• Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
Kamis, September 17, 2026
Bung Is
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
No Result
View All Result
Bung Is
No Result
View All Result

Peluit Lautan Api

September 18, 2016
in Refleksi
Lilin Kecil

ArtikelTerkait

Corona Belum Musnah!

Berkalang Limbah

Share Postingan ini :

SELAMA dua minggu ke depan, Tanah Pasundan, Jawa Barat, benar-benar menjadi lautan medali bagi jawara olahraga di 44 cabang olahraga (cabor) yang dipertandingkan. Di perhelatan pesta olahraga bergengsi empat tahunan itu, anak bangsa memperebutkan sebanyak 2.491 medali, terdiri dari 756 medali berkeping emas, 756 perak, dan 979 keping perunggu.
Peluit yang ditiup menjunjung tinggi sportivitas, menandai dimulainya Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, tadi malam (17/9). Puncak perhelatan akbar itu dibuka oleh Presiden Joko Widodo. Acara pembukaan ditutup dengan pesta kembang api yang membuat decak kagum ratusan juta rakyat yang menyaksikannya.
Tak ketinggalan, jawara olahraga Lampung yang berkekuatan 140 atlet dan 70 ofisial di 27 cabor ikut memburu medali di Bumi Siliwangi. Perburuan medali itu hingga 29 September mendatang. Ada pesan tersirat Gubernur Lampung Ridho Ficardo pada saat penglepasan kontingen, Selasa (13/9). Lampung, kata dia, memiliki turunan juara yang dibuktikan menjadi lima besar berturut-turut dalam pengumpulan medali emas terbanyak.
Bahkan, kata dia, Lampung di peringkat nomor satu peraih medali terbanyak di luar Pulau Jawa, saat itu. “Jangan sampai PON kali ini, memalukan keturunan sebagai juara,” guyon Ridho sambil tersenyum. Sebagai Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Lampung, Ridho akan lebih sering ke Bandung memantau pasukan gajah Lampung berlaga meraih juara.
Dalam catatan sejarah, Lampung baru menguji nyali menjadi mental juara sejak pada PON VIII/1973 di Jakarta. Kala itu, PON mempertandingkan 27 cabor diikuti 26 provinsi. Dalam perolehan medali, Lampung bertengger di peringkat 10 dengan tiga emas dari cabang angkat besi. Prestasi yang cukup membanggakan. Lalu dua kali PON berturut-turut, Lampung harus puas di posisi 13 dan 15 dari 27 provinsi.
Tapi kala itu juga ada yang membanggakan Lampung. PON X/1981, salah satu medali emas yang diraih dari cabang sepak bola. Peluit sepak bola Lampung era klub Jaka Utama mampu menundukkan lawannya di lapangan hijau. Menjadi jawara di cabang sepak bola menandai bangkitnya olahraga daerah ini. Terbukti pada empat tahun kemudian, PON XII/1985 Lampung tembus di ranking delapan dengan 16 medali emas, 19 perak, dan 18 perunggu.
Dari lifter-lifter binaan Imron Rosadi di Padepokan Gajah Lampung itu, Lampung memborong semua medali emas di cabang angkat besi dan berat. Cabang satu ini membuat ciut atlet provinsi lainnya. Sejak itu, didikan Imron menjadi buah bibir seantero negeri. Mengapa? Ternyata cabor itu mampu mempersembahkan emas juga di pesta olahraga dunia.
***
Lampung memang hebat. Kehebatan itu terulang di PON X. Sejak PON 1989 hingga 2000 atau empat kali PON berikutnya, atlet daerah ini bertahan di peringkat lima besar setelah DKI Jaya, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Setelah itu, bagaimana nasib Lampung di PON 2004? Prestasi olahraga Lampung mulai tergerus di posisi delapan besar.
Dua pesta olahraga nasional itu pada 2008 dan 2012, keperkasaan Lampung digerogoti dengan praktik jual beli atlet oleh lawan dari provinsi lain. PON XVII/2008 di Kalimantan Timur, Lampung harus puas di posisi delapan. Celakanya lagi, di PON XVIII/2012 di Riau, perolehan medali pasukan Gajah Lampung kian melorot di ranking 10.
Bandung Lautan Api, akankah penyemangat Lampung memperbaiki peringkatnya. Ridho tidak menargetkan posisi dalam perolehan medali pada pekan olahraga kali ini. Paling tidak, harga diri Lampung bangkit dari ketidakberdayaan yang dijepit oleh olahraga provinsi lainnya.
Caranya? Menjaga soliditas dan disiplin serta tetap fokus meraih prestasi. “Diajarkan pelatih saya dalu, dua hal penting yakni fokus pertandingan dan semangat berjuang. Selain dua hal tersebut, jangan lupa ibadah, salat dan berdoa sebanyak-banyaknya,” pesan Ridho yang juga mantan atlet tenis lapangan. PON kali ini sebuah ajang kompetisi bergengsi dan berkualitas di level pemain muda untuk lima hingga 10 mendatang.
Sebuah harapan besar, PON di Tanah Legenda itu sebagai cikal pemain-pemain berbakat menuju gelanggang nasional. Gengsinya tinggi karena prakualifikasi sangat ketat, yakni antarprovinsi. Mereka menjaga nama baik daerah untuk kepentingan nasional. Sebuah tekad dari Lampung untuk Indonesia juga bertekad tembus ke pesta olahraga internasional.
Tidak itu saja, dalam sebuah diskusi olahraga tahun lalu, mantan juara dunia ganda campuran, Ivana Lie, berpendapat olahraga seperti dilakukan di Lampung memiliki potensi kembali berjaya di tingkat nasional asalkan didukung semua elemen. Masyarakat olahraga harus memperhatikan ilmu pengetahuan (iptek) dengan pendekatan sport science (ilmu olahraga).
Seorang olahragawan tidak cukup didampingi pelatih, akan tetapi ahli makanan, terapis, dan psikolog ikut memberikan dorongan agar optimal di gelanggang pertandingan. Usaha itu sudah dilakukan Tim Satlak Kontingen Lampung pimpinan Joko P Putranto. Keoptimisan Ketua Satlak bahwa anak Tanah Lada ini bertekad meraih posisi delapan besar kembali.
Sebuah harapan dan doa. “Dari hasil kajian yang dilakukan tim, posisi delapan besar akan kita rebut,” kata mantan Danrem 043/Garuda Hitam. Mari Bung kita rebut kembali jawara harga diri olahraga daerah ini. Jangan kembali pulang kalau sebelum menang wahai pejuang olahraga! ***

Share Postingan ini :
Previous Post

Pekik Hewan Pengijon

Next Post

Uji Nyali Pilkada

Artikel Terkait

Lilin Kecil
Refleksi

Corona Belum Musnah!

Lilin Kecil
Refleksi

Berkalang Limbah

Lilin Kecil
Refleksi

Lampung Mendunia

Lilin Kecil
Refleksi

Bayar Mahal     

Lilin Kecil
Refleksi

Politikus Berakrobat        

Lilin Kecil
Refleksi

Entrepeneur Lokal    

Next Post
Lilin Kecil

Uji Nyali Pilkada

Lilin Kecil

Restorasi Lampung

Lilin Kecil

Kotak Korek Api

Lilin Kecil

Cermin Buruk di Sawah Lama

Lilin Kecil

Diurut Nomor Cabut

Artikel Terbaru

Keterangan Ahli Pers Menegakan Wibawa Profesi dan Etika Jurnalistik

Pers sebagai Mitra Strategis dan Penyedia Solusi Konstruktif

Wakabid Pendidikan PWI Pusat Umumkan 31 Wartawan Kompeten UKW PWI Lampung

Buku Transformasi SDM Pendidikan Islam Di Era Globalisasi

Perkuat Fungsi Pers, LPEF Kawal Peningkatan Kualitas SDM

PWI Pusat Tetapkan Marthen Jadi Sekjen, Iskandar sebagai Wakabid Pendidikan

Facebook Twitter Instagram Youtube
Bung Is

Platform Bung Is berperan sebagai repositori media yang menjaga integritas jurnalistik melalui penguatan kompetensi dan etika profesi oleh Dewan Pers juga PWI di era digital. Seluruh konten, termasuk podcast dan opini, menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menghadapi tantangan teknologi serta memajukan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia.

Beranda
Refleksi
Bung Is Menyapa
Nuansa
Opini
Buku & Jurnal
Peraturan
Pedoman
Nota Kesepahaman Pers

Aktivitas
Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist