu unit bisnis Media Group (Media Indonesia dan Metro TV) secara terbuka dan terang benderang memerangi kejahatan, narkoba, termasuk korupsi yang membuat keropos negara tercinta. Di balik kontrol dan kritik yang tajam itu, Lampung Post milik rakyat selalu membuka diri untuk dikritik.
Harian ini hadir di tengah pembaca yang beragam kepentingan. Tagline Teruji dan Tepercaya, tetap dijaga sebagai wujud sikap redaksi dalam menyajikan berita. Harian ini tidak mengobarkan kebencian, dendam, dan peperangan. Di usia 41 tahun, berkomitmen menata kehidupan Lampung lebih baik lagi. Seperti halnya dicontohkan Nabi Muhammad saw—yang berhijrah ke Kota Madinah—untuk menata masyarakat madani.
Perjalanan panjang selama 41 tahun, oleh pendiri dan penerusnya selalu bersikap dan berpegang teguh pada komitmen kerakyatan dan sikap independen. Kerakyatan yang berakar, tumbuh, dan hidup dalam kelampungan. Koran ini mendedikasikan diri ikut mencerdaskan anak bangsa, menjadi perekat kemajemukan daerah.
Terhadap komitmen sikap independen yang diturunkan oleh pendiri harian ini. Koran ini tidak mengumbar janji demi kepentingan bisnis. Lampung Post tetap menjaga kepercayaan serta tak ingin menjadi corong kepentingan penguasa dan politik tertentu. Koran ini menjadi corong kebenaran. Dengan demikian, dalam bersikap dan memberitakan suatu peristiwa, Lampung Post berada di tengah pusaran dinamika masyarakat, berpihak kepada kepentingan rakyat.
Perjalanan itu juga turut mendewasakan Lampung Post. Dalam menatap masa depan, koran ini tetap membingkai diri dalam semangat kebersamaan. Tentunya, memasuki era digital, pembaca ingin serbacepat, akurat membaca dan mendengar berita terkini, maka Lampung Post menjawab semua itu dengan konvergensi.
***
Di usia 41 tahun, Lampung Post sebagai koran lokal melengkapi menu pembacanya dengan media online (lampost.co) dan media udara (Radio SAI 100 FM dan streaming). Ruang dua media serbacepat dapat mengubah opini masyarakat dalam hitungan menit. Dengan konvergensi, Lampung Post ingin terdepan memenuhi kebutuhan informasi pembacanya, baik di Lampung maupun luar negeri.
Tidak hanya media online dan radio, Lampung Post juga mengembangkan dua unit bisnis yang ikut mencerdaskan bangsa. Dua unit itu adalah publishing (penerbitan buku) dan pelatihan jurnalistik. Keduanya menjadi tempat studi banding sekolah-sekolah di Lampung dalam mencari pengetahuan tentang jurnalistik konvergensi. Itu tecermin dari meningkatnya jumlah kunjungan siswa dan mahasiswa, serta buku yang diterbitkan harian tepercaya ini.
Dengan perkembangan media globalisasi itu, pasti mengubah gaya hidup manusia. Globalisasi memicu kemajuan teknologi informasi dan kebebasan pers. Lampung Post menuju konvergensi menyuguhkan berita kebenaran, bukan kebohongan. Rakyat akan sehat jika disuguhkan berita yang sehat pula, bukan fitnah dan kebohongan.
Diilustrasikan seperti seorang bayi yang menyusu dari ibu. Bayi (pembaca) dengan percaya bahwa ibu (media) memberikan air susu dengan tulus ikhlas dibarengi makanan sehat. Bayi tumbuh makin cerdas. Bayi tanpa ragu sedikit pun dengan ibunya. Begitulah peran pers, Lampung Post menata kehidupan rakyat di Lampung ini—memasuki dunia baru bernama konvergensi itu, akan konsisten menjaga independensi yang berada pada keragaman budaya, bangsa, dan agama.
Kami tetap mengingat! Salah satu cara publik memelihara kemuliaan dan martabat Lampung Post adalah melakukan kontrol sosial terhadap koran ini sendiri. Lampung Post menjaga kepercayaan publik karena rakyat menempatkan harian ini sebagai salah satu pilar keempat demokrasi, setelah lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif.
Sebutan pilar keempat menyuarakan kepentingan rakyat. Anak bangsa percaya, makin cerdas dan kritis, menuntut koran ini beretika, terampil dalam menyikapi kemajuan zaman, serta membela kepentingan publik. Patut dicatat juga, harian ini tak selalu bisa memuaskan semua pihak. Semangat awak koran ini menjaga dan mengawal bangsa dari obral fitnah yang merusak akal dan kejujuran.
Lampung Post berterima kasih atas kritik dan saran selama ini. Semua itu, sekali lagi menjadi obat dalam bersikap—untuk menyuarakan kepentingan bangsa dan negera, juga daerah. Integritas moral dan hati nurani adalah cermin karya jurnalistik. Hari ini Lampung Post ada karena masyarakat Lampung. ***


