KECELAKAAN pesawat AirAsia QZ8501 pada Ahad pagi, 28 Desember 2014, yang menewaskan 162 penumpang dan awak menyisahkan puluhan pertanyaan. Mengapa pesawat supercanggih itu jatuh? Karena faktor cuaca kah, teknologi, atau human error? Mulai dari praktisi, akademisi, hingga pengamat mengomentarinya.
Ada yang menyesakkan dada, ketika pengamat dan praktisi menyalahkan alam. Pesawat itu jatuh karena terjebak—masuk awan kumulonimbus (cb). Awan penuh butiran es, energi listrik di dalamnya, sehingga pesawat tersungkur dan terbelah di laut. Ada lagi yang menyebutkan, langit biru di negeri dihuni monster bernama kumulonimbus.
Apa pun alasan dari penyebab kecelakaan, Amerika Serikat, tidak pernah menyalahkan alam, cuaca. Paling tidak faktor kelalaian manusia. Manusia tak luput dari kekurangan. Manusia penuh keterbatasan bukan ingin menantang alam.
Masih ingat di benak kita, kecelakaan pesawat ulang-alik Challenger milik Amerika. Pesawat membawa misi penelitian dan investigasi berikut tujuh awak di dalamnya hancur berkeping-keping pada 28 Januari 1986.
Dalam hitungan detik ke-73 usai diluncurkan, pesawat buatan manusia itu buyar di atas Samudera Atlantik, lepas pantai Florida. Amerika menanggung kerugian 5,5 miliar dolar AS. Penyebabnya? Karena gagalnya roket pendorong badan pesawat. Roket pecah, membuat bahan bakar menyembur keluar. Ini yang memicu kebakaran sehingga pesawat meledak di udara.
Peristiwa itu disaksikan ratusan juta mata di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pesawat hancur bak mercon kembang api meledak membelah langit. Pesawat yang hancur itu, sebelum misinya pada 1985 akan dinaiki astronot pertama wanita Indonesia bernama Pratiwi Sudarmono. Kecelakaan itu tidak karena cuaca buruk, tapi keterbatasan manusia. Amerika langsung mengevaluasi program pesawat ulang-aliknya selama dua tahun.
***
Lalu bagaimana peristiwa hilangnya pesawat Adam Air di Laut Majene, tergelicirnya Lion Air di perairan Bali, juga AirAsia yang jatuh di Selat Karimata, Laut Jawa? Apa karena cuaca buruk? Semua kecelakaan pesawat di Indonesia karena lalainya perusahaan maskapai mengikuti aturan penerbangan.
Mereka menyalahkan awan kumulonimbus, penyebabnya? Kumulonimbus berasal dari bahasa Latin, “cumulus” berarti terakumulasi dan “nimbus” berarti hujan. Awan ini terbentuk hasil dari ketidakstabilan atmosfer.
Dalam komentar pengamat penerbangan, di dalam awan cb terdapat aliran butiran es yang dapat membekukan mesin pesawat, bahkan menyebabkan kerusakan. Awan itu juga terdapat badai petir dan listrik. Padahal alam semesta dan isinya diciptakan untuk kehidupan manusia, bukan membawa malapetaka.
Allah swt. berpesan melalui Nabi Muhammad saw. tentang awan kumulonimbus. Kebenaran awan cb diungkap dalam Alquran Surah An-Nur Ayat 43. “Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menjadikan awan bergerak perlahan lalu mengumpulkannya. Allah kemudian menjadikan awan-awan tersebut bertumpuk-tumpuk, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya. Dia juga menurunkan butiran-butiran es dari gumpalan-gumpalan awan yang besarnya bagaikan gunung-gunung. Maka, ditimpakan-Nya butiran-butiran es itu kepada siapa yang Dia kehendaki dan dihindarkan-Nya dari siapa yang Dia kehendaki. Kilauan kilatannya hampir-hampir menghilangkan penglihatan.”
Quraish Shihab dalam Tafsir Al Mishbah: “Ayat 43 Surah An-Nur mengisyaratkan suatu hakikat ilmiah yang baru diketahui setelah pesawat terbang ditemukan.”
Harun Yahya dalam The Signs in The Heavens and the Earth for Men of Understanding membuktikan kebenaran dan kesesuaian ayat-ayat Alquran yang menjelaskan fenomena hujan dengan sains modern. “Andai manusia mencoba mengatur daur di alam semesta, maka tak akan pernah berhasil, walaupun mengerahkan semua teknologi yang ada di bumi,” kata dia.
Dalam bukunya itu, Harun mengingatkan manusia baru mengetahui tahapan pembentukan hujan setelah radar cuaca ditemukan. Namun, Alquran telah menjelaskan secara detail pada 14 abad silam. Subhanallah, Nabi Muhammad tanpa satelit, pesawat, teropong, dan tanpa teknologi dapat menjelaskan jenis awan cb.
***
Bambang Pranggono, dalam bukunya Mukjizat Sains Alquran, 2008, menulis: “Setelah ditemukan bukti-bukti (tentang kejadian alam semesta termasuk awan cb), apalagi yang masih menghalangi kita untuk mematuhi semua perintah Allah yang tertuang dalam Alquran?”
Artinya, semua kejadian di atas muka bumi ini atas kehendak-Nya. Ketika kita berada dalam pesawat terbang, alangkah indahnya awan yang beriringan membentuk gunung dan lembah. Lalu kita melihat ke bawah, rumah, gedung puluhan tingkat, sungai, apalagi manusia sangat kecil dibanding alam semesta.
Tidakkah manusia berpikir dan menggunakan akal? Kapan anugerah dan bencana itu akan datang dan untuk siapa ditimpakan. Tanah longsor, tsunami, termasuk lumpur Porong Sidoarjo yang kini tak henti memuntahkan isi perut panas bumi. Ketika alam ini mulai bicara dan bertanya, tak satu pun manusia mampu menjawabnya.
Alam mulai merebus isinya, atau isinya sudah merebus alam? Karena isinya sudah tak lagi bersyukur. Dulu tidak ada banjir dan longsor. Kini bencana itu datang silih berganti. Hutan dibabat, alam dirusak demi isi kocek dan nafsu angkara.
Anak di sekolah pun kini sudah melupakan bagaimana mencintai alam, menjaga lingkungan, menyelamatkan diri jika terjadi longsor atau gempa bumi. Yang ada sekarang, orang tua dan guru sibuk menambah jam pelajaran anaknya untuk memperdalam matematika, fisika, kimia, bahasa asing, juga musik.
Ketika bencana itu datang, anak yang tidak dibekali bagaimana menghindari bencana, tak mampu menahan kedahsyatan dari kemarahan alam. Ini bukan hukuman, ini satu pertanda bahwa kita harus lebih banyak berbenah diri dan berbuat kebaikan. Jangan lagi merebus alam, tapi bersahabatlah dengan alam. ***



