TULISAN minggu lalu, menceritakan sejarah pulau timah dan lada itu dengan keindahan alamnya. Tulisan kedua, sekaligus terakhi dari Bumi Laskar Pelangi adalah Belitung aman dan tentram karena dikeliling lima penjaga pulau. Siapa pun yang berbuat jahat—datang dari dalam dan luar pulau, pasti ketahuan. Seperti dikisahkan Kades Paal Satu Ali Timen – saat kami KKN – orang yang membuat kekacauan dipastikan sengsara dibuat keadaan. Itu mengapa pulau tersebut aman dan tentram hingga kini.
Aku pun kaget, ketika pergi ke masjid ingin salat jumat bersama anak Pak Kades bernama Herdi. Sepeda motor yang membawa kami ke masjid, tinggal di parkiran dengan begitu saja. Kunci kontaknya ditinggal. “Her, kok ndak dikunci motornya?” kataku. “Ndak apa-apa, Kak. Ndak hilang, kok,” jawabnya. Tidak hanya di masjid saja, di pusat keramaian pun, sepeda motor diparkirkan—tidak hilang di Belitung.
Indah dan damai Belitung karena dikeliling laut dan pulau-pulau kecil lainnya. Di Pulau Lengkuas saja terdapat sebuah rumah kuno dan mercusuar yang berdiri sejak abad ke-19. Dua bangunan itu didirikan pada Pemerintah Hindia Belanda. Harkat dan martabat rakyat Belitung terangkat ketika film layar lebar Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi meledak di negeri ini.
Dua film dari novel yang ditulis Andrea Hirata, penulis asal Belitung pada tahun 2008, membuat penasaran penonton ingin tahu di mana Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah Gantong yang membuat gempar negeri ini. Kegigihan dan kegeniusan anak-anak bangsa dalam film Laskar Pelangi ternyata mampu mengungguli anak timah yang serbaberkecukupan itu.
Anak bangsa bernama Ikal, Lintang, dan Sahara dalam film yang diangkat dari novel Laskar Pelangi ternyata mampu membius negeri ini untuk bangkit dari kekurangan. Film itu juga telah mengungkapkan sejuta pesona keindahan Pulau Belitung yang telah lama diabaikan oleh pemerintahan Orde Baru. Jikalau negeri ini tidak berubah, Belitung tetap terpuruk.
Belitung oleh pemerintahan Orde Baru sangat identik dengan gudang pemberontakan PKI. Karena memang, di situ tanah kelahiran Aidit dan keluarganya. Selama tiga hari, pekan lalu, aku menapak tilas dari perjalanan yang dilakukan puluhan tahun silam. Jalan protokol dilebarkan, dihiasi lampu menambah gemerlapan pada malam hari. Pantai Tanjung Pendam ditata rapi, sebagai objek wisata terdekat dalam Kota Tanjung Pandan.
***
Pada Minggu sore, pekan lalu, sampailah aku melihat SD Muhammadiyah yang menginspirasi negeri ini. Tampak replika sekolah sama persis dengan kejadian yang ada di film. Masih tersisa meja dan kursi, atap dari seng bocor, berlantai tanah, dibangun atas jiwa keikhlasan oleh dua guru dengan seorang kepala sekolah yang sudah tua. Itulah potret pendidikan yang terjadi hampir di pinggiran negeri ini.
Sekolah nyaris banyak dibubarkan karena kekurangan siswa. Banyak juga sekolah hidup dari uluran tangan manusia-manusia berjiwa sosial. Tak hanya di Belitung, di Lampung pun menemui hal yang sama. Sementara sejahtera itu akan tercapai manakala rakyatnya sudah bebas dari melek huruf. Pendidikanlah yang mengangkat harkat dan martabat bangsa ini. Potret kebanggaan menjadi anak genius bernama Lintang menginspirasi anak-anak yang hidup serbakekurangan di pinggiran negeri ini.
Buah dari pendidikan akhlak yang ditanamkan Pak Harfan dan Bu Muslimah bagi anak-anak desa, kini menjadi yang terbaik untuk bangsa. Di balik kesuksesan pahlawan tanpa tanda jasa itu, ada ketidakpedulian penguasa negeri. Sehingga sekolah kebanggaan Ikal, akhirnya terkubur ditelan bumi karena sudah tak sanggup lagi membiayai hidup. Laskar Pelangi kenangan terindah dari Belitung yang menginspirasi anak bangsa.
Negeri ini harus belajar dari kegagalan. Dunia pendidikan adalah agen perubahan bangsa. Berubah tidaknya bangsa ini tergantung pendidikan. Saking getolnya untuk cerdas dan pintar, Indonesia berkomitmen mengalokasikan 20% anggaran pemerintah untuk bidang pendidikan. Tidak main-main, alokasi dana itu diatur dalam konstitusi.
Akan tetapi dalam pelaksanaannya, peraturan tadi tidak sepenuhnya dilaksanakan karena buruknya mentalitas aparatur. Kejadian itu masih segar diingatkan, bulan ini, aula SD/SMP Negeri 2 Satu Atap di Tiyuh Gedungratu, Kecamatan Tulangbawang Udik, Tulangbawang Barat, ambruk bahkan nyaris rata dengan tanah. Robohnya bangunan berusia 10 tahun itu karena kerangka atap tidak mampu menahan beban.
Publik pun menghakimi bahwa dana pendidikan sering kali salah sasaran dan dimanfaatkan untuk memasok isi kocek pejabat. Banyak kepala sekolah dan kepala dinas terjerat korupsi. Kampanye siswa miskin dan perbaikan fasilitas belajar untuk mendidik anak bangsa menjadi cerdas dan pintar, menjadi makanan empuk dan renyah untuk dimanipulasi dan dikorupsi. ***


