• Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
Kamis, September 17, 2026
Bung Is
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
No Result
View All Result
Bung Is
No Result
View All Result

Kawokh Bukkok

April 9, 2017
in Refleksi
Lilin Kecil
Share Postingan ini :

SORE itu, Jumat (31/3), pukul 17.30, di lapangan parkir VIP Bandara Radin Inten II, Lampung Selatan, tidak seperti biasanya. Ratusan pasukan Brimob Polda Lampung dengan senjata dan berpakaian lengkap diberangkatkan ke Poso, Sulawesi Tengah. Pasukan elite polisi yang tergabung dalam Operasi Tinombala itu bertugas menumpas jaringan teroris Santoso.

Mereka pun dilepas dengan prosesi adat tarian keris rakian istinja darah Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Bkhak. Pelepasan 106 personel Brimob itu dihadiri Gubernur Lampung M Ridho Ficardo, Kapolda Irjen Sudjarno, Danbrigif 3 Marinir Kol Hermanto, dan perangkat adat Sekala Bkhak, seperti bahattur, pemberani, penggawa adat dari marga adat yang datang dari Pesisir Barat, Tanggamus, dan Kebandaran di pesisir Kalianda.

Tari keris rakian istinja darah menceritakan sejarah runtuhnya Kerajaan Sekala Bkhak yang dikendalikan Ratu Sekekhumong beraliran animisme. Ratu terbunuh dengan menggunakan keris Blambangan milik penyebar agama Islam. Mereka menginginkan tegaknya keadilan di Bumi Sekala Bkhak. Keris tersebut berlumuran darah Sekekhumong. Sejak terbunuhnya sang ratu oleh penyebar Islam, maka keris itu disebut rakian istinja darah.

ArtikelTerkait

Corona Belum Musnah!

Berkalang Limbah

Keris yang berumur 800 tahun itu, kini disimpan Saibatin Puniakan Dalom Beliau (SPDB) Pangeran Edward Syah Pernong. Benda pusaka itu selalu diselipkan di balik pakaian kebesaran Sultan Sekala Bkhak Yang Dipertuan Ke-23 pada saat upacara adat kerajaan. Hanya orang tertentu yang bisa memegangnya. Dan yang berhak membuka keris dari sarung hanyalah Pangeran Edward. Sungguh sakral keris rakian istinja darah!

Mewakili SPDB Pangeran Edward melepas pasukan Brimob ke Poso, sore itu adalah Saibatin Kebandaran Way Urang Marga Legun yang juga Dirkrimsus Polda Lampung Kombes Rudi Setiawan. Rudi bergelar Pangeran Sangun Ratu Ya Bandakh. Prosesi adat tersebut biasa dilakukan untuk melepas para pemberani yang bermuhibah di zaman dahulu.

“Prosesi adat rakian istinja darah juga digunakan untuk melepas para bangsawan kerajaan yang akan keluar untuk mendirikan negeri baru. Pasukan tersebut diberangkatkan di bawah pimpinan para Pang Tuha, yang tetap tidak berpisah hati dengan negeri asal. Hal tersebut dikenal dengan istilah ngebujakh lain miccakh,” kata Pangeran Edward.

Saat keberangkatan, kata Edward, pasukan Sekala Bkhak baik yang bermuhibah ke medan tugas atau mendirikan negeri baru haruslah membawa kawokh bukkok atau bambu buntu sebagai simbol keberanian, keutuhan, dan simbol kesetiaan. Filosofis kawokh bukkok, yakni bambu tidak berlubang yang tumbuh di Desa Kerang, Lampung Barat.

***

Bambu ini pernah dilarang pemerintahan penjajahan untuk diambil masyarakat. Belanda pun menerbitkan Peraturan Ordonansi van Kerang. Mengapa? Karena bambu itu dipakai pejuang melawan Belanda. Bambu itu membuat orang menjadi berani dan mengobarkan perlawanan terhadap penjajah. Bambu itu juga simbol keutuhan, kesolidan, keberanian, kesetiaan yang utuh. Bak membujur lalu melintang patah, dan bisa berpirau.

Munculnya kawokh bukkok ini dimulai dari uji kesetiaan seorang panglima yang diperintah Saibatin Paksi Pak Sekala Bkhak untuk memotong jari telunjuknya. Kemudian karena kesetiaan dari sang panglima itu, dipotonglah telunjuknya lalu dihanyutkan di Way Semaka.

Tempat berhentinya jari panglima tersebut, kemudian tumbuhlah kawokh bukkok serumpun bambu. Anehnya, bambu buntu itu tidak berlubang. Itulah sebabnya, kawokh bukkok menjadi simbol kesetiaan yang utuh bagi keluarga Sekala Bkhak. Selain itu, menjadi simbol keberanian.

Awal kemerdekaan Indonesia pertama kali diproklamasikan, Sekala Bkhak dipimpin Pangeran Suhaimi Sultan Lela Muda Saibatin Kepaksian Pernong. Dia mendirikan laskar Angkatan Pemoeda Indonesia (API). Suhaimi mempunyai pasukan pemberani, yaitu kawokh bukkok yang menggunakan bambu buntu sebagai senjata mematikan sekaligus simbol pelindung.

Tradisi kesetiaan itu telah menjadi legenda rakyat. Terbukti di era perang kemerdekaan, banyak bangsawan di tanah Lampung yang ikut terjun dalam revolusi kemerdekaan, muncul di beberapa palagan pertempuran. Antara lain adalah Palagan Lima Hari Lima Malam di Palembang, Palagan Kemarung, peristiwa Simpang Sender, dan lainnya.

Selain menunjukkan keberanian di beberapa palagan. Pasukan kawokh bukkok memperlihatkan kepatriotan dan kecintaan terhadap Tanah Air dengan keterlibatan dalam operasi-operasi militer untuk mempertahankan kemerdekaan. Itu sebabnya, banyak keturunan bangsawan Lampung menghiasi makam pahlawan sepanjang daerah Sumatera bagian selatan.

Dengan dilepasnya pasukan elite Polda Lampung dalam Operasi Tinombala—melalui prosesi adat—menginspirasi prajurit menjadi pemberani, memiliki kesetiaan yang utuh dalam membela Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pasukan Bhayangkara yang bertugas di Poso itu memiliki filosofi kawokh bukkok; tidak gentar, memiliki semangat yang tinggi menghadapi lawan di medan juang. Lalu kembali ke Lampung untuk menyatukan lagi potongan kawokh bukkok di tempat asalnya. ***

Share Postingan ini :
Previous Post

Nafsu Politik

Next Post

Koruptor Penyihir

Artikel Terkait

Lilin Kecil
Refleksi

Corona Belum Musnah!

Lilin Kecil
Refleksi

Berkalang Limbah

Lilin Kecil
Refleksi

Lampung Mendunia

Lilin Kecil
Refleksi

Bayar Mahal     

Lilin Kecil
Refleksi

Politikus Berakrobat        

Lilin Kecil
Refleksi

Entrepeneur Lokal    

Next Post
Lilin Kecil

Koruptor Penyihir

Lilin Kecil

Milih Satria Linuwih

Lilin Kecil

Pers Tidak Bernyawa

Lilin Kecil

Bunga Kebangsaan

Lilin Kecil

Sarung Penghormatan

Artikel Terbaru

Keterangan Ahli Pers Menegakan Wibawa Profesi dan Etika Jurnalistik

Pers sebagai Mitra Strategis dan Penyedia Solusi Konstruktif

Wakabid Pendidikan PWI Pusat Umumkan 31 Wartawan Kompeten UKW PWI Lampung

Buku Transformasi SDM Pendidikan Islam Di Era Globalisasi

Perkuat Fungsi Pers, LPEF Kawal Peningkatan Kualitas SDM

PWI Pusat Tetapkan Marthen Jadi Sekjen, Iskandar sebagai Wakabid Pendidikan

Facebook Twitter Instagram Youtube
Bung Is

Platform Bung Is berperan sebagai repositori media yang menjaga integritas jurnalistik melalui penguatan kompetensi dan etika profesi oleh Dewan Pers juga PWI di era digital. Seluruh konten, termasuk podcast dan opini, menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menghadapi tantangan teknologi serta memajukan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia.

Beranda
Refleksi
Bung Is Menyapa
Nuansa
Opini
Buku & Jurnal
Peraturan
Pedoman
Nota Kesepahaman Pers

Aktivitas
Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist