SAMPAH menjadi isu yang sangat penting dan seksi. Hampir di seluruh pojok kota negeri ini, ternyata sampah belum ditangani secara profesional dan masih dianggap remeh temeh. Pemerintah kabupaten dan kota di Indonesia juga di Lampung, belum begitu peduli mengelola sampah. Lihat saja kondisi gerobak dan mobil sampah, sudah berbau dan tidak enak lagi dipandang. Apalagi pakaian pemulung tak layak kesehatan. Nasib anak bangsa begitu memilukan.
Jika sampah tidak terurai dan tertangani secara tuntas, lihat tragedi longsor Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwi Gajah, Cimahi, Jawa Barat, pada 21 Februari 2005. TPA itu menewaskan 150 orang terkubur dalam sampah. Tragis memang. Sejumlah pakar di negeri ini mengatakan Indonesia berada dalam kondisi darurat sampah.
Jika penduduk negeri ini 250 juta jiwa, dengan estimasi sampah yang dihasilkan setiap manusia sebanyak 0,7 kg, maka jumlah produksi sampah per harinya 175 ribu ton. Seperti TPA sampah di Bakung, Telukbetung Barat, Bandar Lampung, setiap harinya menerima kiriman 600—700 ton ton sampah dari penduduk kota ini. Angka itu jika dikalikan sebulan, setahun, dan seterusnya. Apa yang terjadi? Sebagian kota ini akan diselimuti sampah jika tidak dikelola dengan baik.
Kemampuan daerah untuk mengelola sampah masih sangat rendah. Selain keterbatasan lahan, pemisahan sampah masih menjadi persoalan. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) menyebutkan sampah yang dihasilkan masyarakat masih didominasi sampah organik sebanyak 60 persen, plastik (15 persen), kertas (10 persen), serta sampah lainnya yang berbentuk logam, kaca, kulit, logam, dan lainnya sekitar 25 persen. Profil sampah yang beragam itu harus membuat sadar anak bangsa untuk memisahkan lebih awal sehingga bisa terurai secara sempurna.
Berpikir cerdas dan bekerja tuntas adalah kunci penguraian volume sampah di TPA. Program 3R (reduce, reuse, dan recycle) melibatkan rakyat untuk melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah tangga. Setiap hari sampah yang dibuang ke kotak campur aduk dari berbagai unsur. Mungkin, paling banyak sampahnya dari plastik. Karena sebagian warga masih senang berbelanja di mal, supermarket, atau sejenisnya, yang banyak menggunakan kantong plastik.
Jumlah sampah plastik yang ditimbulkan di negeri ini per harinya 24.500 ton (14 persen) atau setara 8,96 juta ton per tahunnya. Plastik sangat berdampak serius bagi lingkungan karena tidak dapat terurai sehingga mencemari dan merusak ekosistem air dan tanah. Apalagi di musin hujan ini, plastik menjadi persoalan karena bisa menyumbat saluran drainase dan sungai. Data yang dapat menghela napas bangsa ini, ternyata Indonesia berada dalam peringkat kedua dunia penyumbang sampah plastik ke laut. (Hasil penelitian Jena R Jambeck, Universitas Georgia).
***
Negeri ini harus memberikan perhatian serius terhadap sampah plastik, khususnya kantong plastik! Dalam 10 tahun terakhir, jumlah pengguna plastik terus bertambah seiring meningkatnya belanja dan jumlah mal. Sedikitnya 9,8 miliar lembar kantong plastik yang digunakan masyarakat setiap tahunnya. Ternyata, hampir 95 persen kantong plastik tadi menjadi sampah yang tidak terurai.
Terhadap pengurangan sampai plastik itu, pemerintah memprogramkan penerapan sampah plastik dengan menggunakan kantong plastik berbayar. Penggunaan dan harga kantongnya sendiri masih berpolemik di kalangan pengusaha ritel di negeri ini. Kata sepakat; berapa besar harga kantong plastik berbayar? Jika harga di Jakarta Rp1.000, maka di kota lain harganya juga harus sama. Jangan sampai lebih mahal atau lebih murah. Perbedaan harga itu mengganggu mekanisme bisnis ritel.
Menentukan harga saja kok repot amat! Bagaimana mengawasi ritel yang masih secara vulgar tidak mengindahkan peraturan penggunaan kantong plastik berbayar. Indonesia baru kampanyenya, sementara negara jiran Malaysia lebih dahulu menerapkan kantong plastik berbayar bersama 31 negara Eropa, 18 negara Afrika, tujuh di Amerika, termasuk 12 kota di Australia dan 14 negara Asia. “Gagasan ini merupakan langkah konkret mengurangi timbunan sampah kantong plastik,” kata Menteri LHK Siti Nurbaya dalam pertemuan Forum Pemred di Jakarta, akhir bulan lalu.
Selain mengurangi tumpukan sampah plastik, negeri ini memiliki vitamin–gizi baru dari hasil penjualan kantong plastik berbayar. Selama ini, pengunjung tak dikenakan pembayaran kantong plastik. Setelah kebijakan baru itu, mau tidak mau, suka tidak suka, konsumen harus merogoh koceknya lagi untuk membeli kantong plastik.
Lalu, keuntungan penjualan kantong plastik mengalir ke mana? Jawabnya, ada pada pengusaha ritel. Program plastik berbayar sendiri diluncurkan pada 21 Februari mendatang, sementara pemerintah baru mengeluarkan penetapan harganya, sebelum 3 Maret mendatang. Tanya kepada rakyat, sudah tahukah kantong plastik berbayar? Pasti, dijawab belum. Kampanye kantong plastik berbayar belum masif.
Wakil Ketua Umum Asosisasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta mengatakan harga kantong plastik dimulai harga terendah Rp200 agar masyarakat tidak kaget. “Tidak ada keuntungan yang diperoleh peritel dari mekanisme plastik berbayar,” kata Tutum, Kamis (11/2). Tapi, secara terang benderang, terjadi keuntungan yang signifikan dari pemakaian kantong plastik berbayar. Tutum mengakui Aprindo tidak akan mematok harga kantong plastik karena tidak ingin menyimpan uang rakyat dari hasil keuntungan perputaran uang dalam sistem kantong plastik berbayar.
Menandai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2016 pada 21 Februari pekan depan, program kantong plastik berbayar itu ditabuh genderangnya di seantero Nusantara. Bangsa yang masih mencari jati diri mengelola sampah plastik harus membuktikan kepada dunia, saatnya Indonesia tak lagi menduduki ranking kedua mencemari laut dengan sampah plastik. ***


