• Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
Kamis, September 17, 2026
Bung Is
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
No Result
View All Result
Bung Is
No Result
View All Result

Dua Wanita

Oktober 15, 2017
in Refleksi
Lilin Kecil
Share Postingan ini :

AKU bangga melihatnya seorang perempuan, muslim, juga berdarah Melayu terpilih memimpin Singapura. Padahal, di negeri itu, warga dari etnik Tionghoa berjumlahnya 74,3% dan beragama non-Islam 86%. Itulah kalimat yang terucap dari teman kuliahku ketika ditanya, “Bagaimana pendapat Anda saat Halimah Yacob (63) terpilih menjadi presiden Singapura?”

Sungguh hebat wanita Halimah. Yang jelas, Halimah datang dari komunitas minoritas yang menginspirasi bangsa-bangsa di dunia ini. Halimah adalah warga Melayu kedua memimpin Temasek, sebutan Singapura, masa lalu. Yang pertama adalah Presiden Yusof bin Ishak yang meninggal dunia pada 23 November 1970 karena serangan jantung.

Langkah Halimah Yacob sangat mulus menggantikan Tony Tan Keng Yam menjadi presiden ke-8 Singapura. Data Dapartemen Pemilihan Singapura menyebutkan dari lima calon presiden yang maju, hanya Halimah memenuhi syarat. Dengan begitu, melengganglah mantan Ketua Parlemen Singapura itu sebagai calon tunggal tanpa pemilihan langsung.

ArtikelTerkait

Corona Belum Musnah!

Berkalang Limbah

PM Lee Hsien Long berharap Halimah sebagai figur pemersatu di negara multietnik. Alasannya, karena dia menyandang triple minoritas, yakni perempuan, Melayu, dan Islam. Di pundak perempuan kelahiran Singapura, 23 Agustus 1954 itu, multietnik dirawatnya. “Saya ingin melayani rakyat Singapura. Itulah satu-satunya tujuan saya dan tidak ada yang lain,” kata istri dari Mohammed Abdullah Alhabshee itu.

Halimah dilantik menjadi presiden wanita pertama pada hari Kamis, 14 September 2017. Halimah memiliki wewenang memveto atau tidak setuju dengan proposal pemerintah dalam sejumlah bidang. Seperti bidang fiskal, penunjukan jabatan publik, perintah penangkapan di bawah Undang-Undang Keamanan Dalam Negeri, dan penyelidikan yang dilakukan Biro Investigasi Korupsi Singapura.

Berdasarkan konstitusi, presiden di Negeri Singa ini memiliki peran seremonial dan komunitas. Peran seremonial menjadi kepala negara dan figur simbolis dalam acara kenegaraan berbagai kegiatan luar negeri. Peran komunitasnya adalah menggunakan pengaruh untuk mendukung kegiatan amal ataupun isu-isu sosial. Sementara kekuasaan pemerintahan dipegang seorang perdana menteri. Halimah diminta jadi figur pemersatu.

Sungguh beda dengan Pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi. Wanita penerima Nobel Perdamaian itu hidup di tengah mayoritas umat Buddha menindas rakyatnya sendiri. Suku Rohingya dari warga muslim di Negara Bagian Rakhine diusir—dalam operasi pembersihan etnik. Aung ternyata tik memiliki kendali atas kebiadaban militernya.

***

Pembantaian dan pengusiran etnik Rohingya oleh militer Myanmar tidak pernah berhenti. Dalam pidatonya, Aung mengecam pelanggaran HAM yang menyebabkan 410 ribu warga Rohingya mengungsi ke Bangladesh. Tapi, Aung tidak menanggapi tuduhan PBB bahwa konflik itu akibat ulah militer Myanmar dalam upaya pembersihan etnik dan agama.

Kelompok pemantau hak asasi dan pengungsi Rohingya menyebutkan militer Myanmar dan Buddha—menyulut kekerasan dan pembakaran untuk mengusir muslim—keluar dari negeri tersebut. Tak hanya muslim, umat Hindu juga diusir. Ditampung di desa kecil Hindu di selatan Bangladesh. Itu dipicu oleh ketegangan komunal oleh sekelompok orang bersenjata.

Krisis kemanusiaan di Rakhine membuat Aung gamang. Keinginan melindungi langkah militer dan memenuhi visi serta idealismenya sebagai tokoh pejuang demokrasi Myanmar. Kegamangan itu sangat terang benderang dalam pidatonya terkait krisis Rakhine. Di satu sisi, tak banyak progres yang ia sampaikan tentang situasi di negara bagian Myanmar itu.

Bahkan, media Barat menyebut pidato Aung sangat mengecewakan, karena ia membantah semua fakta di lapangan yang menunjukkan ada genosida terhadap etnik minoritas Rohingya. Dia mengecam seluruh pelanggaran HAM, tapi dia tidak menyinggung tuduhan pembersihan etnik. Warga Rohingya menuturkan militer Myanmar menembaki warga sipil dan membakar rumah penduduk. Mereka sangat ketakutan.

Aung diminta jadi tokoh pemersatu karena pemenang Nobel! Tapi, belakangan, laporan Human Rights Watch mengungkapkan sebanyak 62 desa di wilayah mayoritas Rohingya porak poranda. Rumah dibakar rata dengan tanah. Bahkan, Amnesty International menyebut militer Myanmar menggunakan ranjau untuk melukai warga Rohingya. Sangat biadab!

Tapi, Pemerintah Myanmar menolak semua tuduhan itu. Bahkan, militer menyatakan warga Rohingya sendiri yang membakar rumahnya. Masuk akal ndak ini? Dulu ada 900 rumah di Desa Rakhine. Sekarang hanya 80 rumah yang tersisa. Tidak ada lagi tanah untuk menguburkan jenazah muslim, korban penyerangan. Sungguh memilukan!

Aung menutup mata atas semua peristiwa yang menimpa warga muslim akibat dibantai militer. Tidak adil memang. Manusia Aung harus banyak belajar dari Halimah Yacob, pemimpin Singapura dari kalangan minoritas untuk mengayomi mayoritas. Nurani dua wanita itu sungguh beda.

Satu datang dari utara—Aung, namanya. Wanita itu menutup mata terjadinya pembantaian muslim Rohingya. Dan, satu lagi datang dari selatan bernama Halimah. Dia diminta menjadi pemersatu di negeri multietnik. Mereka memiliki misi berbeda untuk kepentingan rakyatnya. ***

Share Postingan ini :
Previous Post

Lowongan Koruptor

Next Post

Sentimen Rasial

Artikel Terkait

Lilin Kecil
Refleksi

Corona Belum Musnah!

Lilin Kecil
Refleksi

Berkalang Limbah

Lilin Kecil
Refleksi

Lampung Mendunia

Lilin Kecil
Refleksi

Bayar Mahal     

Lilin Kecil
Refleksi

Politikus Berakrobat        

Lilin Kecil
Refleksi

Entrepeneur Lokal    

Next Post
Lilin Kecil

Sentimen Rasial

Lilin Kecil

Berani Berikrar

Lilin Kecil

Cerdas Berliterasi

Lilin Kecil

Teluk (Tong) Sampah

Lilin Kecil

Wakil Tuhan

Artikel Terbaru

Keterangan Ahli Pers Menegakan Wibawa Profesi dan Etika Jurnalistik

Pers sebagai Mitra Strategis dan Penyedia Solusi Konstruktif

Wakabid Pendidikan PWI Pusat Umumkan 31 Wartawan Kompeten UKW PWI Lampung

Buku Transformasi SDM Pendidikan Islam Di Era Globalisasi

Perkuat Fungsi Pers, LPEF Kawal Peningkatan Kualitas SDM

PWI Pusat Tetapkan Marthen Jadi Sekjen, Iskandar sebagai Wakabid Pendidikan

Facebook Twitter Instagram Youtube
Bung Is

Platform Bung Is berperan sebagai repositori media yang menjaga integritas jurnalistik melalui penguatan kompetensi dan etika profesi oleh Dewan Pers juga PWI di era digital. Seluruh konten, termasuk podcast dan opini, menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menghadapi tantangan teknologi serta memajukan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia.

Beranda
Refleksi
Bung Is Menyapa
Nuansa
Opini
Buku & Jurnal
Peraturan
Pedoman
Nota Kesepahaman Pers

Aktivitas
Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist