• Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
Kamis, September 17, 2026
Bung Is
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
No Result
View All Result
Bung Is
No Result
View All Result

Ikan untuk Cicit

Juni 28, 2015
in Refleksi
Lilin Kecil

ArtikelTerkait

Corona Belum Musnah!

Berkalang Limbah

Share Postingan ini :

MEMBANGUN pelabuhan perikanan rakyat, revitalisasi tambak rakyat, termasuk mengembangkan unit pengolahan budi daya ikan serta pengolahan rumput laut adalah keinginan dan upaya Lampung menuju nelayan sejahtera 2019. Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti berharap Lampung bisa mewujudkannya.
Susi melihat potensi itu, sebab itu dia berharap. Karena Lampung memiliki sumber daya kelautan dan perikanan berlimpah. Lampung memiliki garis pantai terpanjang Sumatera, yakni 1.105 km. Belum lagi luas lautnya 24.820 km2, daratan 35.376,5 km2. Tidak itu saja, Lampung juga memiliki 132 pulau yang bertebaran di sepanjang pantainya.
Dari kekayaan itulah, Lampung bisa mengekspor ikan dan udang ke mancanegara pada 2013 yakni 23.750.261,79 kg dan nilai ekspor sebesar 274.438.253,81 dolar AS. Patut dicatat, Lampung sebagai penghasil udang terbesar Indonesia, yakni 60% produksi untuk kontribusi nasional. Jadi sangat wajar jika udang masih menjadi komoditas terdepan dan berkonflik yang tidak berkesudahan selama 15 tahun terakhir ini.
Sebenarnya, Lampung tidak kalah dengan daerah lainnya–memiliki sumber daya alam yang tersimpan di laut dan darat. Suatu kesempatan, Gubernur M Ridho Ficardo menggagas program kemaritiman dalam rangka mendukung konsep perekonomian maritim. Program yang pernah ditawarkannya di hadapan Menteri Susi, antara lain revitalisasi lima pelabuhan perikanan dan revitalisasi armada serta alat tangkap ikan.
Untuk budi daya perikanan, Lampung mengusulkan program revitalisasi tambak rakyat 1.000 hektare, normalisasi lahan tambak eks PT Dipasena Citra Darmaja (DCD)—sekarang dikelola PT Aruna Wijaya Sakti (AWS) seluas 1.000 hektare, lalu pengembangan rumput laut di tiga kabupaten di Lampung.
Pengalaman sebagai daerah penghasil ikan dan udang, Lampung perlu membangun pabrik alginat, mengembangkan sarana dan prasarana pengolahan pemasaran di tingkat nelayan. Lampung harus melakukan pengendalian dan pengawasan mutu serta keamanan hasil perikanan.
***
Puluhan tahun bergelut bisnis perikanan, Menteri Susi menaruh harapan besar kepada pemain ikan Indonesia juga Lampung ini agar berpikir lebih ekstra, bagaimana mengelola kekayaan laut. Sumber daya laut dan ikan sungai, tidak hanya untuk sekarang. Anak bangsa juga harus memikirkan, bagaimana ikan itu juga bisa dinikmati cucu bahkan sampai ke cicit sekalipun.
Susi remaja memperlihatkan kepiawaiannya mengelola perikanan antardaerah. Dari pengakuan Fuad, adik Susi, sang kakak, di masa muda tidak hanya bisnis jual beli ikan, akan tetapi menekuni usaha sarang burung walet dan lobster.
Bisnisnya itu tidak dijalankannya di kampung halaman Pangandaran tapi ditekuninya di Lampung. Bahkan di Tanoh Lada, lima tahun lamanya Susi bermukim, sampai-sampai orang tuanya pun ikut ke Lampung untuk urusan bisnis yang sama. Sai Bumi Ruwa Jurai bagi Menteri Susi punya kesan tersendiri. Lampung memiliki 130 pulau kecil tadi adalah bagian pekerjaan esktra dalam membangun perikanan laut. Dia mengingatkan agar bangsa ini membangun Indonesia dari pinggir.
Program yang ditawarkan itu—membangun dari pinggir adalah untuk mengatasi kesenjangan pembangunan wilayah. Itu fakta dan sangat mencolok. Pembangunan pulau kecil di Lampung saja tak sebanding dengan pulau besar. Hal itu disampaikan seorang tokoh masyarakat di Pulau Legundi, Lampung. “Alhamdulillah, akhirnya doa kami terkabul. Pak Gubernur jadi datang ke pulau kami. Kami merasa punya gubernur betul, sekarang,” kata Ali Rahman kala itu.
Kunjungan bertajuk Sambung Nusa bersama Polda Lampung memang istimewa bagi warga Legundi pada awal Februari lalu. Ridho, kata Ali Rahman, adalah gubernur pertama yang menyelakan waktu mengunjungi Legundi. “Kalau bupati dan pejabat lain, sudah sering datang ke sini. Tapi, kalau gubernur, baru Pak Ridho,” kata dia seraya berterima kasih. Ini pertanda, pulau kecil seperti Legundi perlu mendapat perhatian gubernur. Jadi sangat masuk akal ketika Susi berucap ada kesenjangan di pinggiran. Sementara pulau pinggiran itu pula yang banyak memasok ikan untuk wilayah daratan.
***
Tidak cukup membangun dan mengembangkan industri perikanan di pulau pinggiran. Negeri ini, Lampung ini—seperti disinggung di atas, harus juga menyelesaikan konflik udang yang sudah menahun antara Perhimpunan Petambak Plasma Udang Windu (P3UW) dan PT AWS. Pada 1997, citra Indonesia terangkat oleh Lampung karena menjadi negara produsen udang terbesar kedua di dunia.
Pada era 1990-an, Dipasena adalah sebuah nama besar dan mendunia. Kala itu Dipasena sebuah impian tentang kehidupan sejahtera. Tambak seluas 16.250 hektare milik Dipasena berada di Rawajitu Timur, Tulangbawang. Sebelum konflik meletus, sebanyak 9.033 petambak plasma dan 11 ribu karyawan menggantungkan hidup dari udang. Kawasan itu menjadi magnet bagi banyak orang yang berharap dapat memperbaiki nasib.
Bahkan Bank Indonesia mencatat devisa disumbangkan Dipasena mencapai puncaknya sebesar 167 juta dolar AS. Perusahaan ini juga meraih Ekspor Primanyarta pada 1995, 1996, dan 1997. Jadi sangat wajar, Lampung memimpikan kembali kejayaan Dipasena. Petambak menunggu janji Menteri Susi ingin menyelesaikan persoalan yang sudah beranak pinak. Tapi kapan?
Yang jelas, Susi memulai usaha dari jualan ikan. Dia sangat mengetahui bagaimana kehidupan nelayan dan petambak. Dia berharap tambak yang besar itu bisa bangkit lagi. Dengan begitu, udang pun bisa dinikmati sampai ke cicit dan anak cicit. Menteri Susi mengajak petambak tradisional di Rawajitu itu duduk bersama, berhitung kembali dengan kepala dingin. “Saya berpesan kepada P3UW dan kelompok masyarakat agar mempunyai pikiran besar dan bersama—untuk menormalkan tambak, bukan sekadar memikirkan kepentingan pribadi,” kata Susi, saat mengunjungi kawasan tambak eks Dipasena pada awal Maret lalu.
Selain memediasi konflik di masyarakat, langkah pemerintah membenahi sektor perikanan dan udang di daerah adalah membangun perguruan tinggi – untuk tenaga terampil. Kementerian Kelautan dan Perikanan mendirikan 10 unit Politeknik Kelautan dan Perikanan (Poltek KP) di berbagai daerah termasuk di Tanggamus, Lampung.
1. Kehadiran perguruan tinggi itu meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta menggali potensi kelautan dan perikanan. Tenaga terampil dari lulusan Poltek pula yang akan menggerakkan mesin duit perikanan. Negeri ini tidak berharap anak bangsa ikut mendompleng—mengeruk keuntungan dari sebuah konflik. Segera akhiri seteru untuk kepentingan sesaat itu. Jangan sampai moncong senjata aparat ikut menyalak, ruang jeruji besi akan menantimu jika terus mengobarkan kebencian dan permusuhan. ***

Share Postingan ini :
Previous Post

Fenomena Pernong

Next Post

Alutsista Heboh

Artikel Terkait

Lilin Kecil
Refleksi

Corona Belum Musnah!

Lilin Kecil
Refleksi

Berkalang Limbah

Lilin Kecil
Refleksi

Lampung Mendunia

Lilin Kecil
Refleksi

Bayar Mahal     

Lilin Kecil
Refleksi

Politikus Berakrobat        

Lilin Kecil
Refleksi

Entrepeneur Lokal    

Next Post
Lilin Kecil

Alutsista Heboh

Lilin Kecil

Syahwat Mudik

Lilin Kecil

Kompromi Madinah

Lilin Kecil

Uji Integritas Unila

Lilin Kecil

Gelang Konvergensi

Artikel Terbaru

Keterangan Ahli Pers Menegakan Wibawa Profesi dan Etika Jurnalistik

Pers sebagai Mitra Strategis dan Penyedia Solusi Konstruktif

Wakabid Pendidikan PWI Pusat Umumkan 31 Wartawan Kompeten UKW PWI Lampung

Buku Transformasi SDM Pendidikan Islam Di Era Globalisasi

Perkuat Fungsi Pers, LPEF Kawal Peningkatan Kualitas SDM

PWI Pusat Tetapkan Marthen Jadi Sekjen, Iskandar sebagai Wakabid Pendidikan

Facebook Twitter Instagram Youtube
Bung Is

Platform Bung Is berperan sebagai repositori media yang menjaga integritas jurnalistik melalui penguatan kompetensi dan etika profesi oleh Dewan Pers juga PWI di era digital. Seluruh konten, termasuk podcast dan opini, menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menghadapi tantangan teknologi serta memajukan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia.

Beranda
Refleksi
Bung Is Menyapa
Nuansa
Opini
Buku & Jurnal
Peraturan
Pedoman
Nota Kesepahaman Pers

Aktivitas
Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist