TIDAK ada yang tahu, kapan dan di mana Allah swt mengirimkan malaikat untuk mengambil nyawa hamba-Nya. Waktunya pasti tiba. Ia tidak berdasar nomor urut, tetapi nomor cabut. Itu yang akan dialami manusia, termasuk Cassius Marcellus Clay Jr, nama asli Muhammad Ali, petinju kelas dunia yang tersohor sepanjang sejarah dalam olahraga adu jotos.
Ali menghembuskan napas terakhirnya dalam usia 74 tahun di sebuah rumah sakit di Kota Phoenix, Arizona, Amerika Serikat, Jumat (3/6) waktu setempat atau Sabtu (4/6) Waktu Indonesia Barat. Sang Jawara dilarikan ke rumah sakit sejak Kamis (2/6), setelah mengalami batuk parah dan gangguan pernapasan. Menghadapi maut, Ali yang lahir pada 17 Januari 1942 ditemani istri tercinta, Lonnie, serta keluarga dekat.
Juru bicara keluarga almarhum, Bob Gunnell, mengatakan selama 32 tahun Ali bertarung menghadapi penyakit parkinson. Ali, panggilan The Big Mouse–Si Mulut Besar—menderita parkinson tak lama setelah dia menggantung sarung tinju pada 1981. Promotor Don King berucap Ali memiliki semangat yang tidak pernah padam. Memang dalam sepanjang hidupnya, tidak ada yang membantah, Ali pantas menyandang gelar petinju terhebat di dunia.
Ali harus turun dari ring tinju selama empat tahun (1967—1971) karena dipenjara. Penyebabnya adalah menolak wajib militer bagi warga Negara Paman Sam, serta menentang Perang Vietnam. Gara-gara berseberangan dengan pemerintah itulah, gelar juara dunianya dicabut, Ali pun dilarang bertinju.
Itu ujian berat bagi Ali mempertahankan prinsip hidup serta keinginan kerasnya membela hak-hak sipil. “Negara menjadi saksi, seorang pemuda berandal penuh keberanian, sukses mengubah diri menjadi sosok religius dan memiliki kesadaran politik tinggi,” puji mantan Presiden AS Bill Clinton.
Ternyata sang legandaris mampu mempertahankan untuk tidak angkat senjata sehingga Ali pun dianugerahi dunia sebagai tokoh pejuang hak sipil. Pejuang hak asasi manusia, pendeta Jesse Jackson Sr, berucap Ali adalah kebaikan bagi Amerika. Selain jago tinju dunia, Ali juga dijuluki pahlawan perubahan sosial dan antiperang.
Banyak tokoh dunia memuji Ali karena kegigihannya. Kariernya di ring tinju profesional moncer bak bintang superstar. Ali mampu memenangkan 61 bertanding. Menang 55 kali dengan 37 knock out (KO). Kekalahan hanya enam kali. Itu pun kalah angka. Penikmat tinju berduka jika Ali kalah di atas ring.
Saat duduk di bangku sekolah dasar (SD) di tahun 70-an, guruku mengosongkan jam pelajaran hanya ingin menonton Ali bertanding. Syahwat guruku tidak bisa ditahan. Dia ingin menonton di layar kaca petinju kebanggaannya berlaga menganvaskan lawannya. Ali memang superkuat, apalagi saat tanding, gaya tinjunya membuat penonton gemas melihatnya.
***
Kini Ali telah tiada. Dia beristirahat untuk selama-lamanya meninggalkan dunia fana. Tak hanya semasa hidupnya, setelah meninggal pun Ali masih tetap dielu-elukan penduduk dunia. Hari-hari terakhir sebelum dimakamkan secara Islam, ribuan penggemarnya datang ke Louisville memberikan penghormatan terakhir. Ada yang menaruh karangan bunga, surat, foto, dan cendera mata di depan rumah masa kecil Ali di kawasan Grand Avenue.
Di dunia maya, kabar meninggalnya Ali langsung menjadi trending topic. Teman-teman Ali yang seiman mengadakan pengajian di Louisville Islamic Center yang dipimpin seorang imam masjid. Ali yang mulai memeluk Islam sejak 1964 itu, dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cave Hill, Louisville, Kentucky, Amerika Serikat, Jumat (10/6) siang waktu setempat.
Sebelum dimakamkan, Ali disalatkan dan didoakan oleh puluhan ribu orang yang hadir di Freedom Hall. Imam Zaid Shakir memimpin salat jenazah. Prosesi sakral itu mengantarkan dalam peristirahatan terakhirnya. Pemakaman sang pejuang itu dihadiri ribuan orang dari berbagai negara, ras, dan agama. Suami calon presiden AS Hillary, Bill Clinton, aktor Billy Crystal, dan jurnalis Bryant Gumbel memberikan pidato penghormatan terakhir.
“Sangat menakjubkan melihat begitu banyak orang dari berbagai kebangsaan, budaya, ras, dan agama berkumpul bersama untuk Ali. Ini memberikan insipirasi tersendiri,” kata Makeeba Edmund, pekerja beragama Islam di Kentucky, seperti dikutip AFP. Yang membuat kagum akan kebesaran Ali adalah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Raja Yordania Abdullah II ikut menghadiri pemakaman sang juara.
Pidato penghormatan juga datang dari Presiden Obama. Pesan pemimpin dunia itu dibacakan penasihat senior Gedung Putih, Valerie Jarret. Bahkan dalam akun Facebook, Obama menulis, “Pekan ini, kita kehilangan seorang ikon, seorang berdarah Afrika-Amerika yang menurut saya berhasil membebaskan pikirannya, dan bangga terhadap dirinya. Saya tumbuh besar menyaksikannya dan berkembang dengan sebagian identitas saya berasal dari buah kerja keras Ali.”
Dunia selalu mengenang keberanianmu karena melawan kesombongan sang penguasa. Antiperang di Bumi Vietnam Rose serta memperjuangkan hak-hak sipil adalah surga balasannya. Tidurlah dalam buliran doa-doa pengagummu. Selamat jalan Muhammad Ali. ***


