HARI Senin itu, 27 Agustus 1883, bumi Lampung bergoyang. Terlebih lagi di sepanjang bibir pantai ujung selatan Pulau Sumatera. Saat Gunung Krakatau meletus dahsyat—didahului getaran dan gemuruh suara yang memorakporandakan seisi rumah. Langit menjadi gelap gulita, air laut menggulung naik ke daratan, mengaramkan rumah penduduk. Selat Sunda terasa benar-benar kiamat.
Gunung api yang berada di tengah-tengah laut, antara Pulau Jawa dan Sumatera, menunjukkan keperkasaannya. Seluruh isi perut di dalam laut dimuntahkan ke udara. Ledakan juga terjadi di dalam laut. Tsunami superhebat meluluhlantakkan seisi kehidupan di pesisir pantai. Mengerikan sekali. Tak ada yang selamat dari bencana itu. Sedikitnya 35 ribu orang dinyatakan meninggal dunia.
Kini dunia mencatatnya. Sabtu pekan depan, sudah 133 tahun Gunung Krakatau meletus. Ada banyak cerita dan harta yang ditinggalkan gunung api itu. Paling tidak, ada buku yang menceritakan kehebatan ledakan Krakatau. Buku pertama adalah Krakatau, Ketika Dunia Meledak, 27 Agustus 1883 yang ditulis Simon Winchester.
Sebenarnya buku yang aslinya berjudul Krakatoa, The Day the World Exploded August 27, 1883. Buku ini diterbitkan pertama kali pada 2003. Karena berbahasa Inggris, Indonesia mempunyai kepedulian menerjemahkannya agar anak bangsa bisa membacanya. Dalam versi bahasa Indonesia, pertama kali buku itu diterbitkan oleh Serambi pada 2006 dengan judul Krakatau, Ketika Dunia Meledak, 27 Agustus 1883.
Dan, buku kedua yang menceritakan meletusnya Krakatau adalah Syair Lampung Karam. Buku ini disusun Suryadi. Di dalamnya berisi naskah bahasa Melayu dengan aksara Arab-Melayu (Jawi). Sebenarnya penulis naskah aslinya adalah Muhammad Saleh. Banyak orang ingin mengingat peristiwa dahsyat di Selat Sunda. Tidak hanya buku, tapi juga film di layar lebar bermunculan yang mendokumentasikan peristiwa tersebut.
Dua buku itu, menggambarkan kehebatan Gunung Api Krakatau, sebuah ciptaan Tuhan. Allah memperlihatkan kekuasaan-Nya. Di balik peristiwa, terdapat hikmah dan karunia bagi seisi alam hingga kini. Wisatawan bisa melihatnya dari dekat daya tarik gunung yang berada di tengah laut. Sedikitnya 50 spesies ikan, termasuk pepohonan cemara, dan di situ juga bisa dijadikan laboratorium alam untuk penelitian vulkanologi dan biologi, karena lebih dekat dan nyata—ilmu pengetahuan yang diperoleh.
Seisi pulau dan sekitarnya menyimpan harta karun pasir besi, emas. Terumbu karang eksotik, pantai pasir putih mengilat, pasir hitam yang memesona. Maka itu Pemerintah Hindia Belanda pada 1919 menetapkan kawasan tersebut sebagai cagar alam. Lalu badan dunia UNESCO pada 1991 mengakui Kepulauan Krakatau sebagai warisan alam dunia.
***
Dunia mengakui keindahan alam Krakatau. Bangsa ini? Sudah merdeka 71 tahun, tak satu pun keinginan yang kuat melestarikannya. Baru pada dua tahun lalu, Banten bercita-cita mendirikan Museum Krakatau. Sementara Nangroe Aceh Darussalam yang diterjang tsunami, hanya hitungan tahun sudah membangun museum terindah di Tanah Rencong. Itu mengapa, sebuah peristiwa dahsyat perlu diingat dengan sebuah tanda bernama museum.
Lampung harus sekuat tenaga mengumpulkan rangkaian cerita gempa terhebat di pesisir. Seperti pada bagian awal buku Syair Lampung Karam, terkisah adanya kebejatan moral penduduk dan kezaliman penjajah saat itu sehingga turunlah azab Tuhan dengan meletusnya Krakatau. Buku itu menggambarkan letusan dan tsunami yang sangat mengerikan sekali di Lampung.
Peringatan meletusnya Krakatau harus dimaknai agar Lampung terus dikenal dan dikenang dunia. Caranya? Festival Krakatau, sebuah perhelatan wisata dan budaya, setiap tahun harus dikelola dengan cerdas dan kreatif. Jangan ada kesan, sudah menghabiskan duit rakyat tapi tidak membekas di hati rakyat. Festival yang berlangsung di Bandar Lampung pada 21—28 Agustus 2016 bertemakan Lampung The Treasure of Sumatra.
Gubernur Lampung Ridho Ficardo, di Jakarta, Jumat lalu, menyadari permasalahan Festival Krakatau belum dikemas dengan baik sehingga festival tersebut belum mendunia. “Pada festival ke-25 ini, kami akan mempromosikan berbagai lokasi wisata di Lampung, seperti Pahawang, Teluk Kiluan, Gunung Krakatau, Air Terjun Putri Malu, Taman Nasional Way Kambas,” kata Ridho dalam sebuah konferensi pers bersama Sekretaris Kementerian Pariwisata Ukus Kuswara.
Pahawang, sebuah pulau indah. Snorkeling di kawasan Teluk Lampung tak kalah indahnya dengan Bunaken, Gili Trawangan, Raja Ampat. Dan Teluk Kiluan menawarkan lumba-lumba yang menari-nari di laut, langsung disaksikan dari habitatnya. Pada kesempatan itu, Ridho juga menjual Air Terjun Putri Malu, salah satu tempat wisata di Lampung yang belum dikenal. Dan paling banyak dikunjungi bule adalah Pantai Tanjung Setia, tempat wisatawan berselancar dengan ketinggian ombak 6—7 meter.
Agenda tahunan budaya yang pernah mendatangkan puluhan duta besar dari negara sahabat, termasuk Amerika, menyajikan jelajah kuliner, jelajah layang-layang, jelajah Krakatau, jelajah semarak budaya. Festival itu juga perlu menyelenggarakan pertemuan para investor sehingga menjadi ajang bisnis dan menghasilan pada masa mendatang.
Sambil mereka berbisnis, berlibur menjadi nomor wahid di Lampung. Pengunjung dilayani oleh sejumlah paket wisata murah dan nyaman, menjadikan kesan indah, sehingga ia mengajak keluarga dan sahabatnya kembali mengunjungi Lampung. Masyarakat pariwisata harus menyiapkan diri dengan layanan prima untuk transportasi, hotel, makanan, tempat hiburan, juga dapat membawa pulang suvenir unik dari Lampung. ***


