DALAM hitungan menit, Rabu pagi itu (9/3), bulan menutupi sinar matahari di sebagian belahan bumi Indonesia. Fenomena alam yang jarang terjadi itu—gerhana matahari total, membuat takjub. Ada yang bersukacita melihatnya. Ada yang tertegun berdecak kagum. Ada pula yang diam mensyukuri dapat menyaksikan kejadian langka itu. Ada juga yang tidak mau tahu alias bebal. Pertemuan di satu titik dari dua benda angkasa itu membuat alam raya ini menjadi redup dan gelap gulita seketika di waktu pagi hari.
Hewan saja yang tidak punya akal melihat dan merasakan peristiwa alam itu banyak berubah dalam waktu sekejab. Charlotte Vermeulen, pakar biologi di Artis Zoo, Amsterdam, Belanda, mengatakan capung bersembunyi, semut kembali ke sarang, domba kembali ke kandang. Pakar itu meneliti hewan saat gerhana matahari 98% terjadi di Amsterdam pada Agustus 1999. Perilaku itu juga terjadi di sejumlah kota di negeri ini saat gerhana matahari total, kemarin.
Banyak hal yang menarik saat terjadi gerhana matahari pagi itu. Karena gelap, orang bisa menyaksikan bintang dan merasakan penurunan suhu. Bagi hewan yang berkeliaran di waktu gelap, mengira itu malam hari. Dan hewan pun tiba-tiba terhenyak diam. Suara jangkrik, burung hantu menggantikannya. Suara kokok ayam bersahut-sahutan. Andaikan yang menggerakkan bulan dan bumi menghentikan perputarannya saat itu, kiamatlah yang akan terjadi.
Subhanallah, Mahasuci Allah dengan kekuatan mahadahsyat. Fenomena alam itu sudah berlalu. Manusia awam bertanya, kok kejadian waktu gelap—akibat gerhana matahari datang dari timur? Lalu kawasan yang pertama kali disinggahi gerhana itu mulai dari Indonesia barat hingga Indonesia timur. Sementara dimulainya hitungan pergantian waktu, penanggalan dimulai dari timur? Contoh pergantian akhir tahun dirayakan oleh Papua lebih dulu, menyusul Sulawesi, baru Jakarta. Patut direnungkan!
Atas pertanyaan kritis itu, dijawab dengan keimanan dan ilmu pengetahuan. Perjalanan matahari ini juga telah telah dijelaskan dalam Alquran 1400 tahun lalu sebagaimana firman Allah swt. “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya untuk masa yang telah ditentukan baginya. Itulah ketetapan dari Yang Mahakuasa lagi Maha Mengetahui. Dan bulan telah Kami tetapkan manzilah-manzilah, sehingga kembali sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin matahari menyusul bulan dan tidak mungkin malam mendahului siang karena semua beredar pada garis orbitnya.” (QS Yasin: 38—40).
Dalam banyak literatur dan hasil penelitian; perjalanan matahari mengelilingi pusat Galaksi Bimasakti (blackhole) itu baru diketahui ilmuwan modern pada akhir abad ke-20. Tapi, Nabi Muhammad saw sudah menyampaikannya ribuan tahun lalu. Bulan berputar pada poros mengelilingi bumi. Bumi pun bersama bulan mengelilingi matahari yang berlawanan arah jarum jam.
***
Seperti halnya orang yang melakukan tawaf. Tawaf adalah berjalan sambil memuji Allah berputar mengelilingi Kakbah. Dimulai dari sudut batu hitam, Hajar Aswad, dan berakhir di sudut yang sama. Membentuk pola lingkaran 360 derajat, yang bergerak melawan arah jarum jam juga (seperti perputaran bumi dan bulan mengelilingi matahari), pada poros di satu titik.
Manusia beribadah di Mekah, tawaf mengelilingi Kakbah. Bulan juga bertawaf mengelilingi bumi yang mengakibatkan terjadinya pergantian bulan. Ketika manusia bertawaf mengelilingi Kakbah tujuh kali, bumi juga bertawaf mengelilingi matahari yang mengakibatkan terjadinya pergantian tahun. Bumi bertawaf dengan kecepatan yang luar biasa. Sungguh menakjubkan.
Kejadian gerhana matahari total pada Rabu lalu, sejumlah peneliti baru memulai pekerjaan penting untuk mengungkap dampak rahasia peristiwa langka itu. Adalah C Alex Young, pakar matahari Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) kepada space.com, peneliti bekerja keras untuk mengungkap dampak dari tertutupnya matahari oleh bulan selama sekitar 2—3 menit.
Menurut Young, peneliti NASA memasang peralatan di jalur gerhana matahari untuk mengungkap atmosfer luar matahari, yang disebut korona. Korona ini normalnya sekitar 1 juta kali lebih gelap dari sang surya. “Bagian dari atmosfer matahari ini sangat penting karena di sinilah semua kejadian berlangsung,” ujar Young. Seperti tingkah laku hewan menghadapi gerhana matahari di Negeri Kincir Angin di atas.
Peristiwa langkah itu, peneliti melakukan riset untuk membuktikan teorinya. Sebagian dari manusia lagi menggelar salat gerhana dua rakaat ditutup dengan khotbah. Dalam waktu bersamaan, umat Hindu sedang memperingati Hari Nyepi Tahun Baru Saka 1938. Luar biasa tanda-tanda kebesaran itu.
Beruntunglah orang-orang yang memanfaat peristwa alam itu dengan kebaikan. Allah berjanji dalam Alquran Surat Al-Mujaadilah Ayat 11, yang artinya; “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
Gerhana matahari total itu suatu ilmu untuk menguji keimanan. Sungguh Tuhan memperlihatkan kekuasaan-Nya. Hanya orang-orang bebal dan buta hati yang tidak mau menerima tanda-tanda kebesaran tersebut. Kebebalan itu juga melanda pemimpin yang tidak mau peduli dengan tuntutan rakyat. Tapi untuk urusan duit rakyat, mereka kuras untuk memenuhi berahi kekuasaannya. ***


