• Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
Kamis, September 17, 2026
Bung Is
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
No Result
View All Result
Bung Is
No Result
View All Result

Lilin Kecil

Februari 1, 2015
in Refleksi
Lilin Kecil
Share Postingan ini :

KEGADUHAN yang menyelimuti negeri ini, tak lain karena ulah manusia. Tumbuhan dan hewan juga langit, bumi, serta gunung bertasbih memuji nama-Nya. Hanya manusia yang mempunyai akal dan pikiran bisa mengubah baik buruknya negeri ini.

Iya, manusia. Makhluk ciptaan satu ini sangat sempurna dibanding malaikat, jin atau setan. Kelebihan manusia karena mempunyai akal dan pikiran, juga nafsu. Nafsu ingin mengejar harta dan takhta. Terkadang manusia lupa, semua itu dibatasi oleh ruang dan waktu.

Negeri ini sangat merindukan pemimpin yang rendah hati, pemimpin tidak membuat kegaduhan, pemimpin yang menyebarkan keteladanan. Dosenku bercerita tentang Salman Al-Farisi. Nama Salman, terkenal dengan rendah hati. Bahkan, Institut Teknologi Bandung (ITB) memberi nama masjidnya dengan nama Salman.

ArtikelTerkait

Corona Belum Musnah!

Berkalang Limbah

Salman, kata dosenku, tergolong salah seorang sahabat Rasulullah saw. Dia berasal dari Negeri Persia. Rasul menunjuk Salman sebagai gubernur, di salah satu wilayah bekas jajahan Islam.

Jabatan itu tidak membuatnya sombong, tidak pula mengubah kepribadiannya, bahkan menepis sebagai titipan atau pesan dari penguasa dari luar kekuasaan jazirah Arab saat itu.

***

“Panas terik, siang itu, memaksa seorang warga Persia menarik paksa tangan Salman agar memikulkan karung berisi gandum sampai ke rumah warga yang menyuruhnya,” kata dosenku bernama Yusuf Hamiri mulai berkisah.

Tanpa banyak basa basi, Salman mau memikulkannya. Dalam perjalanan ke rumah, Salman berjumpa dengan salah seorang lelaki, lalu memberinya salam. Dia sangat terkejut melihat seorang gubernur memikul karung yang cukup besar.

Dosenku Yusuf lalu menirukan ucapan sahabat Salman kepada si empunya karung, “Wahai tuan! Tahukah Anda bahwa orang yang memikul karung milik tuan adalah Salman Al-Farisi, pemimpin negeri kita ini.”

Alangkah terkejutnya lelaki tadi mendengar ucapan sahabat Salman. Pemilik karung lalu meminta maaf, dia meminta Salman menurunkan karung di pundak sang gubernur. Salman pun menjawab, ”Tidak apa-apa, biarlah saya memikulnya sampai ke rumah tuan.”

Yusuf memang mengusik perhatian mahasiswanya, lalu dia berkata, adakah di negeri ini pemimpin seperti Salman Al-Farisi, seorang sahabat Rasulullah yang tidak mementingkan derajat kedudukan.

Yusuf pun bercerita soal sahabat Rasulullah bernama Umar bin Abdul Aziz. Kala itu, Umar menjabat amirul mukminin. Umar adalah tokoh antikorupsi. “Malam itu, Umar didatangi utusan gubernur ditanya soal keadaan penduduk, harga kebutuhan pokok. Lalu dijawab sang utusan, apa adanya tanpa ada yang disembunyikan. Begitulah laporannya kepada Umar,” tutur Yusuf.

Ketika utusan gubernur menanyakan keadaan Umar dan keluarganya. Sebelum menjawab pertanyaannya, Umar meminta pelayan mengganti lilin yang digunakan sebagai penerang rumah dengan lilin kecil. Lilin kecil yang digunakannya adalah milik Umar, sedangkan lilin besar yang dimatikan adalah milik negara.

Pertanyaan yang diajukan utusan tadi, ternyata tidak ada kaitannya dengan urusan negara, maka amirul mukminin mematikan lilin negara, lalu menggantinya dengan lilin miliknya sendiri. Itulah sikap kepemimpinan antikorupsi yang dimiliki Umar Abdul Aziz.

Dia sangat berhati-hati. Jangankan mengorupsi harta negara, memakai sebatang lilin milik negara pun tidak mau. Ketika ia diangkat sebagai pemimpin negara, Umar sempat menolak. Namun, rakyat tetap memilihnya.

Sebelum diangkat menjadi khalifah, kekayaan Umar berjumlah 40 ribu dinar. Setelah wafat, hartanya justru berkurang menjadi 400 dinar. Luar biasa! Pengorbanan pemimpin untuk rakyatnya. Yusuf hanya termenung, pemimpin bukannya bertambah banyak hartanya, Umar malah berkurang, nyaris habis.

***

Yusuf Hamiri yang kekhasannya memiliki jenggot panjang lalu membandingkan kepemimpinan Umar dengan keadaan saat ini. “Pejabat sekarang justru bertambah banyak kekayaannya setelah menjadi pemimpin atau wakil rakyat. Seakan tidak cukup gaji yang diambil dari pajak rakyat, masih juga mengorupsi uang rakyat,” kata Yusuf. Itu bisa terlihat dari laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

Berkaitan itu, tahun ini, tahun pemilihan umum kepala daerah (pemilukada), Lampung mencari pemimpin yang dipilih langsung di delapan kabupaten/kota. Rakyat akan memilih khalifah yang tidak doyan makan uang rakyat.

Jika diselenggarakan serentak pada Desember 2015, dipastikan bupati dan wali kota akan turun dari takhta singgasana karena masa jabatannya berakhir sebelum pemilukada dilakukan secara bersamaan.

Memang mengejar jabatan publik sungguh mengasyikkan. Di balik itu, manusia akan zalim dan bodoh jika tidak amanah. Pada 14 abad silam sudah dibahas dalam Alquran Surah Al-Ahzab Ayat 72.

Ketika amanah kepemimpinan itu ditawarkan kepada langit, bumi, serta gunung, semua menolak memikulnya. Mereka khawatir akan mengkhianatinya. Tapi manusia sanggup memikul amanah. Akan tetapi, manusia akan zalim dan bodoh jika ia tidak amanah. ***

Share Postingan ini :
Previous Post

Nonton Drama

Next Post

Konvensi Bersama Susi

Artikel Terkait

Lilin Kecil
Refleksi

Corona Belum Musnah!

Lilin Kecil
Refleksi

Berkalang Limbah

Lilin Kecil
Refleksi

Lampung Mendunia

Lilin Kecil
Refleksi

Bayar Mahal     

Lilin Kecil
Refleksi

Politikus Berakrobat        

Lilin Kecil
Refleksi

Entrepeneur Lokal    

Next Post
Lilin Kecil

Konvensi Bersama Susi

Lilin Kecil

Kalah Pamor

Lilin Kecil

Kaus Merah

Lilin Kecil

Urat Saraf

Lilin Kecil

Serba cepat

Artikel Terbaru

Keterangan Ahli Pers Menegakan Wibawa Profesi dan Etika Jurnalistik

Pers sebagai Mitra Strategis dan Penyedia Solusi Konstruktif

Wakabid Pendidikan PWI Pusat Umumkan 31 Wartawan Kompeten UKW PWI Lampung

Buku Transformasi SDM Pendidikan Islam Di Era Globalisasi

Perkuat Fungsi Pers, LPEF Kawal Peningkatan Kualitas SDM

PWI Pusat Tetapkan Marthen Jadi Sekjen, Iskandar sebagai Wakabid Pendidikan

Facebook Twitter Instagram Youtube
Bung Is

Platform Bung Is berperan sebagai repositori media yang menjaga integritas jurnalistik melalui penguatan kompetensi dan etika profesi oleh Dewan Pers juga PWI di era digital. Seluruh konten, termasuk podcast dan opini, menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menghadapi tantangan teknologi serta memajukan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia.

Beranda
Refleksi
Bung Is Menyapa
Nuansa
Opini
Buku & Jurnal
Peraturan
Pedoman
Nota Kesepahaman Pers

Aktivitas
Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist