• Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
Kamis, September 17, 2026
Bung Is
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
No Result
View All Result
Bung Is
No Result
View All Result

Singa Jakarta

November 27, 2016
in Refleksi
Lilin Kecil
Share Postingan ini :

ENERGI bangsa ini benar-benar terkuras hanya untuk urusan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Putra Belitung itu, kini dicaci maki, dihujat karena diduga menistakan Alquran. Atas tekanan massa dan gelombang demo, Ahok menjadi tersangka, dan dia harus berurusan dengan hukum. Keberanian Singa Jakarta itu mampu secara terbuka membongkar praktik korupsi Ibu Kota. Kini, dia tidak mengaum lagi.

Dalam berbagai survei, tadinya elektabilitas Ahok melebihi Agus Harimurti dan Anies Baswedan. Kini melorot di angka 10 persen. Penyebabnya adalah ucapan dari mulut Ahok menyitir Alquran Surah Al Maidah Ayat 51, memicu gejolak massa di mana-mana. Demo yang menggetarkan di Ibu Kota pada 4 November lalu, menuntut Ahok dipenjarakan. Hasilnya? Dia menjadi tersangka dan tidak boleh bepergian ke luar negeri.

Dan demo susulan pada 25 November, kembali Ahok didesak segera ditahan. Seperti inikah penegakan hukum di negara yang beradab? Ada kesan, polisi memaksakan Singa Jakarta itu menjadi tersangka hanya untuk meredam kemarahan massa. Sulit memang memisahkan penegakan hukum untuk Ahok yang disangkakan menistakan agama dengan urusan politik. Ahok digadang-gadang menjadi calon kuat gubernur pada pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak Februari 2017.

ArtikelTerkait

Corona Belum Musnah!

Berkalang Limbah

Hanya karena menistakan agama dalam suasana pilkada di Kepulauan Seribu, September lalu, Ahok dijegal. Bahkan, belakangan beredar video media sosial yang ingin menjatuhkan Presiden Joko Widodo pada demo susulan tanggal 2 Desember nanti. Teridentifikasi, pedemo memaksa berunjuk rasa di depan Istana Negara dan Kompleks Parlemen di Senayan. Dua tempat itu adalah simbol negara, bangsa yang berkedaulatan ini.

Presiden pun menyakinkan di depan tokoh agama, ulama, organisasi kemasyarakatan, pasukan elite dari TNI/Polri, bahwa negara masih utuh menjaga kebhinnekaan dan melindungi rakyatnya. Tak kurang sejumlah pawai kebangsaan, istigasah, serta doa bersama lintas agama digelar dan berkumandang di setiap jengkal tanah di negeri ini.

Kalaupun mau jujur, Ahok tinggal menunggu hidayah—datang dari Allah, Tuhan Yang Mahakuasa. Adalah Ustaz Arifin Ilham bersama anak yatim mendoakan Ahok dalam Doa Bersama di Lapangan Monas, Jakarta, Jumat pekan lalu. “Kami doakan Ahok mendapatkan hidayah-Nya,” kata Ustaz Arifin Ilham yang bersuara khas itu. Sungguh menyejukkan doa seorang muslim. Karena, kata Ilham, Ahok belum paham betapa indahnya iman Islam. Betapa indah dan anggunnya ajaran Islam.

***

Kehadiran Ahok dalam kasus dugaan penistaan agama telah membawa umat Islam bersatu. Akan halnya Umar bin Khattab. Sebelum masuk Islam, Umar sangat keras menentang Nabi Muhammad saw. Bahkan dia mengancam akan membunuh orang yang mengikuti Rasulullah saw. Umar dongkol dengan kegagalan kaum Quraisy untuk membunuh Muhammad. Dia berwatak keras, berani, dan disiplin, juga memiliki kecerdasan. Maka dia dijuluki oleh Nabi saw, Singa Padang Pasir.
Suatu hari Umar berniat membunuh Nabi. Di tengah jalan dia bertemu seorang sahabat bernama Nai’m bin Mas’ud. Ia bertanya kepada Umar, “Hendak ke mana wahai Umar?” Umar lalu menjawab dengan penuh geram, “Aku hendak membunuh Muhammad.” Maksud itu diurungkan Umar setelah ia membaca lembaran-lembaran Surah Taha. Setelah membaca lembaran tersebut, tiba-tiba Umar merasa damai dan tenang.
Umar terhenyak, “Alangkah indahnya kata-kata ini !” Lalu Umar berkata, “Tunjukkan kepadaku di mana Nabi Muhammad berada, aku hendak mengikuti ajarannya.” Serentak kaum muslimin mengucapkan hamdalah. Umar bin Khattab mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan Nabi Muhammad. Tak lama setelah Umar masuk Islam, istrinya Zainab binti Maz’un dan anaknya, Abdullah, mengikuti jejak sang suami dan ayah.
Perjalanan hidup Umar sangat menginspirasi umat manusia. Ahok yang kini di-bully, ternyata sudah dua kali bicara tentang pemimpin Islam dan Nabi Muhammad. Putra kelahiran Bumi Laskar Pelangi itu kerap mengutip—memberi contoh keteladanan Khalifah Umar dan Nabi Muhammad. Itu pernah disampaikan saat Ahok menjamu siswa Jambore Pelajar se-Pulau Jawa 2015 dari Maarif Institute, 21 Desember tahun lalu.
“Kita harus transparan. Ajaran Nabi Muhammad tentang sifat sidik (benar), amanah (bisa dipercaya), tablig (menyampaikan), fatanah (bijaksana). Pemimpin buktikan itu, orang akan lihat kamu,” kata Ahok dikutip detik.com, ia memberi pesan tentang bagaimana sebaiknya seorang pemimpin.

Di depan siswa itu, Ahok menyampaikan dirinya bukan seorang Betawi dan bukan seorang Islam. Tapi tidak mau pura-pura menjadi Betawi atau politik pindah agama. Tapi, Tuhan memberikan amanah untuk menjadi gubernur. “Kan jabatan pemberian Tuhan, kalo kun fayakun mah jadi saja. Ahok itu Islam, tapi belum dapet hidayah karena hidayah milik Allah,” kata dia.
Menolak Ahok menjadi gubernur hanya bisa dilakukan dengan tidak memilihnya pada hari pencoblosan. Biarkan rakyat Jakarta memilih pemimpinnya yang terbaik. Cara itulah yang lebih bermartabat ketimbang memainkan isu agama dan ras untuk membuatnya keok. Ini adalah ujian anak bangsa terhadap kematangan bersikap sebagai negara yang beradab.
Penegak hukum, apakah dia polisi, jaksa, atau hakim, harus bersikap profesional dan transparan saat mengadili seorang Ahok. Di bumi Pancasila ini, siapa pun memiliki hak yang sama—menghirup udara dan menikmati kekayaan alam. Janganlah kekuatan massa mengalahkan hukum, apalagi menjadi bagian dari negosiasi politik merebut kekuasaan. Ingat! Ini akan menjadi preseden buruk. ***

Share Postingan ini :
Previous Post

Kegenitan Media Sosial

Next Post

Asas Tunggal

Artikel Terkait

Lilin Kecil
Refleksi

Corona Belum Musnah!

Lilin Kecil
Refleksi

Berkalang Limbah

Lilin Kecil
Refleksi

Lampung Mendunia

Lilin Kecil
Refleksi

Bayar Mahal     

Lilin Kecil
Refleksi

Politikus Berakrobat        

Lilin Kecil
Refleksi

Entrepeneur Lokal    

Next Post
Lilin Kecil

Asas Tunggal

Lilin Kecil

Bumi Terbelah

Lilin Kecil

Tujuh Tahun Guru Bangsa

Lilin Kecil

Bukan di Kota, Melainkan di Desa

Lilin Kecil

Kain Serban

Artikel Terbaru

Keterangan Ahli Pers Menegakan Wibawa Profesi dan Etika Jurnalistik

Pers sebagai Mitra Strategis dan Penyedia Solusi Konstruktif

Wakabid Pendidikan PWI Pusat Umumkan 31 Wartawan Kompeten UKW PWI Lampung

Buku Transformasi SDM Pendidikan Islam Di Era Globalisasi

Perkuat Fungsi Pers, LPEF Kawal Peningkatan Kualitas SDM

PWI Pusat Tetapkan Marthen Jadi Sekjen, Iskandar sebagai Wakabid Pendidikan

Facebook Twitter Instagram Youtube
Bung Is

Platform Bung Is berperan sebagai repositori media yang menjaga integritas jurnalistik melalui penguatan kompetensi dan etika profesi oleh Dewan Pers juga PWI di era digital. Seluruh konten, termasuk podcast dan opini, menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menghadapi tantangan teknologi serta memajukan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia.

Beranda
Refleksi
Bung Is Menyapa
Nuansa
Opini
Buku & Jurnal
Peraturan
Pedoman
Nota Kesepahaman Pers

Aktivitas
Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist