Lampung — Harian umum Lampung Post menggelar Lampung Post Executive Forum (LPEF) bertema “Meningkatkan APK Pendidikan Tinggi Lampung Menuju Indonesia Emas 2045”. Acara ini berlangsung di Gedung Mahligai Agung Pascasarjana Universitas Bandar Lampung (UBL) pada Kamis, 18 Juni 2026. Hadir dalam acara bergengsi tersebut Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A., Gubernur Lampung diwakili Kepala Balitbangda Yurnalis, bupati, para rektor, kepala sekolah di Provinsi Lampung.
Dalam forum tersebut, Lampung Post memberikan penghargaan kepada kepala daerah, rektor, dan kepala sekolah yang berdedikasi memajukan pendidikan Lampung. Forum tersebut menjadi ruang diskusi strategis bagi berbagai pihak untuk mengurai tantangan serta peluang peningkatan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi di Bumi Ruwa Jurai. Kegiatan ini mempertemukan para pemangku kepentingan pendidikan, pemerintah daerah, dan jajaran perguruan tinggi untuk merumuskan solusi bersama.
Pada kesempatan itu Pemimpin Perusahaan Lampung Post, Iskandar Zulkarnain, menegaskan media massa memegang peran strategis dalam menyajikan informasi yang akurat dan tepercaya kepada publik. Menurutnya, forum ini menjadi bagian nyata dari komitmen pers untuk mendorong perbaikan mutu pendidikan di Lampung. “Sebagai media informasi, kami memberikan informasi yang akurat dan terpercaya. Makanya kita berkumpul hari ini. Lampung Post ingin mencari kebaikan dan kebenaran tentang bagaimana masa depan pendidikan kita,” ujar Iskandar pernah menjabar Pemred Lampung Post.

Ahli Pers Dewan Pers itu menjelaskan Lampung Post tidak sekadar berfungsi sebagai penyampai berita. Lebih dari itu, media memiliki tanggung jawab moral untuk mengawal isu-isu publik, terutama sektor pendidikan yang menjadi fondasi utama pembangunan sumber daya manusia (SDM). “Lampung Post hadir hari ini untuk menjernihkan bagaimana pendidikan di Lampung. Fungsi yang kedua adalah fungsi kontrol sosial yang selalu mengontrol persoalan-persoalan kepentingan publik sehingga luruslah bangsa dan negara,” ungkap Iskandar.
Selain menjalankan fungsi informasi dan kontrol sosial, Iskandar menegaskan bahwa pers memiliki fungsi edukasi yang kuat bagi masyarakat. Lewat forum diskusi interaktif ini, Lampung Post ingin mempererat kolaborasi lintas sektor demi menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih maju. “Ketiga fungsinya adalah fungsi pendidikan. Hari ini wujud dari fungsi spesifikasi soal pendidikan yang berkolaborasi dan menguatkan bagaimana ke depan akan lebih baik lagi,” kata dia.
Iskandar yang juga Wakil Ketua Bidang Pendidikan PWI Pusat menjelaskan media massa juga mengemban fungsi hiburan sekaligus bergerak sebagai lembaga ekonomi. Kedua fungsi tersebut melengkapi eksistensi media dalam kehidupan masyarakat modern saat ini. “Era digitalisasi tidak bisa dihindari, sehingga diperlukan percepatan perubahan di ruang publik. Kini Lampung Post sudah memasuki era tersebut,” jelas Iskandar lagi.
Dongkrak APK di Lampung
Pada kesempatan itu, Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq memberikan apresiasi kepada Lampung Post yang konsisten menghadirkan ruang diskusi strategis terkait pembangunan SDM di daerah. “Ini menunjukkan pers tidak hanya berkutat pada dunia informasi, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral dalam meningkatkan mutu pendidikan,” ujarnya.
Menurut Fajar, forum ini menjadi contoh nyata kontribusi media massa dalam membangun kualitas pendidikan dan kemajuan SDM di daerah. Lalu kemudian, dia menyoroti kondisi Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi di Lampung yang masih berada di bawah rata-rata nasional. Saat ini, APK pendidikan tinggi Lampung berada di kisaran 24 persen, sementara rata-rata nasional sudah mencapai sekitar 32,89 persen.
Kondisi tersebut, katanya, membutuhkan kerja sama lintas sektor agar Lampung mampu mengejar ketertinggalan dan meningkatkan akses masyarakat terhadap bangku kuliah. “Memang masih butuh kerja keras agar APK Lampung bisa mendekati bahkan melampaui rata-rata nasional,” ucapnya. Fajar menegaskan bahwa banyak pihak masih menganggap kekuatan ekonomi daerah menjadi faktor utama peningkatan pendidikan. Namun, berdasarkan data dan pengalaman di sejumlah provinsi, asumsi tersebut tidak selalu terbukti.

Menurut Fajar, tantangan terbesar Provinsi Lampung saat ini adalah meningkatkan kualitas SDM. Hal tersebut juga tercermin dari posisi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lampung yang masih berada pada kategori menengah. Untuk mendongkrak APK pendidikan tinggi, ia mengidentifikasi tiga faktor utama yang perlu diperkuat. Faktor pertama adalah akses pendidikan dan informasi, sedangkan faktor kedua berkaitan dengan kesiapan lulusan SMA, SMK, dan Madrasah Aliyah (MA) untuk memasuki perguruan tinggi.
Lalu, faktor ketiga menyangkut budaya sekolah dan nilai-nilai yang dibangun selama proses pendidikan. Ia menilai banyak lulusan sekolah menengah yang sebenarnya memiliki peluang melanjutkan studi, tetapi terkendala oleh minimnya informasi, motivasi, serta pendampingan. “Kemampuan literasi siswa Lampung sebenarnya sudah berada pada level rata-rata nasional. Namun, kemampuan numerasi mereka tercatat masih berada di bawah standar nasional. Kondisi tersebut menjadi tantangan besar yang harus segera diperbaiki agar peluang siswa Lampung menembus perguruan tinggi semakin terbuka lebar.”
Sebagai bagian dari upaya perbaikan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah kini menerapkan Tes Kemampuan Akademik (TKA). Program tersebut bertujuan untuk mengukur sekaligus memperkuat kemampuan literasi dan numerasi peserta didik sejak dini. “TKA menjadi salah satu ikhtiar untuk mengasah kemampuan numerasi dan literasi anak-anak. Harapannya, transisi dari SMA ke perguruan tinggi menjadi lebih mulus,” ujarnya.

Menurut Fajar lagi, hasil TKA juga dapat menjadi indikator akurat dari kualitas proses pembelajaran di sekolah. Jika hasil ujian siswa masih rendah, fokus pembenahan harus diarahkan pada peningkatan kompetensi guru dan metode pembelajaran. “Kalau hasil TKA anak-anak masih di bawah standar, maka yang perlu diperbaiki adalah kompetensi gurunya dan cara mengajarnya, bukan menyalahkan siswanya,” tegas dia.
Oleh karena itu, kementerian saat ini mendorong seluruh guru, mulai dari jenjang PAUD hingga SMA dan SMK, untuk menguasai konsep pembelajaran mendalam atau deep learning. Pendekatan tersebut dinilai mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan pemecahan masalah siswa.
Fajar pun mengaku optimistis bahwa peningkatan kompetensi guru, penguatan budaya sekolah, dan perbaikan kualitas pembelajaran akan menjadi fondasi penting dalam mendongkrak APK pendidikan tinggi di Lampung. “Sekaligus memperk uat kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya. *










