HINGGA bulan April mendatang, musim hujan terus mengguyur bumi Nusantara. Manusia harus pandai-pandai bersyukur. Di saat kemarau, kabut asap melanda di belahan barat Indonesia, termasuk negeri tetangga ikut menikmati asap. Musim hujan, apa yang terjadi? Penyakit demam berdarah mewabah, permukiman, persawahan ikut direndam banjir. Seakan alam sudah tidak bersahabat lagi dengan penghuninya.
Terkadang, hujan bisa dikategorikan nikmat untuk manusia dan juga bisa membuat bencana jika sudah tidak terbendung lagi bumi menadahnya. Masih ingat bencana banjir yang meluluhlantakan umat Nabi Nuh as. Banjir itu mengubah dalam sekejab peradaban kehidupan manusia di muka bumi.
Allah mengisyaratkan dalam Alquran Surah Al-A’raf Ayat 64: “Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian kami selamatkan dia dan orang bersamanya di dalam bahtera. Kami tenggelamkan orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta mata hatinya.”
Kisah banjir itu juga dikisahkan dalam kitab agama Yahudi dan Nasrani. Menurut Perjanjian Lama, Tuhan memerintahkan kepada Nuh (Noah) bahwa semua orang, kecuali pengikutnya, akan dihancurkan karena bumi dipenuhi berbagai macam tindak kekerasan. Tuhan memerintahkan mereka membuat perahu. Tidak itu saja, mereka membawa keluarga, sepasang dari setiap makhluk hidup dengan persediaan bahan pangan.
Ketika dilihat Tuhan kejahatan manusia di bumi dan segala kecenderungan hati selalu membuahkan kejahatan, maka berfirmanlah Tuhan: “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi baik manusia maupun hewan.” (Kejadian 6: 5-8). Tuhan memperlihatkan kekuasaan-Nya. Tujuh hari kemudian, terjadilah banjir besar yang berlangsung selama 40 hari 40 malam.
Tidak hanya di dalam kitab suci agama Islam, Yahudi, dan Nasrani yang menceritakan banjir besar di era Nabi Nuh. Ternyata mitologi berbagai suku tua dunia mengisahkan turun-temurun soal air bah itu. Pada zaman perunggu, Zeus berniat mengirim banjir besar memusnahkan manusia. Zeus lalu menurunkan hujan tiada henti dari langit, dan Poseiodon menumpahkan air laut ke daratan. (Mitologi Yunani).
Sumber dari Wikipedia menulis kisah banjir besar itu bahwa Dewa Enki memperingatkan Ziusudra, Raja Shuruppak, tentang keputusan dewata menghancurkan umat manusia dalam sebuah air bah. Enki memerintahkan Ziusudra membangun sebuah kapal besar. (Mitologi Sumeria). Kemajuan teknologi di masa lalu memperlihatkan kecanggihan kapal yang dibuat Nuh untuk memuat pengikutnya pada 11.000 SM atau 13.000 tahun silam.
***
Patut kita renungkan, kapal Nuh itu mampu memuat ratusan ribu pasang makhluk hidup yang menjadi nenek moyang hingga kini. Di dalam kapal itu, hewan ditempatkan sesuai dengan habitatnya. Seperti unta saja harus di tempat berhawa panas, sementara penguin di daerah dingin. Belum lagi semut, jangkrik, dan lain sebagainya ditempatkan di ruang khusus pula. Luar biasa manajemen Nuh—saat itu memperlakukan makhluk hidup untuk mengubah peradabannya.
Selama air bah merendam negeri Nuh—katanya seantero permukaan bumi, pastilah memuat logistik dengan jumlah yang besar pula. Jika tidak, pastilah hewan di dalam kapal superbesar itu cakar-cakaran. Ular makan tikus, pada akhirnya tikus akan punah—tidak bisa kita lihat sekarang ini. Belum lagi makan untuk singa, buaya, juga kambing dan sapi. Memerlukan gudang yang sarat makanan untuk 40 hari 40 malam.
Kapal Nuh juga dirancang tahan terhadap terjangan ombak dan air bah. Dipastikan ombak yang menghancurkan penduduk Nuh 1.000 kali lebih hebat dari tsunami Aceh. Alquran menceritakannya dalam Surah Hud Ayat 42-43: ”Bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung.” Dengan begitu, ini adalah fakta bahwa Nabi Nuh membuat proyek raksasa untuk menyelamatkan umatnya yang beriman dan bertakwa.
Harusnya pemimpin di negeri ini seperti Nabi Nuh—membuat proyek untuk menyelamatkan kehidupan anak bangsa. Seperti infrastruktur jalan, jembatan, dan gedung untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Listrik yang padam melulu juga dicarikan solusinya. Belum lagi proyek kesehatan dan pendidikan untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa ini.
Lampungku yang sudah berusia 52 tahun terus berbenah. Seperti krisis listrik yang memadamkan seluruh rumah penduduk Tanah Lada harus menjadi perhatian yang ekstra. Provinsi ini memiliki potensi energi panas bumi sebesar 2.867 megawatt equivalent (Mwe) atau 10% dari potensi nasional. Jika potensi itu dimanfaatkan, Lampung tak akan tergantung dengan Sumatera Selatan. Lampung kaya raya.
Janganlah megaproyek yang dibangun di negeri ini rampung dikerjakan, tapi untuk urusan listrik berjalan tertatih-tatih, Lampung salah satunya. Terkait angka kemiskinan, Lampung (Survei Sosial Ekonomi Nasional ) pada September 2015 mencapai 13,53%. Dibanding dengan kondisi semester sebelumnya (Maret 2015), angka kemiskinan Lampung turun 0,82 poin dari 14,35%.
Percepatan penurunan angka kemiskinan, ternyata Lampung menggeser Sumatera Selatan menjadi nomor tiga untuk saat ini. Pada awal 2016, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung Adhi Wiriana mengatakan perbaikan peringkat angka kemiskinan itu menandakan pembangunan di daerah ini sudah tepat sasaran dan pemerataan perekonomian sudah membaik. Hasil survei ini adalah kado HUT ke-52 Provinsi Lampung. ***


