NEGERIKU tak pernah lepas dirundung malang. Setelah virus HIV/AIDS, flu burung, kini ada virus baru yang siap mematikan. Virus itu bernama zika. Makhluk ituberkembang biak seiring mewabahnya kasus demam berdarah dengeu (DBD). Zika ditularkan dari gigitan nyamuk Aedes aegypti. Binatang membawa maut dan pencabut nyawa manusia.
Dari banyak literatur menjelaskan infeksi demam berdarah dengue saat ini jumlah kasusnya meningkat di Indonesia, termasuk Lampung. Saat ini memang musim hujan. Vektor atau pembawa virus zika, nyamuknya juga membawa dengeu dan chikungunya. Apa yang dirasakan jika terjangkit gejala virus zika?
Seperti infeksi virus pada umumnya, awalnya pasien merasakan demam mendadak, lemas, kemerahan pada kulit badan, punggung dan kaki, serta nyeri otot serta persendian. Mata pasien merah karena mengalami radang konjungtiva atau konjungtivitis. Penderita juga merasakan sakit kepala.
Hasil pemeriksaan laboratorium, infeksi virus zika tidak menyebabkan penurunan kadar trombosit. Masa inkubasi hampir mirip dengan infeksi virus dengue, yakni beberapa hari sampai satu minggu. Virus mematikan itu sudah masuk Indonesia! Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengakui infeksi virus zika sempat terjadi di negeri ini pada 2014. Penularan itu terjadi terhadap seorang laki-laki yang tinggal di Jambi.
“Identitas dan status dari orang yang terinfeksi tersebut belum boleh dipublikasikan,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Langsung Kemenkes Wiendra Waworuntu di Jakarta, Kamis (28/1).
Dikutip dari Lampung Post, pasien positif terinfeksi zika ditemukan tidak sengaja oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, saat melakukan studi DBD di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah. Dari 200 sampel yang diambil, 103 di antaranya positif DBD. Usai sampel positif DBD itu diuji dengan metode reversetanscriptase-polvmerasechainreaction (RT PCR), ternyata kedapatan satu orang positif mengidap virus zika.
Dengan mewabahnya kasus penularan virus zika di Amerika Latin, Kemenkes meminta provinsi yang kasus DBD sangat tinggi pada 2015, seperti Lampung, Jabar, Jatim, Jateng, Bali, dan Kaltim untuk tetap waspada. Zika mengincar mangsanya yang lalai.
Lembaga Centre for Disease Control (CDC) mengategorikan Indonesia, bersama Kamboja, Thailand, Malaysia, Filipina, dan Maladewa, sebagai daerah “waspada” virus zika. Sedangkan daerah Karibia dan Amerika Latin oleh CDC sudah berstatus “peringatan” akan bahaya wabah zika.
Bahkan pada 1981, zika sudah ditemukan di Indonesia oleh seorang peneliti Australia.Penularan dari negeri ini terus berlanjut. Pada 2013, peneliti itu melaporkan kembali penemuan satu kasus infeksi virus zika pada seseorang warga Australia setelah melakukan perjalanan selama sembilan hari ke Jakarta. Penemuan kasus tersebut dipublikasi oleh American Journal Tropical Medicine and Hygiene.
***
Dari catatan peneliti, virus zika merupakan Flavivirus kelompok Arbovirus bagian dari virus RNA. Pertama kali diisolasi tahun 1948 dari monyet di hutan Zika, Uganda. Zika sendiri merupakan nama hutan tempat virus ini berhasil diisolasi. Selanjutnya beberapa negara Afrika, Asia, khususnya Asia Tenggara, Mikronesia, Amerika Latin, Karibia melaporkan penemuan virus ini.
Menurut laporan WHO, badan kesehatan dunia, hingga minggu ke-2 di tahun monyet 2016 ini, di Brasil sudah terjadi 3.893 kasus dengan 49 warga meninggal dunia. WHO menduga virus ini ada kaitannya dengan kasus bayi lahir dengan kepala lebih kecil dari ukuran normal (mikrosefalia). Semenjak virus zika ini merebak, kasus mikrosefalia terhadap bayi di Brasil meningkat sangat pesat.
Negara Brasil, Kolombia, Ekuador, El Savador merekomendasikan agar dilakukan penundaan kehamilan hingga wabah penyakit tersebut berlalu.Jadi, ibu yang terinfeksi virus ini saat hamil bisa melahirkan bayi dengan kelainan kepala sehingga perkembangan otaknya menjadi terganggu. Kini, Amerika mengingatkan warganya—wanita hamil atau yang berkeinginan untuk hamil—agar tidak bepergian ke negara yang terjangkit virus zika.
Saat ini memang vaksin untuk virus zika belum ditemukan. Pengobatan lebih banyak bersifat suportif, istirahat cukup, banyak minum, jika demam minum obat penurun panas, dan tetap mengonsumsi makanan bergizi. Pencegahan sama seperti pencegahan infeksi demam berdarah, perilaku hidup bersih dan sehat untuk memberantas sarang nyamuk. Caranya? Mengampanyekan menguras, menutup, dan mengubur (3M).
Selain kampanye itu,Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil menemukan nyamuk antidengeu. Nyamuk tersebut dikembangbiakkan untuk menekan penyakit DBD. Temuan nyamuk baru itu bernama Aedes aegyptiber-Wolbachia. Pada kurun waktu 2014—2015, di Sleman dan Bantul dilepaskan nyamuk Aedes aegyptiber-Wolbachia.”Hasilnya menunjukkan, 80 persen nyamuk di kawasan tersebut telah ber-Wolbhacia,” kata Ketua Tim Peneliti UGM Adi Utarini.
Maka itu, setiap penyakit pasti ada obatnya. Walaupun ada obatnya, patut juga direnungkan, Nabi Muhammad saw pernah mengingatkan, “Hindarilah orang yang terkena lepra seperti halnya kamu menghindari seekor singa.” (HR Bukhari). Anjuran Nabi kepada um¬atnya itu agar manusia senantiasa tetap waspada. ***


