DECAK kagum melihat Bunaken, objek wisata yang ada di Manado, Sulawesi Utara. Gili Trawangan di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Lalu wisata pantai di Pulau Bangka dan Belitung, termasuk kawasan pantai selatan Pulau Jawa. Itu semua akan kalah tarung menyedot wisatawan jika wisata di Lampung ini ditata—menarik daya pikat pengunjung.
Tidak ditata saja wisatawan selama liburan empat hari pada pekan ini memadati sejumlah objek wisata Bumi Ruwa Jurai. Hotel berbintang, melati, dan cottage di Bandar Lampung habis disewa hingga Minggu siang. Mobil pribadi dan bus pariwisata berjejer di jalan dan pelataran parkir hotel. Luar biasa dan hebatnya Lampung. Daerah ini ternyata menyimpan “harta karun” destinasi wisata terkenal.
Adalah Pulau Pahawang, Pulau Tangkil, Teluk Kiluan, dengan lumba-lumba, Gunung Anak Krakatau, Pantai Kalianda, Mutun, Klara, Rangai–mesjid terapung. Wisata Piabung. Belum lagi Pantai Tanjung Setia–menyimpan deburan ombak superhebat untuk berselancar. Way Kambas dengan sekolah gajah. Itu mengapa pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota tancap gas melakukan pembenahan infrastruktur menuju lokasi wisata.
Pada pekan ini, di depan 1.477 peserta simposium dokter bedah seluruh Indonesia, termasuk dari Singapura dan Malaysia, Gubernur Ridho Ficardo seperti pemandu wisata. Ridho berjualan destinasi wisata Lampung. Cukup menarik memang, pengembangan dan pembenahannya dimulai dari wajah Bandara Radin Inten II. Dua tahun ke depan, bandara menjadi megah dan nyaman yang bisa didarati pesawat berbadan besar.
Sambil berseloroh, Ridho menyakinkan dokter bedah. “Kalau pantai, Lampung tidak kalah dengan Bali. Pekan lalu, kami sudah kerja sama dengan Gubernur Bali di bidang pariwisata. Lampung ini adalah tujuan transmigran pertama—kebanyakan dari Jawa dan Bali. Jadi banyak pula orang-orang Bali di Lampung . Potensi itu menjadi kekuatan pariwisata.”
Lalu, Gubernur Ridho memperkenalkan pantai di Pesisir Barat Lampung. “Salah satu ombak terbaik di dunia ada di Pesisir Barat Lampung. Sebab itu, wisatawan mancanegara pada bulan-bulan tertentu tinggal untuk berminggu-minggu di Pantai Tanjung Setia. Ke arah selatan, bisa melihat lumba-lumba. Kalau lagi beruntung bisa melihat paus orkas. Hanya di Lampung, bapak dan ibu bisa sewa gajah keliling seperti ojek, tapi gajahnya tidak boleh dibawa pulang. Yang boleh hanya miniatur gajah main bola saja,” kata Ridho bercanda disambut tawa dokter ahli bedah.
Canda cerdas seorang Ridho itu mengisyaratkan agar dokter bisa merogoh kocek membeli suvenir, sebuah tanda bahwa mereka sudah menginjak Tanah Lada ini. Tidak berhenti di situ saja, Gubernur menyebut tempat-tempat kuliner makanan khas Lampung yang harus dicoba dan dijadikan buah tangan sebelum pulang–kembali ke daerah masing-masing.
***
Wisata kuliner harus dicoba selama di Lampung, mulai dari keripik pisang, nangka. Pisang juga dengan bermacam rasa untuk oleh-oleh. Pindang juga disebut Gubernur Ridho, tidak ketinggalan pempek, makanan Palembang. Lampung sangat diuntungkan dengan keberagaman suku dan agama sehingga kekayaan alam dan makanan itu menyatu di bumi Lampung—yang tidak kalah hebat dari tempat asalnya.
“Kemarin gubernur Jambi dan Palembang agak panas (kesal, maksudnya). Gara-gara gubernur Jambi menyebut kalau pempek itu berasal dari Jambi. Kalau Lampung berterus terang, bahwa pempek adalah makanan khas dari Palembang, namun rasa gurih pempek itu disempurnakan lagi di Lampung. Banyak yang bilang pempek Lampung lebih enak dari Palembang. Coba aja kalau tidak percaya,” Ridho tertawa lebar.
Keseriusan mengembangkan dan mempromosikan pariwisata menjadi tugas Ridho dan pasukannya. Ada dua agenda penting yang pernah diikuti gubernur untuk mempromosikan daerah ini. Pertama, Annual Investment Meeting (AIM), di Dubai, Uni Emirat Arab, pada Maret 2015. Dan kedua, Lampung Tourism Business Meeting & Pameran Pariwisata Lampung 2016 di Pulau Dewata—Bali, akhir April lalu.
Paling tidak untuk taraf nasional saja, keseriusan itu sangat terasa dengan promosi destinasi wisata Lampung. Musim liburan saja, sejumlah keripik, pempek, dan pisang tanduk habis terjual untuk oleh-oleh. Belum lagi makanan ringan seperti warung bakso dipenuhi mobil luar kota. Lampung surga wisata bagi pengunjung dari berkocek tebal dan pas-pasan.
Rupiah bahkan dolar yang ditinggalkan wisatawan dapat mendongrak produk domestik regional bruto (PDRB) yang pada akhirnya menggenjot perekonomian Lampung. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun lalu, PDRB Lampung didominasi tiga sektor utama, yakni pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan peran terbesar 31,86%. Sedangkan sektor pariwisata hanya menyumbang 6,87% atau Rp3,59 triliun.
Dari data yang ada juga, jumlah wisatawan ke Lampung bertambah setiap tahunnya. Sepanjang 2015 tercatat 5.485.710 orang. Kunjungan itu terus bertambah jika Lampung ini mempercantik diri dan memperbaiki infrastruktur, termasuk gemar berpromosi di media massa, ruang, maya, serta memperbanyak perhelatan berskala nasional dan internasional.
Lampung sebagai pintu gerbang Pulau Sumatera, yang diapit kota besar di negeri ini, menajamkan bisnis destinasi wisatanya agar harta karun yang dimiliki itu tidak hanya menjadi potensi belaka. Jika tidak dikelola dengan kerja kreativitas yang baik, wisata Lampung masih terseok dibanding provinsi yang sudah memiliki keindahan pulau dan pantainya. ***


