ADA kabar baik di awal tahun. Kemiskinan di Tanah Lada ini, turun lebih besar dari angka nasional. Kemiskinan sangat identik dengan kebodohan dan kemelaratan. Hari ini, tidak untuk Lampung! Padahal pada 5—10 tahun lalu, daerah paling ujung selatan Sumatera ini, termiskin kedua di Sumatera setelah Aceh. Kali ini, peringkat itu diperbaiki dengan usaha sekuat tenaga.
Para peneliti menemukan fakta bahwa kemiskinan dapat memengaruhi kerja otak. Khususnya pada tingkat kecerdasan seorang menurun karena tidak punya uang. Artinya, seorang yang belum mapan, tidak memanfaatkan energi berpikir dan sumber daya mentalnya di dalam tubuh.
Dalam serba-terbatas, terkadang orang cenderung menyalahkan kondisi saat ia menemui kegagalan. Contohnya, lingkungan–disalahkan karena tak mendukung ketika ia ingin meraih kesuksesan. Padahal Tuhan memberinya dengan akal untuk mengejar kesuksesan. Ada lagi peringatan dari Tuhan. Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali mereka itu sendiri.
Lampung ingin mengubah nasibnya. Dari provinsi termiskin, kini berubah provinsi yang bermartabat. Dalam lirik lagu Sang Bumi Ruwa Jurai, terlukis bahwa daerah ini sangat kaya raya. Dulu dikenal karena tanaman lada. Kini, Lampung dikenal daerah penyuplai beras terbesar di Indonesia. Belum lagi singkong, kopi juga gula, ternak, serta perikanan laut–lobster dan lainnya.
Kekayaan alam itu harus dikelola dengan baik untuk kemaslahatan rakyat. Banyak program yang dicanangkan Gubernur Lampung Arinal Djunaidi kini berbuah setelah menjabat kepala daerah dua tahun. Jumlah penduduk miskin menurun drastis. Jika pada tahun 2016 penduduk miskin mencapai 14,29%, lalu pada semester I tahun 2021 turun menjadi 12,62%.
Penurunan sebesar 1,67%, atau lebih baik dari nasional untuk periode yang sama. Tingkat pengangguran terbuka pada 2021 juga mengalami penurunan mencapai 4,69%. Indikator lain, Lampung ingin terus berbenah. Adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) provinsi ini terus membaik. Pada 2021 sebesar 69,9 atau meningkat dari 69,69 di 2020. Luar biasa!
Padahal 10—20 tahun lalu, Lampung dikenal daerah penghasil begal. Masih ingat dalam benak ini, jenazah yang dikirim dari Jawa menggunakan mobil jenazah dengan sirene meraung-raung ke Jabung, Lamtim. Pemandangan terjadi setiap hari. Stigma buruk, kental dengan begal dan kerusuhan.
Kriminolog dari Universitas Indonesia (UI) Ferdinand Andi Lolo menilai ada korelasi antara pengangguran dan tingkat kriminalitas. Merujuk hasil penelitian di Amerika Serika, bahwa setiap kenaikan 1% pengangguran, ada kenaikan 2,22% tingkat kriminalitas. Pengangguran tidak bisa berdiri sendiri. Ada faktor lain memicu seseorang melakukan kejahatan.
Dan jika direnungkan–selama dua tahun ini–Lampung dikepung virus corona. Sumatera Selatan dan Ibu Kota Jakarta adalah daerah pertama kali berstatus merah karena terpapar virus mematikan. Pandemi Covid-19 telah menguji ketangguhan Arinal Djunaidi dalam meredam wabah. Membangun kekompakan dan sinergi antarlembaga, akhirnya badai itu berlalu.
Pandemi Covid-19 menumbuhkan pengangguran. Untuk memutus rantai kemiskinan, selama dua tahun ini, Lampung berhasil merajut ekonomi kerakyatan. Ternyata pertumbuhan ekonomi Lampung pada semester I tahun 2021 tumbuh positif, jika dibandingkan dengan 2020 yang tumbuh negatif sebesar -1,67%.
Pertumbuhan ekonomi pada triwulan II mencapai kondisi tertinggi sebesar 6,69% di atas capaian nasional. Keberhasilan ini tidak membuat jumawa Lampung sebagai daerah terbuka dari akses darat, laut, dan udara. Tekad yang harus dikobarkan adalah mempertahankan, bahkan meningkatkan keberhasilan. Semuanya bermuara untuk rakyat. Investor akan bertambah yakin untuk menginvestasikan hartanya di Lampung.
***
Dengan bejibunnya investasi dan kemudahan birokrasi, investor akan berduyun-duyun ke Bumi Ruwa Jurai. Lampung menjadi magnet bagi investor. Kaya sumber daya alam. Lampung juga menjadi daya tarik warga untuk menghabiskan waktu liburnya. Buktinya, setiap sabtu dan minggu hotel dan tempat wisata dipadati warga dari luar Lampung.
Bagaimana potensi pertanian? Lampung pun meraih penghargaan dari Kementerian Pertanian karena berhasil meningkat produksi gabah di tengah pandemi Covid-19. Lampung duduk di peringkat pertama Kategori Provinsi dengan Peningkatan Produksi Padi Tertinggi tahun 2019—2020.
Pandemi tidak menyurutkan Lampung membangun pertanian. Pada 2020, produksi gabah kering giling (GKG) mencapai 2,65 juta ton atau meningkat 22,47%. Berkembangnya sektor pertanian sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Ini sebuah cita-cita luhur Arinal Djunaidi sebagai alumnus sarjana pertanian. Lampung menjadi penopang pangan Ibu Kota.
Pada tahun 2022 ini, ekonomi pertanian kembali menjadi prioritas. Yang jelas, pembangunan ekonomi pangan memerlukan perubahan teknologi, yang mampu meningkatkan efisiensi berbasis digital. Dua tahun terakhir, Lampung mengumandangkan Kartu Petani Berjaya (KPB). Hari ini sudah mulai dirasakan manfaatnya oleh petani.
Lalu, apalagi yang harus dilakukan Lampung untuk meningkatkan hidup layak warganya? Bumi Ruwa Jurai ini memetakan klaster pembangunan di 15 kabupaten dan kota. Sehingga tersebar merata keunggulan daerah guna menopang kekuatan baik pertanian, perikanan, maupun peternakan.
Potensi terus digali sehingga membuahkan hasil hari ini. Harus didukung pula infrastruktur baik jalan serta kemudahan transportasi. Lampung menjadi daerah terbuka karena dilintasinya jalan tol Sumatera. Bahkan, Gubernur bersama swasta juga badan usaha milik negara–ingin membangun akses cepat di Pelabuhan Panjang. Pelabuhan internasional berorientasi ekspor.
Berharap Lampung menuju kejayaan seperti di era lada. Syaratnya, memacu pengembangan sumber daya manusia. Lampung memiliki banyak perguruan tinggi, seperti politeknik pertanian, politeknik kesehatan, Institut Teknologi Sumatera. Semua ada di sini guna mencetak manusia cerdas dan terampil. Menguatkannya, Gubernur pun membangun jaringan.
Jaringan itu mulai dilakukan dari perdesaan dalam dua tahun terakhir. Sehingga pada 2021, Lampung mengantongi penghargaan sebagai juara umum Teknologi Tepat Guna Nasional (TTGN). Dan masa depan, Lampung dihadapkan dengan persaingan di era digital di berbagai bidang strategis. Semuanya dibangun serentak, bersinergi di seluruh sektor kehidupan, agar Sang Bumi Ruwa Jurai kian digjaya (digdaya). Modal sosial itu sudah ada sejak dulu. ***



