PERINGATAN dua hari besar di penghujung tahun ini sungguh spesial. Kedewasaan dalam toleransi umat beragama di negeri ini lagi diuji. Karena tanggal 24 Desember bertepatan 12 Rabiul Awal 1437 Hijrah adalah kelahiran Nabi Muhammad saw. Sedangkan sehari setelahnya, 25 Desember, umat Kristiani merayakan Natal, suatu peristiwa penting, Yesus Kristus dilahirkan.
Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) KH Abdurrahman Wahid yang juga mantan presiden RI menulis artikel di Suara Pembaruan pada 20 Desember 2003 bertajuk Harlah, Natal, dan Maulid. Dalam tulisannya, Gus Dur mengatakan kata Natal artinya sama dengan harlah atau hari kelahiran. Itu hanya dipakai Nabi Isa Almasih.
Maksud istilah Natal adalah saat Nabi Isa dilahirkan ke dunia dari rahim seorang ibu bernama Maryam. Maryam tak mempunyai suami, layaknya seorang manusia dilahirkan ke dunia memiliki ayah dan ibu. Bahwa kemudian Isa ditasbihkan sebagai Anak Tuhan oleh umat Kristiani adalah masalah lain lagi. Jadi Natal itu, kata Gus Dur, memiliki arti khusus, yakni kelahiran anak manusia bernama Yesus Kristus untuk menebus dosa.
Sedangkan maulid adalah saat kelahiran Nabi saw. Maulid sendiri dirayakan pertama kali atas perintah Sultan Shalahuddin al-Ayyubi. Saladin, dunia Barat mengenal namanya memerintahkan peringatan itu dirayakan enam abad setelah Rasulullah wafat.
Titah Saladin agar umat Islam memperingati maulid saat itu untuk mengobarkan semangat jihad pejuang muslim agar menang dalam Perang Salib. Sepertinya hari kelahiran itu harus dirayakan dalam bentuk berbeda, atau dalam hal yang sama. Yang jelas tujuannya berbeda pula. Perbedaan itu pun tak perlu dipersoalkan. Inilah bentuk dan indahnya keberagaman.
Lihat Kota Jerusalem. Penduduk di kota yang berarti damai bagi tiga agama (Islam, Kristen, Yahudi) itu tidak henti-hentinya menumpahkan darah. Mereka berebut tempat suci dari tanah sejengkal. Di situ terdapat Masjidil Aqsa (tempat mikraj Nabi Muhammad saw), Bukit Golgota (tempat Yesus disalib), dan Tembok Ratapan (tempat suci umat Yahudi). Ketiganya berada dalam satu kawasan bernama Jerusalem.
***
Kota peninggalan Nabi Daud dan Nabi Sulaiman itu menjadi indah ketika penduduknya saling menghormati antarumat beragama. Yahudi tidaklah patut dijadikan teladan. Bagaimana upayanya, Zionis Israel itu selalu menghancurkan Masjidil Aqsa. Karena, menurut Yahudi, di bawah tempat ibadah umat Islam itu ada kuil peninggalan Sulaiman—tempat suci Yahudi. Kedengkian, dendam kesumat tak berkesudahan di Kota Damai tersebut.
Bagaimana dengan Indonesia? Negeriku penuh kedamaian. Dua agama tidak mengajarkan umatnya saling membunuh. Perayaan dua hari besar, Maulid dan Natal yang tak disengaja berdekatan itu, tujuan yang tersirat hanya satu, yakni cinta kedamaian. Nusantara ini tercabik-cabik jika berkumandang sikap intoleransi.
Sering toleransi dan keberagaman di negeri ini tercoreng. Peristiwa berdarah yang masih ingat di benak kita tahun ini adalah pembakaran tempat ibadah di Papua dan Aceh. Ketua Pengurus Besar NU Said Aqil Siradj mengatakan umat Islam dan Nasrani harus mengembangkan sikap toleran. “Tunjukkan toleransi beragama di Indonesia lebih baik ketimbang negara lain,” katanya.
Ucapan Said Aqil itu diwujudkan oleh anggota Banser NU yang menjaga gereja pada malam Natal bersama aparat keamanan. Di Lampung, Banser NU ditemui di sejumlah gereja, kemarin. Begitu pun Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti mendorong kehidupan toleransi dengan membangun sikap terbuka, menghormati, dan bekerja sama dalam bentuk konstruktif dan produktif.
Kerusuhan agama di Papua dan Aceh tak perlu terjadi jika kelompok mayoritas di kedua daerah itu memberikan kesempatan umat minoritas beribadah. Yang mayoritas melindungi minoritas. Yang mayoritas juga yang minoritas tak sepatutnya memaksakan kehendak mengikuti ajaran agamanya. Termasuk mendirikan rumah ibadah dengan sesuka hati.
Momen perayaan maulid yang berdekatan dengan Natal kemarin, menjadi peristiwa terindah di negeri ini, juga Lampung. Perayaan berselang sehari itu mengajarkan kepada anak bangsa untuk saling menghargai, menghormati antarumat beragama. Dua agama untuk satu cinta, namanya kedamaian untuk negeriku. ***


