DUA guru besar perguruan tinggi negeri (PTN) terkemuka di Lampung berucap calon kepala daerah yang tidak propendidikan jangan berharap bisa menang dalam pemilukada serentak pada Rabu (9/12) lalu. Nyata iya. Mereka yang serius memperhatikan dan mengawal pendidikan untuk kecerdasan anak bangsa pasti mendapat dukungan penuh dari rakyat.
Adalah Profesor Moh Mukri, rektor IAIN Raden Intan Lampung, dan Profesor Sudjarwo, direktur Pascasarjana Universitas Lampung (Unila). “Jangan berharap calon kepala daerah bisa menang kalau selama ia memimpin rakyatnya tidak peduli dengan dunia pendidikan. Apalagi memperlambat pencairan dana tunjangan kompetensi guru,” kata Mukri.
Mukri menyampaikan pandangannya itu di hadapan peserta Seminar Nasional Pendidikan Lampung Bermartabat yang digelar mahasiswa program Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Pascasarjana Doktor (S3) IAIN Raden Intan Lampung di Hotel Horison, Bandar Lampung, Kamis (10/12). Entah itu hasil penelitian atau pengamatannya, Mukri menyampaikan bahwa pendidikan adalah kebutuhan yang sangat mendesak bagi rakyat.
Sudjarwo menyampaikan hal yang sama. Dengan pendidikanlah anak bangsa menjadi cerdas. Negara ini akan sederajat dengan bangsa-bangsa maju lainnya jika pendidikannya maju dan pesat. Dengan guyonan yang khas itu, Sudjarwo mengingatkan negeri ini.
Pada 30 tahun lalu, anak bangsa cukup menyelesaikan pendidikan di SMA. Tapi, sekarang ini SMA tak cukup. Tamatan S-1 sekarang tak ubahnya lulusan SMA 30 tahun lalu. “Kampanye anggaran pendidikan 20 persen dari belanja, saatnya pemerintah membenahi agar pendidikan makin berkualitas,” kata dia.
Membangun pendidikan bermartabat harus didasarkan pada niat, motivasi, serta visi yang berbasis pada kesadaran diri dan lingkungan. Tapi, itu tidak cukup. Perlu tangan dingin dari pemimpin untuk menggerakkan mesin pendidikan agar daerah ini benar-benar memanusiakan manusia. Jadi wajar, calon kepala daerah yang propendidikan menjadi dambaan rakyat.
Seperti Herman HN, calon wali kota Bandar Lampung, membebaskan masyarakatnya dari kebodohan. Menang telak dalam perhelatan pesta rakyat pada Rabu (9/12). Dengan program Bina Lingkungan membawa Herman melesat mengungguli pesaingnya. Dia mengantongi 86,65 persen suara. Terlepas adanya kekurangan dari program unggulannya itu, rakyat butuh pendidikan gratis.
***
Pendidikan adalah kebutuhan nomor wahid di Lampung. Maka itu, Gubernur Lampung M Ridho Ficardo memproyeksikan pada 2016 membangun perpustakaan termegah di negeri ini. Tak tanggung-tanggung, pemimpin muda itu menyediakan Rp100 miliar untuk membangun gedung ilmu multimedia. “Dana Rp70 miliar untuk pembangunan, sisanya untuk isinya mulai dari buku, jurnal, dan lainnya,” kata Ridho yang diminta sebagai pembicara utama dalam Seminar Nasional Pendidikan Lampung Bermartabat.
Mewujudkan keinginan agar rakyatnya menjadi pintar dan cerdas, Ridho melobi Rektor IAIN Raden Intan agar menyediakan lahannya. Perpustakaan megah itu—tempat berkumpul cendikiawan. Desain gedung yang menarik, termasuk ada kafe dan fasilitas lainnya, sehingga anak-anak muda Lampung akan meningkat minat bacanya. Program yang amat mulia!
“Saya tidak rela Lampung maju, tapi anak-anak Lampung terpinggirkan karena yang mengambil peran orang-orang luar. Salah satu fondasi agar hal ini tidak terjadi adalah pendidikan,” ujarnya. Dia mencontohkan Singapura dan Jakarta. Negara Singapura sangat maju, tapi sebagian besar rakyatnya hanya menjadi pekerja kelas bawah. Begitu pun juga Jakarta. Masyarakat Betawi jadi terpinggirkan.
Harapan rakyat Lampung untuk memajukan pendidikan bermartabat haruslah didukung calon kepala daerah yang menang dalam pemilukada lalu. Selain Herman, Agus Istiqlal (Pesisir barat), Mustafa (Lampung Tengah), Dendi Ramadhona (Pesawaran), Zainuddin Hasan (Lampung Selatan), Ahmad Pairin (Metro), Chusnunia (Lampung Timur), dan Raden Adipati Surya (Way Kanan) harus memprogramkan lebih masif lagi pendidikan untuk anak bangsa. Rakyat menunggu itu.
Kepala derah yang terpilih belajarlah dari Umar bin Abdul Aziz yang menangis ketika rakyat memilihnya menjadi khalifah Dinasti Umayah. Tak ada kesombongan dalam raut muka Umar. Dia dipilih karena rakyat membutuhkan tenaga dan pikirannya. Jabatan adalah amanah. Sungguh berat ketika pemimpin menjadi zalim. Apalagi haus karena dahaga harta sehingga uang rakyat pun dikuras untuk memenuhi hajat pribadinya.
Ketika Allah menawarkan amanah kepada langit, bumi, serta bukit dan gunung-gunung, semuanya menolak untuk memikul amanah itu. Hanya manusialah yang sanggup memikulnya. Manusia diberikan akal dan pikiran untuk membawa negeri ini lebih baik lagi. Jabatan dan kekuasaan akan berakhir dengan pertanggungjawaban. Jadilah pemimpin yang amanah, tidak mencari popularitas dan pencitraan untuk melanggengkan jabatan. Penyesalan itu akan datang di akhir dari sebuah peristiwa yang sangat melukai hati anak bangsa. ***


