• Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
Kamis, September 17, 2026
Bung Is
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
No Result
View All Result
Bung Is
No Result
View All Result

Nyanyian Badai

Desember 28, 2014
in Refleksi
Rakyat yang Tersakiti
Share Postingan ini :

LAGU Nenek Moyangku Orang Pelaut itu tidak pernah lagi terdengar dan wajar kalau anak sudah tidak cinta dengan laut. Bahkan, mendengar laut pun diidentikkan tsunami (gelombang laut dahsyat) yang meluluhlantakan kehidupan di Bumi Serambi Mekah, Aceh, hingga negara tetangga pada 10 tahun silam.

Ada baiknya kita mengingat kembali lirik lagunya, Nenek moyangku orang pelaut. Gemar mengarung luas samudera. Menerjang ombak tiada takut. Menempuh badai sudah biasa. Angin bertiup layar terkembang. Ombak berdebur di tepi pantai. Pemuda berani bangkit sekarang. Ke laut kita beramai-ramai.

Harusnya lagu ini, kembali digelorakan agar anak Indonesia mencintai laut. Sekilas lirik lagu itu terkesan tanpa makna. Jika dipahami di setiap kata, menyiratkan, Indonesia dikenal sebagai negara maritim sejak dulu kala. Negeri ini sudah lama meninggalkan laut.

ArtikelTerkait

Corona Belum Musnah!

Berkalang Limbah

Kalau ingin bepergian sering menggunakan pesawat udara ketimbang kapal untuk melintasi berbagai pulau di Nusantara. Tidak perlu disalahkan, jika kekayaan yang terpendam di laut dijarah orang asing.

Lagu Nenek Moyangku Orang Pelaut harus kembali dikumandangkan di lembaga pendidikan anak usia dini hingga sekolah dasar. Bangsa yang besar ini patut berbangga. Ketika Joko Widodo kali pertama berpidato usai diambil sumpah sebagai presiden, mengutip moto TNI AL; Jalesveva Jayamahe. Moto mengandung arti justru di laut kita jaya, sebagai semboyan penyemangat bahwa tekad nenek moyang harus kembali membahana di bumi Nusantara.

***

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, dua pertiga wilayah adalah lautan, dan tidak sedikit potensi terpendam dimiliki Indonesia, termasuk di Lampung. Hal ini bisa terlihat dengan garis pantai setiap pulau sekitar 81.000 km, menjadikan Indonesia menempati urutan kedua setelah Kanada sebagai negara yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Kekuatan laut inilah jika digerakkan akan membangkitkan perekonomian Indonesia lebih maju lagi dan akan sejajar dengan Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, dan Thailand.

Besarnya kekayaan laut itu membuat banyak pihak asing berkeinginan memiliki dan menguasainya. Lampung bagian dari Indonesia memiliki potensi kelautan dan perikanan sangat besar. Luas perairan laut bumi Sai Ruwa Jurai 24,820 km persegi atau 41,2% dari wilayah daratan Lampung. Panjang garis pantainya 1.105 km dan memiliki 130 pulau kecil.

Besarnya potensi laut yang belum tergarap itu, kini dibangkitkan lagi melalui visi Indonesia menjadi poros maritim dunia. Potensi itu kerap menjadi incaran negara asing. Beberapa kasus belakangan ini mencuat, yakni pencurian ikan menjadi bukti nyata bahwa laut yang menyimpan kekayaan dari Sang Pencipta ingin dinikmati orang asing.

Apa pun alasannya, anak bangsa yang mencintai bahari sangat setuju dengan kebijakan menenggelamkan kapal pencuri ikan milik orang asing. Selama ini kita hanya bisa mengurut dada karena pencuri yang menjarah ikan di laut sangat leluasa, disinyalir orang Indonesia sendiri ikut membiarkan bahkan ada di belakang aksi pencurian. Indonesia dirugikan  Rp300 triliun setiap tahun. Selama ini tidak ada kekuatan yang mampu menghentikan praktik kejahatan berpuluh-puluh tahun tersebut.

***

Pekan lalu, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menggandeng Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ikut membasmi praktik kejahatan tadi. Ketua KPK Abraham Samad secara vulgar mengungkapkan ada beberapa institusi terkait tidak mendukung programnya dalam menindak illegal fishing atau pencurian ikan oleh kapal asing. Institusi polisi, TNI, dan kejaksaan diminta menindak dan menyelamatkan kekayaan laut.

Potensi melimpah di laut, jika penegak hukumnya tidak bekerja sama, kekayaan alam tidak bisa dinikmati rakyat. Kekayaan yang dikeruk dari laut hanya untuk memperkaya perampok. Kebijakan menenggelamkan kapal asing membuat gerah semua orang. Dari pengalaman selama ini, Susi menggandeng KPK untuk menangkap penjahat illegal fishing.

Jika itu tidak segera ditindak, nelayan dan rakyat tidak mampu menikmati ikan dengan harga murah. Ikan yang dijarah nelayan asing lalu diolah menjadi makanan di negaranya, lalu dijual dengan mahal di Indonesia. Akibatnya, banyak rakyat kekurangan protein hewani dari asupan ikan. Bayi Indonesia yang terlahir dengan tingkat kecerdasan di level 89, masih di bawah ASEAN yang mencapai 91,3.

Hal itu dipertegas oleh Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) KPP, Saut P. Hutagalung. Indonesia negara kepulauan dan memiliki laut yang luas, mempunyai ikan di mana-mana, tapi rakyatnya kekurangan protein hewani.

Kita harus menyadari mengapa negara asing selalu mengeruk kekayaan dari laut. Paling tidak, selain protein tinggi, hewan laut juga dihalalkan mengonsumsinya, termasuk yang sudah mati pun boleh dimakan. Dalam Alquran Surat Alnahl Ayat 14, “Dan Allah yang menundukkan laut untuk kamu agar kamu dapat memakan darinya daging ikan dan sebangsanya”.

Kebijakan Susi di penghujung 2014 adalah nyanyian badai, menguasai laut kembali untuk kemakmuran rakyat. Tadinya gerakan pemberantasan pencurian ikan oleh kapal asing, termasuk beking illegal fishing, hanya sebatas di mulut, kini menjadi kenyataan. ***

Share Postingan ini :
Previous Post

Cinta Sejati

Next Post

Rakyat yang Tersakiti

Artikel Terkait

Lilin Kecil
Refleksi

Corona Belum Musnah!

Lilin Kecil
Refleksi

Berkalang Limbah

Lilin Kecil
Refleksi

Lampung Mendunia

Lilin Kecil
Refleksi

Bayar Mahal     

Lilin Kecil
Refleksi

Politikus Berakrobat        

Lilin Kecil
Refleksi

Entrepeneur Lokal    

Next Post
Rakyat yang Tersakiti

Rakyat yang Tersakiti

Rakyat yang Tersakiti

Merebus Alam

Rakyat yang Tersakiti

Lonceng Berdentang

Rakyat yang Tersakiti

Nonton Drama

Lilin Kecil

Lilin Kecil

Artikel Terbaru

Keterangan Ahli Pers Menegakan Wibawa Profesi dan Etika Jurnalistik

Pers sebagai Mitra Strategis dan Penyedia Solusi Konstruktif

Wakabid Pendidikan PWI Pusat Umumkan 31 Wartawan Kompeten UKW PWI Lampung

Buku Transformasi SDM Pendidikan Islam Di Era Globalisasi

Perkuat Fungsi Pers, LPEF Kawal Peningkatan Kualitas SDM

PWI Pusat Tetapkan Marthen Jadi Sekjen, Iskandar sebagai Wakabid Pendidikan

Facebook Twitter Instagram Youtube
Bung Is

Platform Bung Is berperan sebagai repositori media yang menjaga integritas jurnalistik melalui penguatan kompetensi dan etika profesi oleh Dewan Pers juga PWI di era digital. Seluruh konten, termasuk podcast dan opini, menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menghadapi tantangan teknologi serta memajukan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia.

Beranda
Refleksi
Bung Is Menyapa
Nuansa
Opini
Buku & Jurnal
Peraturan
Pedoman
Nota Kesepahaman Pers

Aktivitas
Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist