• Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
Kamis, September 17, 2026
Bung Is
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
No Result
View All Result
Bung Is
No Result
View All Result

Godaan Kekuasaan

Januari 28, 2018
in Refleksi
Lilin Kecil
Share Postingan ini :

JELANG pilkada serentak pada 27 Juni 2018, bangsa ini gegap gempita menyambutnya. Seantero nusantara, peserta pilkada memiliki visi dan misi yang sudah lama disimpan di saku baju.
Tentu strategi taktik, tipu muslihat disiapkan untuk memenangkan pertandingan. Adalah Ken Arok, contoh nyata, yang memiliki ambisi menjadi raja. Dengan sebilah keris Mpu Gandring, dia berhasil merebut Ken Dedes lalu menguasai Tumapel.

Ken Arok sangat licik! Dia memiliki hasrat ingin menjadi penguasa, lalu ia meminta fatwa dari seorang agamawan bernama Lohgawe. “Siapa yang berhasil memperistri Ken Dedes akan menjadi raja yang besar,” kata Lohgawe.
Adapun Ken Dedes berparas cantik itu sudah dimiliki Tunggul Ametung. Suaminya seorang penguasa daerah kecil bernama Tumapel.

Dalam kitab Pararaton dan Negarakertagama, kisah Ken Arok bersama keris Mpu Gandring pada perjalanan sejarah berdirinya Kerajaan Singasari dipenuhi intrik, dendam kesumat. Suksesi kepemimpinan di kerajaan yang didirikan Ken Arok selalu bersimbah darah dari keris Mpu Gandring. Itu adalah kutukan dari si empunya keris untuk enam keturunan Ken Arok.

ArtikelTerkait

Corona Belum Musnah!

Berkalang Limbah

Ken Arok melanggar janji! Ketika menemui Mpu Gandring untuk minta dibuatkan keris ampuh, dijanjikan setahun—selesai dibuat. Namun sebelum setahun, lima bulan dari pemesanan itu, Arok kembali menemui Mpu karena tidak tahan lagi merebut Ken Dedes juga menguasai Tumapel. Hari itu, keris yang belum selesai dibuat Mpu direbut Arok dari tangannya.

Keris sakti meminta korban. Mpu tewas di tangan Arok karena tusukan keris. Menjelang sakratulmaut, Mpu bersumpah bahwa keris itu juga akan menewaskan Arok berikut tujuh turunannya.

Langit Singasari mendung dibuatnya. Ken Arok sangat cerdas dan licik. Usai menikam Mpu, keris itu dipinjamkannya ke Kebo Ijo, orang kepercayaan Tunggul Ametung. Kebo Ijo memamerkan keris berukiran kayu cangkring ke pelosok Tumapel.

Setiap orang tahu bahwa Kebo Ijo memiliki keris ampuh. Malamnya, Arok mengambil keris dari Kebo Ijo yang sudah tertidur lelap. Malam itu juga, Arok tidak menyia-nyiakan waktu untuk membunuh Tunggul Ametung dengan menancapkan keris Mpu Gandring.

Rakyat Tumapel menjadi heboh karena pemimpinnya tewas ditikam keris milik Kebo Ijo. Ken Arok pun menjalankan akal bulusnya lalu menghabisi Kebo Ijo dengan keris itu juga di depan Ken Dedes.

Arok mengambil hati Ken Dedes. Kebo Ijo, pembunuh suaminya, Tunggul Ametung, tewas ditangan Ken Arok. Akhirnya dia berhasil memperistri Ken Dedes.

Dari Kitab Negarakertagama—ramalan Lohgawe terbukti. Ken Arok berhasil menguasai Kediri pada 1222, lalu mendirikan Kerajaan Singasari. Ken Arok adalah raja pertamanya.Takhta dan darah tidak berhenti di situ.

***

Periode berikutnya, Anusapati—hasil buah pernikahan Ken Dedes dan Tunggul Ametung—membalas kematian ayahnya. Lagi-lagi keris Mpu Gandring memakan korban dengan menumbalkan Ki Pengalasan, suruhan Anusapati untuk membunuh ayah tirinya. Senja itu, Arok tewas seketika. Ki Pengalasan dihabisi Anusapati agar tidak membuka siapa yang menyuruh membunuh Ken Arok.

Anusapati naik takhta Singasari. Namun itu tidak bertahan lama. Panji Tohjaya, anak Ken Arok dari selir bernama Ken Umang, menuntut balas. Anusapati tewas terhunus dari keris Mpu yang dihabisi oleh Panji.

Lalu Panji pun naik takhta di Singasari. Ternyata dendam kesumat tidak berhenti di situ. Rangga Wuni, anak Anusapati, bersekutu dengan Mahisa Cempaka, cucu Ken Arok dan Ken Dedes, memberontak. Terjadilah pertempuran, Panji pun tewas.

Kutukan keris Mpu berakhir sudah. Rangga Wuni dan Mahisa Cempaka bersama-sama memerintah kerajaan. Rangga di Singasari dan Mahisa di Kediri.

Apa hikmah yang terkandung dari fatwa Lohgawe dan keris yang ampuh itu? Merebut dan berebut kekuasaan, serta hasrat ingin memiliki seorang wanita yang bisa membawa ke derajat nantinggi.

Kebo Ijo dan Ki Pengalasan adalah korban dari kelicikan, ketidaktahuan. Mereka adalah tumbal politik kekuasaan. Korban-korban itu pun pasti akan terjadi pada Pilkada Serentak 2018.

Rakyat selalu menjadi korban karena diseret-seret untuk kepentingan sesaat. Politik di negeri ini tidak terlepas dari jeratan kekuasaan. Contoh teranyar adalah Pilgub DKI Jakarta.
Kalau di era Kerajaan Singasari dihembuskan sentimen balas dendam. Di zaman now ini, berhembus isu suku, ras, dan agama yang berlebihan. Cara-cara seperti itu sangat efektif untuk menggembosi lawan politik.

Rakyat digiring, dicekoki bahwa isu-isu pasangan calon tidak memiliki kapasitas memimpin rakyat, mengolah birokrasi, dan tak mampu menyejahterakan rakyat.

Hembusan itu memang ampuh seperti kilatan keris Mpu Gandring. Di balik itu semua, akan ada korban seperti Kebo Ijo dan Ki Pengalasan karena mereka dikendalikan oleh aktor dari isu panas tadi. Kelompok ini menjadi ancaman bagi masa depan demokrasi. Kebinekaan akan terkoyak-koyak oleh kepentingan sesaat. Semua berpikir pragmatisme.

Tidak perlu heran pula, kini muncul di mana-mana praktik mahar politik. Sebab pelakunya bersikap pragmatis. Semua terorganisasi dan melakukan demokrasi transaksional. Rapi dari praktik mahar. Kontestasi politik merebut kekuasan itu melahirkan pemimpin koruptor.

Yakinlah! Anak bangsa di negeri ini tidak akan berhenti melakukan korupsi karena masih bermental koruptor. Contohlah niat baik Rangga Wuni dan Mahisa Cempaka untuk mengakhiri politik balas dendam menuju pemerintahan bersama di Tanah Singasari dan Kediri. ***

Share Postingan ini :
Previous Post

Maling Ikan

Next Post

Setor Nyawa

Artikel Terkait

Lilin Kecil
Refleksi

Corona Belum Musnah!

Lilin Kecil
Refleksi

Berkalang Limbah

Lilin Kecil
Refleksi

Lampung Mendunia

Lilin Kecil
Refleksi

Bayar Mahal     

Lilin Kecil
Refleksi

Politikus Berakrobat        

Lilin Kecil
Refleksi

Entrepeneur Lokal    

Next Post
Lilin Kecil

Setor Nyawa

Lilin Kecil

Kebebasan Netizen

Lilin Kecil

Pesan dari Padang

Lilin Kecil

Gila Hormat

Lilin Kecil

Kampung Bencana

Artikel Terbaru

Keterangan Ahli Pers Menegakan Wibawa Profesi dan Etika Jurnalistik

Pers sebagai Mitra Strategis dan Penyedia Solusi Konstruktif

Wakabid Pendidikan PWI Pusat Umumkan 31 Wartawan Kompeten UKW PWI Lampung

Buku Transformasi SDM Pendidikan Islam Di Era Globalisasi

Perkuat Fungsi Pers, LPEF Kawal Peningkatan Kualitas SDM

PWI Pusat Tetapkan Marthen Jadi Sekjen, Iskandar sebagai Wakabid Pendidikan

Facebook Twitter Instagram Youtube
Bung Is

Platform Bung Is berperan sebagai repositori media yang menjaga integritas jurnalistik melalui penguatan kompetensi dan etika profesi oleh Dewan Pers juga PWI di era digital. Seluruh konten, termasuk podcast dan opini, menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menghadapi tantangan teknologi serta memajukan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia.

Beranda
Refleksi
Bung Is Menyapa
Nuansa
Opini
Buku & Jurnal
Peraturan
Pedoman
Nota Kesepahaman Pers

Aktivitas
Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist