• Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
Kamis, September 17, 2026
Bung Is
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
No Result
View All Result
Bung Is
No Result
View All Result

Syahwat Mudik

Juli 12, 2015
in Refleksi
Lilin Kecil

ArtikelTerkait

Corona Belum Musnah!

Berkalang Limbah

Share Postingan ini :

SABTU (11/7), aku ditelepon oleh suara yang parau dan sudah rentah. Dia mengucapkan salam lalu bertanya, “Idulfitri nanti di mana? Pulang melihat ibu atau ke rumah bapak (mertua, red), atau tetap di Lampung.” Itulah ibuku, selalu mengingatkan anaknya, di hari baik bulan baik nanti, mau Lebaran di mana? Pertanyaan itulah yang membuat galau hatiku.
“Ibu, aku pulang kampungnya setelah salat id,” jawabku. Memang jauh hari sebelumnya, aku sudah berencana mau pulang kampung. Tapi, Lebaran kali ini, mudiknya usai salat id. Biasanya pulang ke kampung menjelang dua atau sehari Hari Raya. Entah mengapa, untuk kali ini aku ingin berlebaran di Lampung.
Memang mengunjungi keluarga menjadi suatu keharusan jika ada waktu dan kesempatan. Apalagi dalam suasana Lebaran. Mudik untuk pulang kampung memiliki makna tersirat dan dalam. Dalam konteks kepentingan umat Islam, dan negeri ini sebagian besar penduduknya beragama Islam. Tentu, mudik setahun sekali itu—untuk merekatkan kembali silaturahmi yang terputus.
Nabi sendiri mengingatkan seorang muslim ditambah rezeki dan dipanjangkan usianya karena silaturahmi. Mudik juga bermakna kembali ke keluarga adalah silaturahmi untuk mengetahui akan asal usul, dari mana datang dan mau ke mana perginya.
Suara ibuku untuk mengajak pulang ke kampung tadi, adalah setumpuk harapan untuk memupuk ketenteraman, kasih sayang, dan cinta kasih yang diberikannya selama ini. Mudik adalah momentum berbakti pada orang tua setelah sepanjang tahun sibuk dengan urusan dunia—mencari uang.
Setelah bergelut dengan hiruk pikuk kehidupan kota yang sangat keras, perlu suatu hari manusia untuk berjumpa dengan keluarga. Ingin sungkem kepada orang tua, bertegur sapa dan berbagi rasa dengan adik kakak. Itu menjadi sebuah kenikmatan tersendiri untuk memperbaiki—mengevaluasi diri. Rasa kebersamaan itu, saat ini tergerus seiring makin ketatnya kompetisi dan ego manusia.
***
Melalui mudiklah, manusia diingatkan kembali kepada awal kejadian. Di mana ia keluar untuk pertama kalinya. Keluar dari rahim, menangis—membuat dunia makin ramai. Dengan mudiki—pulang kampung itu—paling tidak bisa merenung, saat berada dalam rahim—kandungan ibu. Ibu memberikan kasih sayang kepada anaknya seperti halnya Allah—Ya Rahim memberikan kasih sayang kepada umat manusia.
Bagi Jalaluddin Rakhmat, mudik Lebaran adalah sebuah perjalanan melintasi waktu. Di saat mudik itulah akan terasa wujud sebagai manusia modern, manusia serbakhilaf. Manusia yang kehilangan rasa kemanusiaannya. Tidak ada lagi ruang kasih sayang, yang ada hanya emosi, geram, dongkol sehingga muncul perangai kasar—mementingkan diri sendiri. Kehidupan itu banyak dijumpai di kota besar.
Mudik menjadi ajang melepas rindu yang mengarah kepada nilai-nilai primordialisme. Dengan begitu, mudik tidaklah diidentikkan dengan keberhasilan orang—setelah bertahun-tahun merantau. Menurut Emha Ainun Najib, mudik sebagai upaya memenuhi tuntutan sukma untuk bertemu dan berakrab-akrab dengan asal-usulnya.
Belakangan, tradisi mudik ritual tahunan itu dibarengi budaya konsumtif. Mudik tak lagi bermakna seperti berbagi rezeki, menyambung silaturahmi, mengakhiri permusuhan, dan permohonan anak kepada orang tua. Yang ada, mudik—hanyalah budaya pamer. Kalau ingin pulang ke kampung harus membawa sesuatu yang baru. Itulah mudik sekarang ini. Maknanya sudah tergerus dengan kehidupan manusia modern tadi.
Di balik itu pula, mudik selalu dihantui kehilangan nyawa. Ada kesan, mudik hanya ingin setor nyawa, mudik hanya arisan—mengundi nasib di jalan raya. Memang, mesin pembunuh nomor satu di negeri ini adalah kecelakaan lalu lintas. Terkadang dana untuk perbaikan infrastruktur, moda kendaraan publik lebih kecil dibandingkan anggaran dana memerangi teroris, juga dana kepentingan parlemen.
Angka kematian itu naik tajam di saat mudik Lebaran, saat ini. Itulah momentum anak bangsa menyetorkan nyawanya di jalan raya. Untungnya dalam Operasi Ketupat tahun lalu, polisi di negeri ini mencatat jumlah kecelakaan lalu lintas dalam arus mudik dan balik Lebaran 2014 mencapai 3.057 kasus. Dibanding tahun lalu, jumlahnya mengalami penurunan mencapai 3.675 kasus atau berkurang 17%.
***
Dari kasus kecelakaan secara nasional itu, tercatat 515 orang meninggal, 757 menderita luka berat, dan 2.859 menderita luka ringan. Di Lampung, korban tewas selama arus mudik dan balik Lebaran 2014 sebanyak 16 orang. Pada tahun sebelumnya, korban tewas 25 orang. Ini bertanda manajemen mudiknya membaik. Kecelakaan lalu lintas disebabkan kelalaian manusia, kondisi jalan, kelaikan kendaraan, dan belum optimalnya penegakan hukum lalu lintas.
Kelalaian manusia adalah faktor utama penyebab tingginya angka kecelakaan lalu lintas. Oleh karena itu, diperlukan kampanye kesadaran berlalu lintas yang baik bagi masyarakat. Kampanye itu harus makin gencar dilakukan saat mudik juga arus balik nanti.
Negeri ini jangan menjadikan mudik sebagai bencana tahunan yang terus berulang—untuk merenggut nyawa manusia. Dari angka kecelakaan pada arus mudik dan balik Lebaran 2014, manajemen mudik terus diperbaiki. Bangsa ini berharap pada 2015 ini, angka kematian itu turun lagi. Sekali lagi, mudik bukanlah untuk setor nyawa.
Kalau angka kecelakaan itu menjadi naik, dipastikan ada yang salah. Mudiknya bukan lagi sukma melepas kerinduan kampung halaman, melainkan mudik ala manusia modern, kesombongan, berahi nafsu pamer, serta emosi. Saatnya merenung. Janganlah manusia modern seperti kata Jalaluddin Rakhmat tadi, penyebab utama kematian di jalan. Jadikanlah mudik sebagai agenda ritual lebih bermakna membangun silaturahmi. Mudik dalam suasana sukacita, bukan untuk mengumbar pesta dan pamer di jalan raya, dan bersenang-senang.
Negeri ini harus membendung pola silaturahmi yang kini sudah bergeser, mengubah gaya hidup seseorang. Suasana Lebaran—yang tadinya untuk mempererat silaturahmi, kini manusia sibuk pergi ke tempat wisata, pusat hiburan. Suasana itu mendorong manusia berpisah dari agama dan kehidupan bersilaturahmi. Inilah syahwat dunia, kalah hanya pada bulan puasa. ***

 

Share Postingan ini :
Previous Post

Alutsista Heboh

Next Post

Kompromi Madinah

Artikel Terkait

Lilin Kecil
Refleksi

Corona Belum Musnah!

Lilin Kecil
Refleksi

Berkalang Limbah

Lilin Kecil
Refleksi

Lampung Mendunia

Lilin Kecil
Refleksi

Bayar Mahal     

Lilin Kecil
Refleksi

Politikus Berakrobat        

Lilin Kecil
Refleksi

Entrepeneur Lokal    

Next Post
Lilin Kecil

Kompromi Madinah

Lilin Kecil

Uji Integritas Unila

Lilin Kecil

Gelang Konvergensi

Lilin Kecil

Feedloter Merah Putih

Lilin Kecil

Visa Baitullah

Artikel Terbaru

Keterangan Ahli Pers Menegakan Wibawa Profesi dan Etika Jurnalistik

Pers sebagai Mitra Strategis dan Penyedia Solusi Konstruktif

Wakabid Pendidikan PWI Pusat Umumkan 31 Wartawan Kompeten UKW PWI Lampung

Buku Transformasi SDM Pendidikan Islam Di Era Globalisasi

Perkuat Fungsi Pers, LPEF Kawal Peningkatan Kualitas SDM

PWI Pusat Tetapkan Marthen Jadi Sekjen, Iskandar sebagai Wakabid Pendidikan

Facebook Twitter Instagram Youtube
Bung Is

Platform Bung Is berperan sebagai repositori media yang menjaga integritas jurnalistik melalui penguatan kompetensi dan etika profesi oleh Dewan Pers juga PWI di era digital. Seluruh konten, termasuk podcast dan opini, menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menghadapi tantangan teknologi serta memajukan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia.

Beranda
Refleksi
Bung Is Menyapa
Nuansa
Opini
Buku & Jurnal
Peraturan
Pedoman
Nota Kesepahaman Pers

Aktivitas
Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist