• Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
Kamis, September 17, 2026
Bung Is
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
No Result
View All Result
Bung Is
No Result
View All Result

Sarung Penghormatan

Mei 14, 2017
in Refleksi
Lilin Kecil
Share Postingan ini :

PERTAMA kali aku menginjakan kaki di pelataran Candi Borobudur tahun 1988, warisan keajaiban dunia itu buatku takjub. Batu alam yang tersusun rapi sejak ratusan tahun masih berdiri kokoh. Pengunjung bebas naik dan turun. Kini, peninggalan raja sanjaya dan syailendra itu sangat dihormati bagi wisatawan domestik dan mancanegara. Mengapa?

Borobudur bukan hanya tempat wisata, melainkan juga tempat ibadah. Umat buddha memusatkan peringatan hari Waisak di candi terbesar ini. Sehingga setiap pengunjung wajib menghormatinya dengan berpakaian sopan.

Awal tahun lalu, kedua kalinya aku berkunjung ke Borobudur. Banyak sekali perubahan. Semua tertata rapi, mulai pintu masuk hingga keluar.

ArtikelTerkait

Corona Belum Musnah!

Berkalang Limbah

Yang mau naik ke candi dilarang berpakaian celana pendek atau rok mini. Pengunjung wajib memakai sarung. Itu bentuk penghormatan tempat ibadah. Kalaupun sudah berpakaian tertutup, pengunjung tidak perlu lagi memakai sarung. Direksi PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko, pengelola taman wisata itu, mewajibkan pengunjungnya harus memakai kain sarung batik berlaku sejak 1 Februari 2010.

Kebijakan tersebut sebagai upaya memberikan penghargaan bagi Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, dan Candi Prambanan di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah sebagai World Cultural Heritage. Pertama kali Borobudur ditemukan, hanya bagian stupa utama yang berdiri dan terlihat di puncak bukit. Bertahun-tahun lamanya, sekitar stupa dimanfaatkan oleh penjajah Belanda sebagai lokasi bersantai sambil minum teh.

Setelah digali hingga dalam, ternyata stupa ditemukan pertama kali itu adalah bagian puncak dari sebuah candi yang sangat besar dan megah. Hingga sekarang, Borobudur menjadi bangunan peninggalan purbakala menakjubkan. Anak bangsa bahkan mancanegara datang menyaksikan monumen peninggalan Syailendra. UNESCO, badan dunia PBB membidangi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan, pun mengakuinya.

Tidak hanya memasuki skomplek percandian, terbang di atas Borobudur dan Prambanan termasuk Keraton Yogyakarta dilarang melintasinya. Awal Mei ini, Jupiter Aerobatic Team (JAT) diizinkan terbang di atas kedua tempat ibadah tersebut. Pemimpin JAT Letkol Pnb Kisha mengisahkan, “Baru kali ini kami beraksi di tempat-tempat spesial. Di Prambanan dan Borobudur, sebetulnya tidak boleh ada penerbangan di atasnya”.

Kompleks percandian yang ada di Jawa Tengah dan Yogyakarta jadi salah satu daya tarik utama mengapa wisatawan mancanegara berkunjung ke negeri ini. Borobudur, contohnya, sebagai candi agama Buddha terbesar di dunia, mendapat perhatian dunia. Sebab, Borobudur juga sebagai pusat tempat ibadah, khususnya pada hari Waisak, setahun sekali.

***

Hari Waisak diperingati karena ada tiga kejadian penting yang waktunya bertepatan di bulan purnama. Tiga peristiwa itu adalah kelahiran Pangeran Sidharta, pencapaian penerangan sempurna, dan pencapaian parinibbana. Dalam banyak buku disebutkan, Pangeran Sidharta adalah putra seorang raja bernama Raja Sudodhana dan Ratu Mahamaya. Sidharta lahir di Taman Lumbini pada 623 sebelum masehi. Dia dinobatkan sebagai bodhisatva.

Dalam kehidupannya, Pangeran Sidharta tidak pernah keluar dari istana. Dan di usia 29 tahun, putra raja ini pergi meninggalkan istana menuju hutan mencari kebebasan. Saat bulan purnama, Sidharta mencapai penerangan sempurna yang bergelar Sang Buddha. Ketika berusia 80 tahun, Sang Budha meninggalkan dunia fana ini. Dia wafat atau parinibbana.

Buddha mengajarkan kepada umatnya untuk mengembangkan kehidupan cinta kasih kepada setiap mahluk hidup. Dalam Dhammapada tertulis: “Kebencian tidak akan selesai jika dibalas dengan kebencian, tetapi dengan memaafkan, dan cinta kasihlah maka kebencian akan lenyap”. Sang Buddha juga mengajarkan tidak menebarkan kebencian, sikap saling menghargai, mengembangkan nilai cinta kasih di dalam masyarakat.

Indonesia di dalamnya ada umat Islam, Kristen, buddha, Hindu, dan Konghucu berkomitmen menjadi negara cinta damai, sikap saling menghargai dalam hidup keberagaman. Inilah aset bangsa yang sangat mahal memperkuat hubungan antarumat beragama. Luar negeri merasa iri dan mengapresiasi bangsa ini bisa memelihara perdamaian di tengah keberagaman.

Detik-detik Waisak di pelataran Candi Borobudur, Kamis (11/5), pukul 4:42:09—menginspirasi umat buddha. Perayaan itu ditandai pemukulan lonceng tiga kali dan pemercikan air berkah paritta jayanto. Bikhu Wongsin Labhiko dalam renungan mengatakan dunia ini tidak ada persoalan bagi orang bijaksana. “Persoalan itu tidak ada jika belajar pada kenyataan. Sesungguhnya dunia ini tidak kekal,” kata dia.

Dunia ini juga, kata Bikhu, tidak ada yang baru selain perubahan. Patut disadari, semua berubah dan bergerak. Namun, perubahan tersebut harus dilalui. Anak bangsa tidak perlu takut menghadapi krisis atau kesusahan. Dalam kesusahan itu, pasti datang kesenangan—kegembiraan. Setiap agama memberikan kebahagiaan dan kesejahteraan untuk umatnya.

Hanya orang-orang yang berpegang teguh dengan agama akan selamat meniti kehidupan. Cara berpikir anak bangsa dengan mengeluarkan energi negatif, akan membuat persoalan besar di negeri ini. Oleh sebab itu, umat beragama menghindari hidup tamak, tidak menebarkan kebencian dan permusuhan, sehingga bangsa ini menjadi hidup tentram dan damai. ***

Share Postingan ini :
Previous Post

Bunga Kebangsaan

Next Post

Gebuk Menggebuk

Artikel Terkait

Lilin Kecil
Refleksi

Corona Belum Musnah!

Lilin Kecil
Refleksi

Berkalang Limbah

Lilin Kecil
Refleksi

Lampung Mendunia

Lilin Kecil
Refleksi

Bayar Mahal     

Lilin Kecil
Refleksi

Politikus Berakrobat        

Lilin Kecil
Refleksi

Entrepeneur Lokal    

Next Post
Lilin Kecil

Gebuk Menggebuk

Lilin Kecil

Surat Pencucian Dosa

Lilin Kecil

Ideologi Negara Merapuh

Lilin Kecil

Memfitnah Qatar

Lilin Kecil

Cukup Lima Hari

Artikel Terbaru

Keterangan Ahli Pers Menegakan Wibawa Profesi dan Etika Jurnalistik

Pers sebagai Mitra Strategis dan Penyedia Solusi Konstruktif

Wakabid Pendidikan PWI Pusat Umumkan 31 Wartawan Kompeten UKW PWI Lampung

Buku Transformasi SDM Pendidikan Islam Di Era Globalisasi

Perkuat Fungsi Pers, LPEF Kawal Peningkatan Kualitas SDM

PWI Pusat Tetapkan Marthen Jadi Sekjen, Iskandar sebagai Wakabid Pendidikan

Facebook Twitter Instagram Youtube
Bung Is

Platform Bung Is berperan sebagai repositori media yang menjaga integritas jurnalistik melalui penguatan kompetensi dan etika profesi oleh Dewan Pers juga PWI di era digital. Seluruh konten, termasuk podcast dan opini, menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menghadapi tantangan teknologi serta memajukan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia.

Beranda
Refleksi
Bung Is Menyapa
Nuansa
Opini
Buku & Jurnal
Peraturan
Pedoman
Nota Kesepahaman Pers

Aktivitas
Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist