• Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
Kamis, September 17, 2026
Bung Is
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
No Result
View All Result
Bung Is
No Result
View All Result

Rohingya Dihabisi

September 17, 2017
in Refleksi
Lilin Kecil
Share Postingan ini :

“REMAJA-remaja kami sudah lelah. Mereka tumbuh menyaksikan penistaan dan penyiksaan. Kini mereka memiliki konsensus jika tak melawan, mereka tidak akan memberikan hak kami,” ujar aktivis Rohingya di pengungsian Bangladesh.

Setelah bertahun-tahun, mereka menjadi korban pembantaian militer Myanmar, muslim Rohingya menjawabnya dengan kata lawan. Bersenjata senjata tajam, bom, dan senjata api rakitan, muslim Rohingya menyerang pos militer Myanmar. Serangan itu sebagai titik awal Rohingya melawan yang menewaskan puluhan polisi, Jumat (25/8). Pemuda Rohingya tergabung dalam kelompok militan, Arakan Rohingnya Salvation Army (ARSA) atau Tentara Pembebasan Rohingya Arakan.

Militer Myanmar menjawab serangan itu dengan operasi pembersihan seluruh warga Rohingya di Negara Bagian Rakhine. Seperti dilaporkan Kantor Berita Agence France-Presse (AFP), seorang tokoh adat Rohingya, Shah Alam, mengakui rakyat Rohingya tidak punya pilihan lain kecuali melawan. “Mereka lebih memilih bertarung dan mati daripada dibantai seperti sapi,” ujar Shah.

ArtikelTerkait

Corona Belum Musnah!

Berkalang Limbah

Hanya bersenjata seadanya, ratusan warga Rohingya tidak akan surut melawan militer Myanmar. Mereka bersembunyi di bukit-bukit. Putra Rohingya telah bersumpah menyelamatkan Arakan meski menggunakan tongkat dan pisau. Sumpah lelaki itu membuat telinga Aung San Suu Kyi menjadi merah. Pemimpin de-facto Myanmar menuding ARSA sebagai kelompok teror melibatkan anak-anak.

Bagi mereka, melawan kebiadaban sudah menjadi pilihan terakhir. Adalah Ayesha Begum harus rela ditinggalkan suaminya yang berjuang melawan militer Myanmar bersama-sama warga Rohingya lainnya. Begum tengah hamil tua menanti kelahiran anak di kamp pengungsian Bangladesh. Wanita yang berusia 25 tahun itu mengungsi ke Bangladesh usai militer Myanmar menggelar operasi besar-besaran sejak Jumat (25/8).

Begum bertutur bahwa suaminya mengucap selamat tinggal. “Katanya, jika kita tidak bisa bertemu lagi di Arakan, kita akan bertemu di surga,” ucap sang istri.
Penindasan terhadap muslim Rohingya sebenarnya tidak terjadi kali ini saja. Dari beberapa literatur, Rohingya telah mendiami Rakhine sejak abad ke-7, tetapi sebagian lainnya menyebut sejak abad ke-16.

Nenek moyang Rohingya merupakan campuran dari Arab, Turki, Persia, Afghanistan, Bengali, dan Indi-Mongoloid. Rohingya merupakan komunitas paling diburu di dunia. Orang Myanmar menyebut mereka sebagai Bengali. Terakhir, nama Bengali diganti dengan Rohingya karena alasan politik. Dalam catatan sejarah, selama pemerintahan kolonial Inggris (1824—1948) terjadi migrasi dalam jumlah besar dari India dan Bangladesh ke Rakhine.

Hubungan buruk kaum Islam dan Buddha di Arakan mulai terjadi pada abad ke-15. Bahkan pada 1785, Myanmar menduduki Rakhine dan membantai ribuan kaum Islam. Pada masa Perang Dunia II, Inggris pun mempersenjatai Rohingya untuk menghadapi serbuan musuh—Jepang. Belakangan terjadi konflik komunal antara Rohingya dan umat Buddha. Banyak biara, pagoda, dan rumah warga Buddha dihancurkan Rohingya.

***

Dilaporkan British Broadcasting Corporation (BBC), Myanmar mengklaim kekerasan yang terjadi pada 25 Agustus dipicu serangan ARSA. Kelompok militan ini dipimpin oleh Ata Ullah atau Ataullah Abu Ammar Jununi, warga Rohingya yang lahir di Pakistan lalu besar di Arab Saudi.

International Crisis Group (ICG) berpendapat ARSA dibentuk pascaaksi kekerasan yang meletus pada 2012. Mereka mendapat pelatihan militer di luar Myanmar. Kelompok militan ini menolak dikaitkan dengan anggota jihadis. Mereka hanya berjuang agar keberadaan warga Rohingya diakui sebagai salah satu kelompok etnik di Negeri Zamrud Asia ini.

Warga muslim Rohingya di Negeri Pagoda Emas itu tercatat berjumlah 1,1 juta dari 52 juta penduduk Myanmar. Negara ini mayoritas berpenduduk beragama Buddha. Sungguh tragis, walau bertempat tinggal dan beranak pinak di Arakan, warga Rohingya hidup tanpa status kewarganegaraan Myanmar. Mereka dianggap imigran ilegal dari Bangladesh.

Dari beberapa literatur, warga Rohingya ini telah berdiam di Rakhine sejak abad ke-7. Sebagian menyebut sejak abad ke-16. Nenek moyang Rohingya merupakan campuran dari Arab, Turki, Persia, Afghanistan, Bengali, dan Indi-Mongoloid. Dalam buku Burma: A Nation at the Crossroads yang ditulis Benedict Rogers, secara terang benderang menyebutkan di era diktator Ne Win, pihaknya menyingkirkan warga muslim, kristen, dan etnik lainnya.

Di era Perdana Menteri (PM) Ne Win sekaligus pemimpin militer Myanmar, pemerintahan ini secara sistematis melucuti kewarganegaraan Rohingya. Dimulai dari pemberlakuan UU tentang Imigrasi Darurat tahun 1974 dan UU Kewarganegaraan 1982. Sejak itulah, hak-hak Rohingya terang-terang dilucuti, baik dokumen pendidikan, kepemilikan tanah, maupun perkawinan.

Sebenarnya sejak 1962, Myanmar mulai melucuti Rohingya dari berbagai hak. Itulah Myanmar. Dalam sejarah berdirinya negara, Myanmar atau Burma yang pernah dijajah Inggris tidak pernah damai. Kepala Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) Zeid bin Ra’ad Zeid al-Hussein memperingatkannya. Badan dunia ini mengecam tindakan yang sistematis dari militer Myanmar terhadap minoritas Rohingya.

Tragedi kemanusiaan yang dihadapi muslim Rohingya cenderung genosida. Dunia tidak menutup mata dan telinga. Mereka membutuhkan bantuan, bebas menghirup udara segar Bumi Arakan. Kini 1,1 juta dari tujuh juta populasi Rohingya menunggu penyelamatan. Puluhan tahun merindukan kebebasan. Ingin hidup nyaman dan sejahtera. Muslim Rohingya tidak ingin mengakhiri hidup di depan moncong senjata, menahan siksaan militer. ***

Share Postingan ini :
Previous Post

Sentimen Rohingya

Next Post

Keraton Nusantara

Artikel Terkait

Lilin Kecil
Refleksi

Corona Belum Musnah!

Lilin Kecil
Refleksi

Berkalang Limbah

Lilin Kecil
Refleksi

Lampung Mendunia

Lilin Kecil
Refleksi

Bayar Mahal     

Lilin Kecil
Refleksi

Politikus Berakrobat        

Lilin Kecil
Refleksi

Entrepeneur Lokal    

Next Post
Lilin Kecil

Keraton Nusantara

Lilin Kecil

Lubang Buaya

Lilin Kecil

Lowongan Koruptor

Lilin Kecil

Dua Wanita

Lilin Kecil

Sentimen Rasial

Artikel Terbaru

Keterangan Ahli Pers Menegakan Wibawa Profesi dan Etika Jurnalistik

Pers sebagai Mitra Strategis dan Penyedia Solusi Konstruktif

Wakabid Pendidikan PWI Pusat Umumkan 31 Wartawan Kompeten UKW PWI Lampung

Buku Transformasi SDM Pendidikan Islam Di Era Globalisasi

Perkuat Fungsi Pers, LPEF Kawal Peningkatan Kualitas SDM

PWI Pusat Tetapkan Marthen Jadi Sekjen, Iskandar sebagai Wakabid Pendidikan

Facebook Twitter Instagram Youtube
Bung Is

Platform Bung Is berperan sebagai repositori media yang menjaga integritas jurnalistik melalui penguatan kompetensi dan etika profesi oleh Dewan Pers juga PWI di era digital. Seluruh konten, termasuk podcast dan opini, menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menghadapi tantangan teknologi serta memajukan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia.

Beranda
Refleksi
Bung Is Menyapa
Nuansa
Opini
Buku & Jurnal
Peraturan
Pedoman
Nota Kesepahaman Pers

Aktivitas
Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist