• Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
Kamis, September 17, 2026
Bung Is
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
No Result
View All Result
Bung Is
No Result
View All Result

Bumi Terbelah

Desember 11, 2016
in Refleksi
Lilin Kecil
Share Postingan ini :

TANAH Rencong kembali terbelah. Menjelang 12 tahun peringatan gempa dan tsunami superhebat di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD), Rabu (7/12), gempa berkekuatan 6,4 pada skala Richter (SR) kembali mengguncang. Tak satu pun kekuatan mampu menahan bencana subuh itu. Yang tersisa hanyalah tangisan pilu. Ratusan korban jiwa berjatuhan, jalan retak, rumah dan gedung rata dengan tanah. Sungguh menyedihkan!

Bencana yang didahului suara dentuman pagi buta itu, tak sehebat gempa yang terjadi di Aceh juga pada Minggu, 26 Desember 2004. Berkekuatan 9,3 SR pada kedalaman 10 km lepas pantai barat Aceh, Bumi Serambi Mekah bergoyang seperti beras dalam ayakan. Tak berapa lama, gelombang besar—tsunami—menyapu bersih kehidupan di pantai kawasan Samudera Hindia. Aceh luluh lantak dibuatnya. Tak ada yang menyangka, pagi yang cerah itu berubah mencekam.

Dalam tayangan video amatir. Tak henti-hentinya warga menyebut Asma Allah melihat ganasnya air laut menggulung apa yang ada di depannya. Tak kurang 230 ribu nyawa manusia melayang sekejap mata. Sedikitnya 37 ribu orang dinyatakan hilang. Belum lagi ratusan ribu tempat tinggal hilang tanpa bekas disapu habis oleh ombak besar.

ArtikelTerkait

Corona Belum Musnah!

Berkalang Limbah

Menyaksikan keganasan bencana, dalam dan luar negeri mengirim bantuan kemanusiaan agar penduduk Aceh segera keluar dari penderitaan. Gempa terhebat dalam sejarah bangsa ini, menyentuh ribuan hati sukarelawan, baik sipil maupun militer, untuk segera datang ke Aceh. Dunia internasional mengerahkan peralatan supercanggih untuk mengangkat puing-puing.

Mereka bekerja tidak mengenal lelah. Ratusan mayat membusuk yang tergeletak berminggu-minggu dimakamkan dalam satu kuburan massal. Semua kekuatan dan energi bangsa ini tercurah demi Aceh. Tanah Serambi Mekah adalah simbol kebangsaan. Peristiwa mahadahsyat itu menyatukan kembali anak bangsa dari berbagai kepentingan. Tak ada lagi yang bicara suku, agama, etnis, atau golongan. Hanya ada satu kalimat: menolong dan menyelamatkan Aceh dari keterpurukan.

Dalam hitungan hari, bantuan kemanusiaan mengalir. Dana digalang di mana-mana. Doa untuk Aceh tak putus-putus agar mereka diberikan kekuatan menghadapinya. Badai pun berlalu. Solidaritas kebangsaan yang mengikatnya. Tak ada lagi perbedaan. Gempa dan tsunami Aceh ternyata mampu menciptakan rasa keharmonian yang indah.

Dan bencana alam Pidie, Rabu lalu itu, akankah mengulangi kesuksesan aksi solidaritas gempa tahun 2004? Korban sudah menyentuh angka 100 orang tewas. Mampukah mengetuk hati massa aksi damai 212 dan 412 di Ibu Kota, pada pekan lalu. Anak bangsa yang menggetarkan bumi Jakarta itu, akankah mampu membantu Aceh keluar dari penderitaan

***

Tanah longsor, banjir di mana-mana, juga gempa bumi di negeri ini sebuah pertanda alam. Ebiet G Ade mengingatkan kita dalam lagunya berjudul Untuk Kita Renungkan. Bangsa ini pantas untuk bertobat. Kata Ebiet, anugerah bencana adalah kehendak-Nya agar kita sadar.

Hutan yang mengeluarkan asap panas membakar. Gunung memuntahkan lahar dan badai menyapu bersih bumi ini. Jika sudah datang bencana itu tadi, tak ada lagi tempat bersembunyi. Tapi Ebiet kembali mengingatkan agar manusia segera bersujud pada Sang Pencipta.

Gempa Pidie adalah momentum bangsa ini bersatu dan kembali membela korban gempa. Jika anak bangsa di negeri ini mampu bersatu mengawal kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, harusnya kerusakan akibat gempa bisa diatasi tanpa harus menunggu perintah. Digambarkan seperti semut bersatu membangun gundukan tempat sarangnya terbuat dari tanah dan pasir.

Mengetuk hati nurani, bersatu kembali anak bangsa membangun Pidie, sebuah harapan. Rakyat Aceh menunggu belas kasihan dan uluran tangan! Gempa itu, menurut ahli dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), menyebutkan bencana Pidie setara dengan kekuatan empat hingga enam kali bom di Hiroshima.

Mampukah rasa kebangsaan dari Pidie bisa menyatukan bangsa ini yang pernah nyaris terbelah akibat kasus penistaan agama? Jawabnya, mampu dan bisa! Tsunami yang pernah membunuh kehidupan di Aceh, ternyata membawa hikmah perdamaian. Rakyat Aceh yang dinilai keras, melunak—menyetujui isi perjanjian damai yang diteken di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005.

Tak ada lagi yang perlu diperebutkan di Aceh. Ikrar setia Helsinki mampu mengakhiri konflik bersenjata, saling bunuh sesama saudara. Perjanjian Helsinki merajut Aceh kembali bangkit untuk setia kepada negeri ini dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dari Helsinki-lah, Aceh tak sendiri lagi memperbaiki daerahnya akibat gempa Desember 2004. Sungguh indah damai itu. Aceh sangat terbantu dan merasakannya.

Belajar dari banyaknya gempa yang membelah bumi ini, saatnya peta dan informasi kegempaan harus di-update sehingga publik menerima informasi terkini, termasuk faktor kebencanaannya. Ilmu tentang bencana alam serta infrastruktur yang kokoh dibangun adalah harapan. Karena sebagian besar negeri ini dikelilingi oleh daerah rawan bencana alam. ***

Share Postingan ini :
Previous Post

Asas Tunggal

Next Post

Tujuh Tahun Guru Bangsa

Artikel Terkait

Lilin Kecil
Refleksi

Corona Belum Musnah!

Lilin Kecil
Refleksi

Berkalang Limbah

Lilin Kecil
Refleksi

Lampung Mendunia

Lilin Kecil
Refleksi

Bayar Mahal     

Lilin Kecil
Refleksi

Politikus Berakrobat        

Lilin Kecil
Refleksi

Entrepeneur Lokal    

Next Post
Lilin Kecil

Tujuh Tahun Guru Bangsa

Lilin Kecil

Bukan di Kota, Melainkan di Desa

Lilin Kecil

Kain Serban

Lilin Kecil

Trump, Amerika Baru

Lilin Kecil

Om Otete Om

Artikel Terbaru

Keterangan Ahli Pers Menegakan Wibawa Profesi dan Etika Jurnalistik

Pers sebagai Mitra Strategis dan Penyedia Solusi Konstruktif

Wakabid Pendidikan PWI Pusat Umumkan 31 Wartawan Kompeten UKW PWI Lampung

Buku Transformasi SDM Pendidikan Islam Di Era Globalisasi

Perkuat Fungsi Pers, LPEF Kawal Peningkatan Kualitas SDM

PWI Pusat Tetapkan Marthen Jadi Sekjen, Iskandar sebagai Wakabid Pendidikan

Facebook Twitter Instagram Youtube
Bung Is

Platform Bung Is berperan sebagai repositori media yang menjaga integritas jurnalistik melalui penguatan kompetensi dan etika profesi oleh Dewan Pers juga PWI di era digital. Seluruh konten, termasuk podcast dan opini, menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menghadapi tantangan teknologi serta memajukan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia.

Beranda
Refleksi
Bung Is Menyapa
Nuansa
Opini
Buku & Jurnal
Peraturan
Pedoman
Nota Kesepahaman Pers

Aktivitas
Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist