• Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
Kamis, September 17, 2026
Bung Is
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
No Result
View All Result
Bung Is
No Result
View All Result

Cinta Sejati

Desember 21, 2014
in Refleksi
Rakyat yang Tersakiti
Share Postingan ini :

TELEPON kantorku berdering memecahkan keheningan malam,  5 Januari 1997, di Bumi Sriwijaya. Saat itu, pekerjaan di kantor sangat menyita waktu sehingga aku harus pulang larut malam. Dari gagang telepon, terdengar suara perawat, aku diminta segera datang ke rumah sakit di bilangan Jalan Demang Lebar Daun, Palembang.

Ternyata, istriku akan melahirkan, karena memang menurut kalender  umur kandungannya sudah cukup waktu untuk bersalin.  Selang beberapa jam, di tengah kesibukan persiapan melahirkan di rumah sakit, dokter meminta kehadiranku di ruang tindakan untuk menyaksikan proses persalinan. Maklum, dokter kebidanan adalah kakak sendiri, Zailani, namanya.

Dia bersama istrinya (Mariatul Fadillah, begitu namanya), yang juga seorang dokter, sengaja datang ke rumah sakit membantu sang suami menyambut kedatangan bayi, pada tengah malam itu. “Adik bersedia kan mendamping istri saat mengeluarkan jabang bayi dari mulut rahim nanti,” pinta dokter.

ArtikelTerkait

Corona Belum Musnah!

Berkalang Limbah

Kepalaku hanya mengangguk, tanda setuju. Pikirku, saat melahirkan anak pertama dulu, aku tidak diminta untuk menyaksikannya, malah disuruh menunggu di luar. Kali ini, anak kedua, aku diminta dengan sangat oleh sang dokter. Setelah selesai menyaksikan persalinan itu,  istri dokter berucap dan bertanya kepadaku. “Anda lihat tadi, bagaimana perjuangan seorang istri, ibu yang melahirkan anak,” kata dia.

Aku hanya terdiam. Lalu dokter Mariatul melanjutkan pembicaraannya. “Jabang bayi yang lahir dari rahim itu adalah buah perbuatanmu. Istrimu yang menanggung derita. Artinya, jangan sekali-kali menyakiti hati istri. Kedua, ingat ibumu. Saat ibu melahirkanmu, begitulah dia menahan sakit sampai ke ubun-ubun.”

***

Ibu sangat menyayangi, dia memberikan air susu ibu (ASI) siang dan malam. Saat aku melantunkan lagu berjudul Ibu karya Iwan Fals. “Ribuan kilo jalan yang kau tempuh. Lewati rintang untuk aku anakmu. Ibuku sayang masih terus berjalan. Walau tapak kaki, penuh darah, penuh nanah.  Seperti udara, kasih yang engkau berikan. Tak mampu ku membalas … ibu … ibu.

Temanku meneteskan air matanya. Bait demi bait lagu itu menyentuh. Dia teringat akan tulusnya cinta seorang  ibu berada di kampung. Kini, ibunya juga ibuku sudah tua renta, lagi sakit-sakitan. Terkadang aku menelepon dari kejauhan terdengar suara serak, dan mengeluh kakinya sakit karena pengaruh tulang mulai merapuh.

Ketika cinta dan doa datang dari ibu untuk anaknya, tak sanggup seorang pun menghalanginya. Karena doa dan kasih yang tulus dari ibu langsung turun dari langit untuk anak.  Cerita yang dikisahkan oleh hadis Nabi saw.: “Seseorang datang kepada Rasulullah dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tadi kembali bertanya, ‘Siapa lagi?’ Nabi menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang itu  bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi lalu menjawab, ‘Baru ayahmu.’”

Hadis tersebut menunjukkan kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu. Besarnya tiga kali lipat dibandingkan ayah. Ibu telah memberi semua kebaikan dan apabila anak sakit atau dirundung kesusahan, mulut ibu tak sudah-sudah berdoa bahkan mengeluarkan harta benda untuk anak.

