SABTU lalu (14/11) adalah ketiga kalinya kakiku menginjak Pulau Belitung. Pertama pada 1990, sewaktu melaksanakan kuliah kerja nyata (KKN) selama tiga bulan. Lalu pada 1996, menggarap tulisan untuk buku Polda Sumbagsel dari Masa ke Masa. Dan terakhir, pekan kemarin, aku mengikuti rombongan kontingen Lampung dalam ajang Pekan Olahraga Wilayah (Porwil) IX se-Sumatera di Tanjungpandan.
Banyak hal yang membuka memoriku mengenang 26 tahun silam. Pulau penghasil timah dan lada itu berubah total. Dulu pulau nan sepi. Kini di sepanjang jalan Kota Tanjungpandan banyak berdiri hotel bertingkat, bangunan ruko, pusat belanja. Pulau Belitung banyak menyimpan sejarah untuk negeri ini. Timahnya dikeruk untuk memakmurkan bangsa penjajah.
Pertama kali aku ke Belitung, saat harga timah dunia anjlok, perekonomian menjadi terpuruk. Bekas bangunan Perusahaan Negara (PN) Timah berdiri hampir di seluruh penjuru pulau itu, banyak yang terbengkalai. Kata Kepala Desa (Kades) Paal Satu Ali Timen (Alm) waktu itu, masyarakat banyak menggantungkan hidup dari pertambangan. Ketika timah jatuh, kehidupan menjadi sepi dan mati. Hanya pegawai negeri, nelayan, petani yang mampu bertahan hidup. Sungguh menyedihkan!
Saat harga timah moncer, kawan satu kampus yang ingin pulang kampung ke Belitung dari Palembang, pastilah naik pesawat pulang dan pergi. Ketika harga timah terperosok, jangankan membayar ongkos naik pesawat, naik kapal feri pun sudah tidak sanggup lagi. Kawanku itu lebih memilih berhemat untuk tidak pulang kampung sampai kuliah selesai.
Dalam banyak literatur, Belitung terkenal dengan lada putih yang dikenal dalam bahasa ibu disebut sahang. Lalu pulau itu juga menyimpan timah putih, pasir kuarsa, kaolin atau tanah liat putih, serta granit. Pencinta batu akik, wisatawan dapat memburu batu satam di sejumlah pusat oleh-oleh di Belitung. Satam adalah batu meteor yang tersimpan di perut bumi Laskar Pelangi dalam gumpalan timah.
Belitung atau Belitong, diambil dari nama sejenis siput laut. Dulunya Billiton, sebuah pulau yang diapit Selat Karimata dan Selat Gaspar. Secara turun-temurun, termasuk Kadesku—tempat KKN, mengisahkan bahwa Belitong berasal dari cerita rakyat Pulau Bali yang Terpotong. Makanya disebut Belitong. Yang jelas, sebelum reformasi 1998, Belitung masih dalam genggaman Provinsi Sumatera Selatan sebagai kabupaten.
***
Belitung melepaskan diri dari Sumatera Selatan dan membentuk provinsi baru bersama Bangka pada 21 November 2000. Di bawah bendera Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Belitung mulai menggeliat dan berkembang. Desakan rakyat ingin maju dan meratakan pembangunan, kabupaten itu pun dimekarkan menjadi dua, yakni Kabupaten Belitung dengan ibu kota Tanjungpandan dan Kabupaten Belitung Timur beribu kota di Manggar.
Sebagai ketua kabupaten KKN, aku berkesempatan mengelilingi pulau timah dengan sepeda motor yang ditemani seorang pegawai Kantor Departemen Agama (Kandepag) Belitung. Hanya Kecamatan Selat Nasik yang tidak kukunjungi. Kecamatan itu terpisah dengan Belitung. Butuh waktu satu jam ke pulau itu. Selama tiga bulan KKN, banyak yang kuperoleh, kualami, bahkan kubanggakan dalam hidupku.
Tak sejengkal pun aku takut dengan ilmu hitam—teluh, kata orang. Aku berdoa, semoga program KKN dapat bermanfaat bagi masyarakat. Aku selalu berpikir positif dengan energi positif untuk melaksanakan satu per satu program KKN. Puluhan tahun lalu, Belitung berstatus “daerah hitam” karena masyarakatnya minim ilmu agama. Makanya kampusku menempatkan kami untuk KKN di Belitung. Hasilnya? Alhamdulillah, anak-anak dan orang tua bisa mengenal agama secara utuh.
Tanah kelahiran tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI) DN Aidit itu menyimpan warisan sejarah membanggakan. Di Tanjungpandan saja, terdapat Museum Belitung yang memiliki koleksi sejarah lengkap pulau tersebut. Ada lagi Museum Kerajaan Badau, kerajaan yang pertama menyebarkan Islam di Belitung. Lalu ada kuil milik umat Buddha yang berdiri pada abad ke-18. Wihara Dewi Kwan Im itu berada di puncak bukit Desa Burung Mandi, Manggar.
Banyak waktu dan tempat yang kujelajahi 26 tahun silam di pulau itu. Pemandangan yang paling membuat takjub pengunjung adalah formasi batuan granit besar yang menyebar di sepanjang pantai, mulai dari Tanjung Pendam, Tanjung Kelayang, dan Tanjung Tinggi. Di situ, terlihat banyak batu raksasa berdiam—menunggu gempuran ombak. Apalagi hamparan pasir putih—memancar di tengah teriknya matahari, membuat kilauan yang indah membedakan birunya air laut dengan bibir pantai. ***


