TELEPON kantorku berdering memecahkan keheningan malam, 5 Januari 1997, di Bumi Sriwijaya. Saat itu, pekerjaan di kantor sangat menyita waktu sehingga aku harus pulang larut malam. Dari gagang telepon, terdengar suara perawat, aku diminta segera datang ke rumah sakit di bilangan Jalan Demang Lebar Daun, Palembang.
Ternyata, istriku akan melahirkan, karena memang menurut kalender umur kandungannya sudah cukup waktu untuk bersalin. Selang beberapa jam, di tengah kesibukan persiapan melahirkan di rumah sakit, dokter meminta kehadiranku di ruang tindakan untuk menyaksikan proses persalinan. Maklum, dokter kebidanan adalah kakak sendiri, Zailani, namanya.
Dia bersama istrinya (Mariatul Fadillah, begitu namanya), yang juga seorang dokter, sengaja datang ke rumah sakit membantu sang suami menyambut kedatangan bayi, pada tengah malam itu. “Adik bersedia kan mendamping istri saat mengeluarkan jabang bayi dari mulut rahim nanti,” pinta dokter.
Kepalaku hanya mengangguk, tanda setuju. Pikirku, saat melahirkan anak pertama dulu, aku tidak diminta untuk menyaksikannya, malah disuruh menunggu di luar. Kali ini, anak kedua, aku diminta dengan sangat oleh sang dokter. Setelah selesai menyaksikan persalinan itu, istri dokter berucap dan bertanya kepadaku. “Anda lihat tadi, bagaimana perjuangan seorang istri, ibu yang melahirkan anak,” kata dia.
Aku hanya terdiam. Lalu dokter Mariatul melanjutkan pembicaraannya. “Jabang bayi yang lahir dari rahim itu adalah buah perbuatanmu. Istrimu yang menanggung derita. Artinya, jangan sekali-kali menyakiti hati istri. Kedua, ingat ibumu. Saat ibu melahirkanmu, begitulah dia menahan sakit sampai ke ubun-ubun.”
***
Ibu sangat menyayangi, dia memberikan air susu ibu (ASI) siang dan malam. Saat aku melantunkan lagu berjudul Ibu karya Iwan Fals. “Ribuan kilo jalan yang kau tempuh. Lewati rintang untuk aku anakmu. Ibuku sayang masih terus berjalan. Walau tapak kaki, penuh darah, penuh nanah. Seperti udara, kasih yang engkau berikan. Tak mampu ku membalas … ibu … ibu.
Temanku meneteskan air matanya. Bait demi bait lagu itu menyentuh. Dia teringat akan tulusnya cinta seorang ibu berada di kampung. Kini, ibunya juga ibuku sudah tua renta, lagi sakit-sakitan. Terkadang aku menelepon dari kejauhan terdengar suara serak, dan mengeluh kakinya sakit karena pengaruh tulang mulai merapuh.
Ketika cinta dan doa datang dari ibu untuk anaknya, tak sanggup seorang pun menghalanginya. Karena doa dan kasih yang tulus dari ibu langsung turun dari langit untuk anak. Cerita yang dikisahkan oleh hadis Nabi saw.: “Seseorang datang kepada Rasulullah dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tadi kembali bertanya, ‘Siapa lagi?’ Nabi menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang itu bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi lalu menjawab, ‘Baru ayahmu.’”
Hadis tersebut menunjukkan kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu. Besarnya tiga kali lipat dibandingkan ayah. Ibu telah memberi semua kebaikan dan apabila anak sakit atau dirundung kesusahan, mulut ibu tak sudah-sudah berdoa bahkan mengeluarkan harta benda untuk anak.
Kalau dipilih antara hidup dan kematian, maka hati tulus dan cinta kasih seorang ibu akan meminta dengan suara yang paling keras agar anaknya tetap hidup dan bernapas. Ia pun ikhlas menerima kematian umtuk dirinya. Begitulah tulusnya cinta seorang ibu kepada anak.
***
Besok, Senin, 22 Desember adalah Hari Ibu. Tanggal tersebut ditetapkan Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden No. 316 Tahun 1959. Dekrit diterbitkan berdasarkan pelaksanaan Kongres Pertama Perempuan Indonesia pada 22—25 Desember 1928. Pertemuan itu bertempat di Gedung Mandala Bhakti Wanitatama di Jalan Adisucipto, Yogyakarta, yang diikuti pejuang perempuan dari 30 organisasi perempuan. Mereka datang dari 12 kota dari Pulau Jawa dan Sumatera.
Setiap tahun, hari bersejarah itu diperingati. Kita maknai hari teristimewa bagi seorang ibu, seorang istri. Bagaimana sosok ibu dalam merawat anak-anaknya? Membekaskah peringatan itu di hati anak-anak? Di tengah kesibukan orang tua, anak bisa terjerembap ketagihan narkotika dan obat-obatan terlarang. Tak jarang pula anak dihinggapi pergaulan bebas. Semuanya bermuara dari didikan orang tua.
Sering kita membaca di media cetak dan mendengar di media elektronik. Anak kandung menyakiti ibu, bahkan adu mulut hanya gara-gara uang. Terkadang hanya berebut harta kekayaan—sejengkal tanah—sang anak dengan membabi buta menghabisi nyawa orang tuanya.
Tidakkah dibaluri mulut ini dengan doa-doa: Ya Rabb, ampunilah kedua orang tuaku, sayangilah dia sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil. Jadikan ibu sebagai teladan untuk berbagi kebaikan. Dari air susu ibu, terpancar kasih sayang dan penghormatan mulia dari anak untuk ibu yang melahirkan dan membesarkannya. Anak menemukan tulus sebuah cinta sejati, keikhlasan, dan kebahagiaan dalam meniti dan menata kehidupan. ***