Kalau dipilih antara hidup dan kematian, maka hati tulus dan cinta kasih seorang ibu akan meminta dengan suara yang paling keras agar anaknya tetap hidup dan bernapas. Ia pun ikhlas menerima kematian umtuk dirinya. Begitulah tulusnya cinta seorang ibu kepada anak.

***

Besok, Senin, 22 Desember adalah Hari Ibu. Tanggal tersebut  ditetapkan Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden No. 316 Tahun 1959. Dekrit diterbitkan berdasarkan pelaksanaan Kongres Pertama Perempuan Indonesia pada 22—25 Desember 1928. Pertemuan itu bertempat di Gedung Mandala Bhakti Wanitatama di Jalan Adisucipto, Yogyakarta, yang  diikuti pejuang perempuan dari 30 organisasi perempuan. Mereka datang dari 12 kota dari Pulau Jawa dan Sumatera.

Setiap tahun, hari bersejarah itu diperingati. Kita maknai hari teristimewa bagi seorang ibu, seorang istri. Bagaimana sosok ibu dalam merawat anak-anaknya? Membekaskah peringatan itu di hati anak-anak? Di tengah kesibukan orang tua, anak bisa terjerembap ketagihan narkotika dan obat-obatan terlarang. Tak jarang pula anak dihinggapi pergaulan bebas. Semuanya bermuara dari didikan orang tua.

Sering kita membaca di media cetak dan mendengar di media elektronik. Anak kandung menyakiti ibu, bahkan adu mulut hanya gara-gara uang. Terkadang hanya berebut harta kekayaan—sejengkal tanah—sang anak dengan membabi buta menghabisi nyawa orang tuanya.

Tidakkah dibaluri mulut ini dengan doa-doa: Ya Rabb, ampunilah kedua orang tuaku, sayangilah dia sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil. Jadikan ibu sebagai teladan untuk berbagi kebaikan.  Dari air susu ibu, terpancar kasih sayang dan penghormatan mulia dari anak untuk ibu yang melahirkan dan membesarkannya. Anak menemukan tulus sebuah cinta sejati, keikhlasan, dan  kebahagiaan dalam meniti dan menata kehidupan. ***

Share Postingan ini :
Previous Post

Biji dari Raja

Next Post

Nyanyian Badai

Artikel Terkait

Lilin Kecil
Refleksi

Corona Belum Musnah!

Lilin Kecil
Refleksi

Berkalang Limbah

Lilin Kecil
Refleksi

Lampung Mendunia

Lilin Kecil
Refleksi

Bayar Mahal     

Lilin Kecil
Refleksi

Politikus Berakrobat        

Lilin Kecil
Refleksi

Entrepeneur Lokal    

Next Post
Rakyat yang Tersakiti

Nyanyian Badai

Rakyat yang Tersakiti

Rakyat yang Tersakiti

Rakyat yang Tersakiti

Merebus Alam

Rakyat yang Tersakiti

Lonceng Berdentang

Rakyat yang Tersakiti

Nonton Drama

Artikel Terbaru

Keterangan Ahli Pers Menegakan Wibawa Profesi dan Etika Jurnalistik

Pers sebagai Mitra Strategis dan Penyedia Solusi Konstruktif

Wakabid Pendidikan PWI Pusat Umumkan 31 Wartawan Kompeten UKW PWI Lampung

Buku Transformasi SDM Pendidikan Islam Di Era Globalisasi

Perkuat Fungsi Pers, LPEF Kawal Peningkatan Kualitas SDM

PWI Pusat Tetapkan Marthen Jadi Sekjen, Iskandar sebagai Wakabid Pendidikan

Facebook Twitter Instagram Youtube
Bung Is

Platform Bung Is berperan sebagai repositori media yang menjaga integritas jurnalistik melalui penguatan kompetensi dan etika profesi oleh Dewan Pers juga PWI di era digital. Seluruh konten, termasuk podcast dan opini, menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menghadapi tantangan teknologi serta memajukan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia.

Beranda
Refleksi
Bung Is Menyapa
Nuansa
Opini
Buku & Jurnal
Peraturan
Pedoman
Nota Kesepahaman Pers

Aktivitas
Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist