MENJELANG perayaan Imlek atau Tahun Baru Tionghoa (China) tahun 2567 pada 8 Februari 2016, negeri ini menerima kabar berita yang tidak mengenakkan untuk didengar. Dua perusahaan elektronik raksasa asal Jepang, yakni Panasonic dan Toshiba, menutup pabriknya di Indonesia. Akibatnya, lebih dari 2.500 karyawan bakal menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam kurun waktu Januari—Maret 2016.
Tak hanya dua perusahaan itu saja yang tutup pada bulan ini, sebuah perusahaan otomotif milik Amerika Serikat, Ford, juga menutup kerajaan bisnisnya di negeri ini. Ada apa denganmu? Akankah Indonesia tidak kondusif lagi untuk berinvestasi. Atau memang persaingan dagang yang terus mengglobal membuat perusahaan tersebut menjadi keok.
Keterpurukan bisnis elektronik dan otomotif di atas tidak membuat Indonesia ikut bangkrut. Jika dihubungkan dengan shio (zodiak) Tahun Baru Tionghoa (China) 2267—monyet api, zodiak menurut astrologi Tiongkok; sebuah simbol ingin bangkit dari kekalahan. Monyet yang senang hidup di pohon menggambarkan bahwa hewan itu berusaha ingin berprestasi dan selalu menuju puncak kemenangan. Sedangkan api diyakini sebagai simbol energi kesuksesan.
Shio monyet itu memaknai bahwa setiap orang memiliki sifat alami lain—ingin selalu muncul, lalu tanpa disadari berusaha mencapai tujuan dan prestasi. Sementara unsur api yang terdapat dalam tubuh manusia melambangkan tekad yang kuat. Begitulah Tiongkok menginspirasi bangsanya untuk berbuat lebih baik menuju kesuksesan.
Pergantian Tahun Baru Imlek sering dijadikan sebagai momen penting untuk memprediksi nasib dan keberuntungan masa depan. Dalam banyak sikap dan tingkah laku dari hewat monyet menjadi lambang—pengaruh atas orang yang memercayai dan meyakininya. Kelincahan monyet itu menginspirasi perkembangan diri berfluktuatif yang relatif sangat cepat.
Di balik itu, monyet memiliki sifat buruk, terkadang tidak komunikatif dan membisu. Perasaan malas dan cemas menghantuinya. Artinya, ia akan bisa bersikap oportunis dan cerdik berpetualang untuk mendapatkan sesuatu. Benarkah? Itu hanya sebuah ramalan untuk memotivasi diri agar pada 2016 ini tumbuh benih kesuksesan yang tidak direncanakan bisa menuju kesuksesan. Pesan tersirat dari shio itu, anak bangsa di negeri ini tak perlu bernostalgia dan membahas masa lalu kalau ingin menggapai kesuksesan.
Shio itu diyakini oleh warga Tionghoa pada ribuan tahun. Menjelang Imlek, Sang Buddha mengundang seluruh hewan untuk menghadiri suatu pertemuan. Undangan itu dihadiri 12 binatang, yakni tikus, kerbau, macan, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam, anjing, dan babi. Kedua belas binatang itu juga memiliki sifatnya masing-masing.
Kedua belas simbol binatang itu dipadukan dengan lima unsur alami atau komponen dasar yang menentukan alam semesta. Lima komponen dasar itu adalah besi (emas), air, kayu, api, dan bumi (tanah). Dengan perpaduan menjadi siklus 60 tahunan, itu dianggap warga Tionghoa memberi warna bagi kehidupan manusia di muka bumi.
***
Banyak hal yang harus diketahui dari kelihaian warga Tionghoa. Kata Nabi, uthlubul ilma walau bishin (carilah ilmu sampai ke negeri Tiongkok). Walau hadis Nabi Muhammad saw itu derajatnya dinilai lemah oleh sebagian ulama, patut diambil makna dari titah Rasulullah. Tiongkok sangat unggul dalam peradaban ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
Tiongkok dengan sukses membuat uang koin dari besi pada tahun 200 sebelum Masehi (SM). Negeri itu juga memunculkan kesuksesanan Laksamana Cheng Ho sudah mengelilingi dunia pada 1500 M. Sedangkan Colombus—penemu Amerika—baru melakukan lawatan setelah 80 tahun Cheng Ho merajai maritim. Sedangkan kesuksesan di daratan, bangsa Tiongkok dengan bangga mempersembahkan sebuah tembok yang panjangnya ribuan kilometer membentang di pegunungan. Tembok yang masih berdiri kokoh itu dibangun pada 100 SM.
Kesuksesan bangsa yang beradab pada ribuan tahun lalu itu, menjadikan perayaan Imlek 2016 sebagai momentum merajuk persaudaraan. Paling penting membangun relasi sosial di tengah bangsa yang terkena krisis global. Hal itu tidak terlepas dari pengaruh ajaran Konghucu yang dianut warga Tionghoa—penuh kekeluargaan dan kesantunan. Imlek juga merupakan wujud budaya dari etika kehidupan yang diturunkan nabinya bernama Konghucu.
Selain dimaknai sebuah perayaan keagamaan, Imlek diyakini sebagai perayaan kebudayaan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Mengapa? Karena di Tiongkok, pada saat Imlek dirayakan, telah berakhirnya musim dingin menuju datangnya musim semi. Pergantian musim itu menandai waktu untuk menentukan posisi bulan terhadap bumi. Sebuah peradaban ilmu pengetahuan yang sangat tinggi dan mumpuni untuk anak manusia.
Mungkin dengan alasan itulah, bangsa ini baru sadar dari tidurnya selama 25 tahun—membuka kran kebebasan warga Tionghoa untuk membangun Indonesia. Maka pada masa pemerintahan Presiden Gus Dur dicabutlah larangan bagi warga Tionghoa untuk berpartisipasi dalam bernegara dan berbangsa. Kwik Kian Gie adalah warga keturunan pertama yang dinobatkan sebagai Menteri Perekonomian. Lalu pada era pemerintahan Megawati, Hari Raya Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional hingga sekarang ini.
Untuk membumikan kehidupan warga Tionghoa, lalu pada 2006 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menerbitkan undang-undang yang menghapus segala perbedaan antara Tionghoa dan pribumi. Tahun 2007, SBY secara resmi mengukuhkan istilah Tionghoa untuk sebutan warga keturunan Tiongkok. Dalam perjalanan panjang itu, Imlek yang dimaknai shio monyet api menyemangati bangsa beragam ini untuk sama-sama membangun negeri. Gong Xi Fat Cai. n


