• Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
Kamis, September 17, 2026
Bung Is
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
No Result
View All Result
Bung Is
No Result
View All Result

Kompromi Madinah

Juli 26, 2015
in Refleksi
Lilin Kecil

ArtikelTerkait

Corona Belum Musnah!

Berkalang Limbah

Share Postingan ini :

DENGAN suara parau, mata berkaca-kaca menahan tangis, Mumuy Abdul Mukti mengisahkan di balik kesuksesannya meraih juara pertama Akademi Sahur Indosiar (Aksi) 2015, ada dua orang yang menjadi pahlawan bagi dirinya. Itu yang tidak bisa dilupakannya. Dia adalah sang sopir mobil pisang dan sekuriti (satpam) Indosiar sendiri.
“Ada pak sopir mengantarkan saya ke Jakarta, ada sekuriti Indosiar yang memberikan tumpangan menginap. Mereka sangat berjasa,” kata Mumuy, saat berkunjung ke Lampung Post, Selasa (21/7). Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Pringsewu melalui koran ini dan Radio Sai 100 FM menyampaikan ucapan terima kasih kepada masyarakat yang sudah memberikan dukungan sehingga dia menjadi juara dalam lomba dai di televisi swasta tersebut.
Kini, Mumuy menjadi buah bibir. Memang tak disangka banyak temannya, pria kelahiran Pugung, 27 Januari 1995 ini akhirnya menjadi bintang layar kaca. Dengan perawakan mungil, memanggul tas ransel kecil, Mumuy berangkat ke Jakarta menumpang mobil bak terbuka yang bermuatan pisang. Dia duduk di depan samping sopir. Makan dan minum pun dalam perjalanan dibayari sopir. Maklum, Mumuy hanya membawa uang pas-pasan.
Mobil yang tidak ber-AC, membuat bajunya basah kuyup disiram keringat. Lelah dan capek tak dirasakannya, begitu juga tubuhnya yang mungil itu tak membuatnya merasa minder mengikuti audisi dai. Sebagai anak kampung dan kuliah di perguruan tinggi swasta, memacu dirinya agar berhasil menjadi juara.
Mumuy adalah sosok manusia yang memberi inspirasi dan motivasi bagi anak bangsa di negeri ini. Tubuh yang kecil, tidak menjadi ukuran seorang berhasil atau tidak menjadi jawara. Janji Tuhan kepada manusia; Allah mengangkat derajat hamba bagi yang beriman dan berilmu pengetahuan.
Janji itu kini menjadi bukti. Mumuy milik umat. Dia memberi pencerahan bagi masyarakat. Bangsa yang besar ini menunggu dai pemersatu umat. Pejuang dan pendiri negeri ini pun tidak menginginkan Indonesia terpecah belah akibat konflik suku, agama, ras, dan juga antargolongan hanya karena kepentingan sekelompok manusia.
***
Mumuy muda sebuah harapan. Harapan menjadi pemersatu umat. Pondok Pesantren Al-Falah Gunungkasih, Pugung, Tanggamus, tempatnya menimba ilmu pengetahuan adalah bekal awal berdakwah menyerukan kebaikan, memerangi kejahatan. Tidak hanya Mumuy; dai, ulama, pastor, pendeta, juga biksu menjadi tumpuan umat agar bangsa ini damai, tegak lurus, dan sejajar dengan bangsa lain. Anak bangsa tidak menghendaki terkoyak-koyak karena konflik agama, suku, ras. Paling tidak, ada yang menginginkan Indonesia seperti Uni Soviet. Negeri itu hancur karena konflik berkepanjangan.
Peristiwa Tolikara Papua, Poso, Ambon, dan banyak lagi konflik suku, agama, dan ras lainnya menginginkan agar negeri ini hancur berkeping-keping. Luar negeri berupaya terus-menerus mengirim “fulus” memperdaya rakyat Indonesia. Tidak terasa anak bangsa di negeri ini menyiksa bangsanya sendiri. Luar biasa kekuatan asing itu, kukunya sangat kuat mencengkeram bumi Indonesia. Niatnya? Kalau tidak hancur, atau Indonesia tetap berada dan bertekuk lutut di kaki penguasa dunia.
Saat pertemuan tokoh lintas agama di Istana Negara, pekan lalu, Presiden Jokowi berharap pemuka agama berperan aktif mengatasi konflik suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Ulama, pastor, pendeta, kata Presiden, hendaknya tidak membuat jebakan dan jurang bagi umat, serta tidak memanas-manasi suasana. Indonesia tidak akan maju kalau terus-menerus rakyatnya terjebak konflik isu SARA dan primordial. Ingat! Indonesia bangsa yang beragam.
Sebenarnya menata pemerintahan sudah dicontohkan Nabi Muhammad saw. Masyarakat di periode Madinah adalah contoh nyata. Ikatan persaudaraan yang dibangun Rasulullah tidak hanya menguatkan posisi Islam sebagai agama, akan tetapi ikatan yang menghasilkan tata nilai untuk membangun masyarakat madani.
Suasana ikatan kebatinan itu masih sangat terasa sampai saat ini. Ketika melakukan perjalanan religius—haji dan umrah di Arab Saudi, perlakuan warga Madinah sangat santun dibanding di Mekah. Masyarakat Madinah saling menghargai, toleran, dan menjauhi pertengkaran dan permusuhan.
***
Jika toleransi itu tergerus, yang ada hanyalah dendam berkecamuk. Warga ramai-ramai membakar tempat ibadah, rumah, nyawa ikut melayang karena tidak ada harganya lagi. Solusi yang ditawarkan untuk meredam kebencian itu adalah jalan damai (islah) dan menegakkan hukum secara adil. Karena keberagaman Indonesia itulah, sikap toleransi perlu dikembangkan.
Jika konflik meletus, Kapolda Lampung Brigjen Edward Syah Pernong mengisyaratkan, tak ada lagi toleransi. Yang ada, kata dia, harga mati—menjaga negara kesatuan agar tetap utuh. Penegakan hukum dikedepankan.
Negeri penuh keberagaman ini hendaknya anak bangsa tidak memaksakan kehendak. Taati peraturan. Sangat indah sekali jika peraturan yang dibuat itu untuk kepentingan rakyat, bukan selera golongan tertentu. Peraturan yang dibuat juga tidaklah diskriminatif.
Jika terjadi konflik dan pemaksaan kehendak berbau agama, Islam secara tegas mengaturnya dalam QS Al-Kafirun Ayat 6, artinya: “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.” Dalam tafsir Al-Bahru Al-Muhith, penyebab Surah Al-Kafirun itu turun karena beberapa tokoh musyrik Mekah mendatangi Rasulullah. Mereka adalah Al-Walid bin Al-Mughirah, Umayyah bin Khalaf, Aswad bin Abdul Mutthalib. Tokoh ini menawarkan kompromi tata cara beragama. Awalnya, tokoh itu menawarkan harta, wanita, dan takhta agar Nabi saw berhenti berdakwah.
Tawaran yang menggiurkan itu tidak membuat Rasul tertarik. Terakhir, tokoh itu menawarkan agar sesekali Al-Walid dkk ikut menyembah Tuhannya Muhammad. Dan sekali-kali pula Muhammad beserta pengikut menyembah tuhan Al-Walid. Kompromi itu menyebabkan turunnya Surah Al-Kafirun. Artinya, setiap agama mempunyai aturan berbeda dan setiap agama memiliki ajaran berbeda pula. Jadi, agama tidak perlu penyatuan seperti tawaran Al-Walid. Sikapnya tegas!
Bagaimana Lampung? Tanoh Lada ini nyaris setiap tahun rusuh karena konflik kesukuan. Peristiwa Balinuraga, Anaktuha, adalah contohnya. Peristiwa Tolikara yang terjadi Jumat pekan lalu—di tengah umat Islam merayakan Idulfitri, tidak perlu menjalar ke Lampung. Masyarakat cinta damai Lampung menggelar pertemuan tokoh lintas agama yang digagas Polda, Pemprov, dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).

Sebenarnya, kerusuhan yang terjadi di negeri ini karena adanya ketimpangan ekonomi, rendahnya pendidikan, penguasaan sumber daya alam, sehingga rakyat sangat mudah sekali diprovokasi. Simbol-simbol kecemburuan sosial dan perilaku itu sengaja dipertontonkan secara terang benderang. Bangsa ini, negeri ini, daerah ini memerlukan tokoh pemersatu untuk menjaga kebhinnekaan tersebut. ***

Share Postingan ini :
Previous Post

Syahwat Mudik

Next Post

Uji Integritas Unila

Artikel Terkait

Lilin Kecil
Refleksi

Corona Belum Musnah!

Lilin Kecil
Refleksi

Berkalang Limbah

Lilin Kecil
Refleksi

Lampung Mendunia

Lilin Kecil
Refleksi

Bayar Mahal     

Lilin Kecil
Refleksi

Politikus Berakrobat        

Lilin Kecil
Refleksi

Entrepeneur Lokal    

Next Post
Lilin Kecil

Uji Integritas Unila

Lilin Kecil

Gelang Konvergensi

Lilin Kecil

Feedloter Merah Putih

Lilin Kecil

Visa Baitullah

Lilin Kecil

Negeri Meriang

Artikel Terbaru

Keterangan Ahli Pers Menegakan Wibawa Profesi dan Etika Jurnalistik

Pers sebagai Mitra Strategis dan Penyedia Solusi Konstruktif

Wakabid Pendidikan PWI Pusat Umumkan 31 Wartawan Kompeten UKW PWI Lampung

Buku Transformasi SDM Pendidikan Islam Di Era Globalisasi

Perkuat Fungsi Pers, LPEF Kawal Peningkatan Kualitas SDM

PWI Pusat Tetapkan Marthen Jadi Sekjen, Iskandar sebagai Wakabid Pendidikan

Facebook Twitter Instagram Youtube
Bung Is

Platform Bung Is berperan sebagai repositori media yang menjaga integritas jurnalistik melalui penguatan kompetensi dan etika profesi oleh Dewan Pers juga PWI di era digital. Seluruh konten, termasuk podcast dan opini, menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menghadapi tantangan teknologi serta memajukan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia.

Beranda
Refleksi
Bung Is Menyapa
Nuansa
Opini
Buku & Jurnal
Peraturan
Pedoman
Nota Kesepahaman Pers

Aktivitas
Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist