• Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
Kamis, September 17, 2026
Bung Is
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
No Result
View All Result
Bung Is
No Result
View All Result

Biji dari Raja

Desember 14, 2014
in Refleksi
Rakyat yang Tersakiti
Share Postingan ini :

BIBIKU senang sekali mendongeng untukku menjelang tidur di saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Mulai dari cerita pahlawan perkasa, kancil dan buaya, hingga raja bijaksana selalu kudengar saat bibi, kakak perempuan ayahku, bermalam di rumah. Sambil mengusap kepala agar aku terlelap tidur, bibiku memulai cerita dengan memerankan tokoh dalam dongengnya. Malam itu, ia bercerita tentang anak jujur dan berani, kelak menjadi raja.

Seorang raja yang memasuki usia senja mengumpulkan pemuda di alun-alun. “Hari ini, saya akan mengumumkan sayembara, siapa yang akan menjadi raja menggantikanku nanti,” kata raja. Anehnya, kata bibiku, raja tidak mengumpulkan anak-anaknya juga saudaranya yang bakal mewarisi kursi singgasananya.

“Aku mengadakan sayembara. Pemuda yang hadir ini kuberikan biji dari buah semusim. Rawatlah, pupuklah biji itu agar tumbuh subur. Dua tahun mendatang, kalian kembali ke alun-alun ini membawa biji—yang tumbuh itu ke hadapanku. Jika berhasil, dialah calon penggantiku nanti,” begitulah titah raja kepada pemuda.

ArtikelTerkait

Corona Belum Musnah!

Berkalang Limbah

Seorang pemuda bernama Hamdi, lalu membawa biji yang dibagikan raja–pulang ke rumah. Hamdi menaruh biji itu dalam sebuah pot. Tiap hari, disiram, dipupuk. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun pun berganti. Keinginan agar biji itu tumbuh tak membuahkan hasil. Setelah waktunya tiba, dua tahun, Hamdi dicemoohkan  pemuda yang ikut sayembara. Sang teman dengan bangga membawa pot berisi tumbuhan dari biji yang diberikan raja. Begitu cerita bibiku.

Hamdi terdiam. Akan tetapi, karena dorongan ibunya, Hamdi membawa pot ke hadapan raja. Dia takut dihukum. Hamdi melihat semua pemuda membawa pot dengan tumbuhan subur berbaris di hadapan raja. Hamdi diperolok. Suasana jadi riuh. Raja menjelang sepuh beranjak dari tempat duduk, berkata, “Kalian diam semua! Hai pemuda (menunjuk Hamdi), kau ke depan.”

Hamdi menghampiri raja. Pikir Hamdi, dia mendapat hukuman karena biji tidak tumbuh seperti pemuda lain. Sambil menepuk pundak Hamdi, Raja lalu berkata, “Pemuda inilah yang akan menjadi raja, dan dia akan mempersunting anak perempuanku sebagai permaisurinya.”

“Dua tahun lalu, aku memberikan biji untuk ditanam. Kalian tahu ndak? Biji yang kuberikan itu sudah kumasak dan pasti tidak tumbuh. Ternyata kalian menggantinya dengan biji lain agar bisa tumbuh. Hanya pemuda inilah (Hamdi) berhati jujur dan berani membawa biji ke hadapanku. Maka dialah penggantiku,” ucap raja.

***

Dari cerita bibiku itu, ada pelajaran yang sangat berharga. Ternyata kejujuran dan keberanian membuat Hamdi selamat, melesat hidupnya. Berani jujur seperti sikap  Hamdi adalah tema dari peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia, 9 Desember 2014.

Dari perjalanan pencegahan dan penindakan korupsi di Indonesia, Kejaksaan Agung dibawah nakhoda H.M. Prasetyo berhasil membui puluhan koruptor di negeri ini. Pada 2014, Indonesia berada di peringkat ke-107 negara terkorup di dunia. Peringkat itu naik dari 114 dari tahun 2013. Peringkat itu dirilis Transparency International tentang Corruption Perseptions Index (CPI) 2014 di Berlin, Jerman, pada Rabu (3/12).

Organisasi antikorupsi itu setiap tahun mengeluarkan laporan korupsi global. Di Asia Tenggara, Singapura menjadi negara terbersih menempati peringkat 7. Lalu di mana posisi Indonesia? Negeriku di peringkat 107 dari 175 negara. Posisi Indonesia jauh berada di bawah Singapura (7), Malaysia, Filipina, dan Thailand (85).  Indonesia lebih baik dari Vietnam (119), Timor Leste (133), Laos (145), Kamboja, dan Myanmar (156). Indonesia lebih baik dari Rusia (136), Ukraina (142), Paraguay (150), Kolombia (161), dan negara Afrika.

***

Saat ini korupsi sudah menjalar hingga ke pelosok daerah. Jika korupsi terpusat di pemerintahan ibu kota, aparat dengan mudah mengenalinya. Sekarang sudah mengarungi sampai ke desa, kelurahan. Terlebih lagi jika diberlakukannya Undang-Undang (UU)  Desa.  Desa akan menerima gelontoran uang miliaran rupiah.

Sejak negeri ini berdiri, pemberantasan korupsi bukanlah hal yang mudah. Banyak godaan. Ada yang berupaya menghalangi hingga menggagalkan proses penegakan hukumnya. Korupsi dilakukan secara masif, sistematis, dan terencana. Korupsi bukanlah dilakukan oleh orang bodoh, melainkan orang bulus, berkocek tebal, bekerja sama dengan pemegang kekuasaan akan menggagalkannya. Ini yang mewarnai tindak pidana korupsi.

Mungkin anak bangsa berkaca kepada Moh. Hatta, tokoh proklamator RI. Dia terkenal jujur. Semasa hidup mendampingi Soekarno, bersahaja. Wakil Presiden pertama itu tidak pernah menyalahgunakan kekuasaan. Dari cerita ketiga anak perempuannya (Meutia, Gemala, dan Halida) terungkap dalam acara Mata Najwa di MetroTV,  sang ayah hidupnya sederhana dan sangat santun kepada anak.

Mungkin untuk membeli sepasang sepatu bermerek Aldo Brue—pakaian pejabat (saat ini) hingga akhir hayat Bung Hatta tak dimilikinya. Padahal, seorang wakil presiden dengan mudah menunjuk pengusaha membelikan sepatu untuknya. Namun, itu tidak dilakukannya. Anak bangsa satu ini menjaga integritasnya. ***

 

Share Postingan ini :
Previous Post

Madesu

Next Post

Cinta Sejati

Artikel Terkait

Lilin Kecil
Refleksi

Corona Belum Musnah!

Lilin Kecil
Refleksi

Berkalang Limbah

Lilin Kecil
Refleksi

Lampung Mendunia

Lilin Kecil
Refleksi

Bayar Mahal     

Lilin Kecil
Refleksi

Politikus Berakrobat        

Lilin Kecil
Refleksi

Entrepeneur Lokal    

Next Post
Rakyat yang Tersakiti

Cinta Sejati

Rakyat yang Tersakiti

Nyanyian Badai

Rakyat yang Tersakiti

Rakyat yang Tersakiti

Rakyat yang Tersakiti

Merebus Alam

Rakyat yang Tersakiti

Lonceng Berdentang

Artikel Terbaru

Keterangan Ahli Pers Menegakan Wibawa Profesi dan Etika Jurnalistik

Pers sebagai Mitra Strategis dan Penyedia Solusi Konstruktif

Wakabid Pendidikan PWI Pusat Umumkan 31 Wartawan Kompeten UKW PWI Lampung

Buku Transformasi SDM Pendidikan Islam Di Era Globalisasi

Perkuat Fungsi Pers, LPEF Kawal Peningkatan Kualitas SDM

PWI Pusat Tetapkan Marthen Jadi Sekjen, Iskandar sebagai Wakabid Pendidikan

Facebook Twitter Instagram Youtube
Bung Is

Platform Bung Is berperan sebagai repositori media yang menjaga integritas jurnalistik melalui penguatan kompetensi dan etika profesi oleh Dewan Pers juga PWI di era digital. Seluruh konten, termasuk podcast dan opini, menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menghadapi tantangan teknologi serta memajukan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia.

Beranda
Refleksi
Bung Is Menyapa
Nuansa
Opini
Buku & Jurnal
Peraturan
Pedoman
Nota Kesepahaman Pers

Aktivitas
Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist