JALUR neraka itulah yang pantas disandang jalan tol yang dilalui pemudik di sepanjang ruas Pantai Utara (Pantura) Pulau Jawa. Neraka karena jalan tersebut tak luput menelan korban jiwa. Kematian 12 orang di Tol Brebes menjelang Lebaran 2016 adalah pukulan telak Kementerian Perhubungan yang lalai mengatasi kemacetan lalu lintas.
Banyak orang menghindari kemacetan—bermudik ria usai salat Idulfitri. Faktanya, sebelum atau sesudah Lebaran, masih juga terjadi kemacetan di jalan tol. Tol Cikampek, contohnya. Pemudik dengan enaknya memarkir mobil di bahu jalan karena rest area disesaki pemudik. Akibatnya, lalu lintas tersendat—macet puluhan kilometer tak bisa dihindari.
Pemudik mengabaikan keselamatan. Sampah pun berserakan di jalan bebas hambatan tersebut. Kementerian Perhubungan sebagai “komandan” yang dipercaya mengelola angkutan Lebaran harus bersikap tegas mengeluarkan kebijakan—mengatur bagaimana arus kendaraan yang lalu lalang di bumi Nusantara ini tidak macet berjam-jam di bawah terik sinar matahari.
Dari tahun ke tahun, setiap Lebaran, kemacetan selalu berulang. Harusnya kemacetan pada musim mudik dan balik bisa diatasi dengan manajemen kendaraan yang tepat. Kita tahu, jika jumlah kendaraan yang melewati jalur mudik tidak diatur dengan baik, akan terjadi kemacetan yang parah.
Kementerian Perhubungan dan kepolisian yang mempunyai kewenangan mengelola arus lalu lintas. Kuncinya adalah berkoordinasi mengantisipasi kemacetan. Tindakan pencegahan dari kepolisian dengan menyiagakan personel di titik rawan kemacetan. Jika pemudik tidak mematuhi peraturan, petugas pun tidak segan-segan menerbitkan surat tilang atau denda.
Terhadap pernyataan Menhub Ignasius Jonan yang meninggal dunia sebanyak 12 orang karena penyakit yang diidap sebelum mudik di Tol Brebes, anggota Komisi V DPR, Yudi Widiana, menyayangkan tudingan itu. “Komunikasi harus ditingkatkan. Jangan saling menyalahkan. Sudah jelas komandonya di tangan Menhub,” kata Yudi.
Sebagai pembantu presiden, Menhub Jonan sebagai komandan tim arus mudik harus lebih cermat. Apalagi, dia dibantu juga Basarnas, BMKG, Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri, dan perusahaan moda angkutan agar mengelola mudik berjalan lancar dan transparan.
Harusnya, ketika ngumpul bareng di Posko Pantau Lebaran Kemenhub, mereka dengan mudah melakukan koordinasi menyelesaikan semua persoalan kemacetan. Bangsa ini perlu melakukan evaluasi secara serius, macet arus mudik selalu berulang. Tim regulasi, infrastruktur, kesehatan melakukan evaluasi total sehingga tahun depan tidak terulang lagi.
***
Penurunan angka kecelakaan arus mudik tahun ini, aparat patut mendapat penghargaan dari bos. Pemudik juga mengapresiasi kinerja aparat karena mudik ke kampung halaman dengan beragam cara itu bisa berjalan lancar. Menurut Jonan, masyarakat lebih banyak menggunakan angkutan udara. Pengguna angkutan udara meningkat 7,62%, sementara angkutan umum darat menurun 7,8%.
Ini fenomena tersendiri karena meningkatnya daya beli rakyat terhadap angkutan udara. Luar biasa hebat perbaikan perekonomian bangsa. Data Kemenhub untuk jalur darat, terungkap persentase korban kecelakaan terjadi penurunan sebesar 21% dibanding periode yang sama pada tahun lalu. Angka penurunan yang fantastis itu terhitung hari keenam sebelum Lebaran hingga hari pertama Idulfitri, Rabu (6/7).
Menurunnya penumpang transportasi darat banyak disebabkan belum optimalnya pelayanan dan jaminan keamanan bus antarkota antarprovinsi (AKAP). Masih banyak ditemukan hasil tes urine awak yang mengonsumsi narkoba dan banyak bus tak laik jalan. Mereka pun harus memperbaiki diri sehingga peminat angkutan umum bisa meningkat tahun depan.
Tentang keamanan, Polda Lampung dan Korem Garuda Hitam melipatkan dua kali kekuatan personel agar Lebaran 2016 berjalan aman. Kapolda Brigjen Ike Edwin menjamin pemudik dari berbagai provinsi di Sumatera—melalui Bumi Lampung—merasa nyaman. Bentuk pengamanan itu dengan disebarnya puluhan penembak jitu (sniper) dari Satuan Brimob.
Terminal Rajabasa sebagai ikon Kota Seribu Tapis tak luput dari perbaikan pelayanan untuk pemudik. Gubernur Lampung Ridho Ficardo menjamin keamanan arus mudik dan balik. Saat meninjau terminal sebelum Idulfitri, Ridho mengisahkan pengalamannya ketika masa SMA Alkautsar (yang terletak di belakang Terminal Rajabasa). Teman-teman kelasnya melihat langsung aksi kriminalitas, bahkan menemukan mayat. Seram sekali Terminal Rajabasa saat itu.
Kesungguhan mengupayakan mudik nyaman dan aman itu ditunjukkan dengan sangat serius. Kendati perbaikan infrastruktur belum sempurna termasuk di Lampung. Setidaknya, lampu penerangan jalan serta perbaikan ruas jalan yang dilalui pemudik tak berlubang lagi seperti bulan yang lalu.
Kepiawaian dibarengi kecerdasan emosional mengelola mudik menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang beradab. Sebab, mudik Lebaran tidak lagi sebagai tradisi pulang kampung, tetapi sebuah industri baru tahunan, melibatkan banyak sumber daya dan energi yang menggerakkan perhelatan akbar—memindahkan uang dari kota ke desa. ***


