• Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
Kamis, September 17, 2026
Bung Is
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
No Result
View All Result
Bung Is
No Result
View All Result

Gelapnya Penumpang

April 12, 2015
in Refleksi
Lilin Kecil

ArtikelTerkait

Corona Belum Musnah!

Berkalang Limbah

Share Postingan ini :

NEGERI ini bak disambar petir di siang bolong. Seorang pria bernama Mario Steven Ambarita (22) menyelinap di roda pesawat Garuda Indonesia (GA 177) rute Pekanbaru menuju Jakarta, Selasa, 7 April lalu. Kok bisa, ada orang mendekati pesawat tanpa boarding pass. Peristiwa itu bukan pertama kali terjadi dalam dunia penerbangan Indonesia. Selalu berulang, seakan negeri ini tidak diurus dengan benar.
Selain Mario, ada lagi dua remaja yang nekat menjadi penumpang gelap—bersembunyi di roda pesawat dari Medan dengan tujuan Jakarta. Manurung dan Siswandi Nurdin Simatupang naik pesawat Airbus A300-B4 pada 23 September 1997. Untuk pertama kali, penumpang yang bergelap di roda pesawat itu terjadi pada maskapai penerbangan Mandala Airlines.
Penumpang gelapnya bernama Tasrono. Peristiwa itu terjadi pada 18 Februari 1981 di Bandara Kemayoran, Jakarta. Paling tidak, dari tiga peristiwa di atas, anak bangsa yang menjadi penumpang gelap ingin terkenal dan selalu diingat akibat kenekatannya.
Seperti Mario, dia berobsesi menjadi orang terkenal bahkan menyebut dirinya sebagai the new president. Hebat kan! Kehebatan naik di roda pesawat itu akan ditumpahkannya di akun Facebook juga Youtube. Anak negeri sudah tidak waras lagi. Segala sesuatu ditempuh melalui jalan pintas. Tidak mau capek, tidak mau berkeringat, apalagi mau berpikir. Itulah potret anak bangsa saat ini.
Otoritas Bandara Internasional Pekanbaru merasa kecolongan. Akibatnya, kepala bandara dicopot karena lalai menjalankan tugas. Penumpang gelap itu sendiri diancam hukuman kurungan 1 tahun atau denda Rp500 juta karena masuk bandara tanpa izin. Kalau sudah ada ancaman hukuman, mengapa peristiwa yang memalukan dunia penerbangan Indonesia selalu berulang.
***
Adalah Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan Megawati Soekarnoputri dengan suara keras dan lantang mengingatkan “penumpang gelap” yang berada di Istana Presiden. Kegalauan anak Sang Proklamator itu disampaikannya pada pembukaan Kongres IV PDI Perjuangan di Denpasar, Kamis (9/4).
Menurut Megawati, kepentingan penumpang gelap itu ingin menguasai sumber daya alam bangsa. “Kepentingan yang semula hadir dalam wajah kerakyatan, mendadak berubah menjadi hasrat kekuasaan,” kata Mega dengan mata berkaca-kaca menahan amarah. Mungkin, hasrat penumpang gelap di sekitar istana itu sama dengan hasrat yang diinginkan Mario setelah dia menyelinap naik di balik roda pesawat Garuda.
Dalam pidato berdurasi 35 menit di hadapan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wapres Jusuf Kalla (JK), Megawati membacakan puisi karya sang ayah, Bung Karno, yang berjudul Aku Melihat Indonesia. Puisi itu antara lain, “Jikalau aku mendengarkan burung perkutut di pepohonan, aku mendengarkan suara Indonesia. Jikalau aku melihat matanya rakyat Indonesia di pinggir jalan, apalagi sinar matanya anak-anak kecil Indonesia, aku sebenarnya melihat wajah Indonesia.”
Sebenarnya, Megawati mengingatkan Jokowi-JK yang kini dinilai sudah meninggalkan janji-janji saat kampanye Pemilu Presiden tahun 2014 lalu. Memang pemerintah harus dikontrol, diingatkan, dan saling mengingatkan. Apalagi kegaduhan di partai politik—y ng merembet ke parlemen membuat pemerintahan tidak stabil.
Dalam Alquran Surah Al-Ashr Ayat 1—3 yang artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, dan mereka yang saling mengingatkan tentang kebenaran dan saling mengingatkan tentang kesabaran.”
Manusia diciptakan menjadi pemimpin di atas dunia ini. Dia sebagai makhluk sosial karena hidup bermasyarakat. Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia pun senantiasa saling ketergantungan dan membutuhkan. Tidak hidup sendiri-sendiri.
***
Jokowi dikritik. Megawati autokritik. Pemerintah diminta kembali ke jalan yang benar, dan menghentikan praktik dan pembisik dari “penumpang gelap”. Lalu siapa penumpang gelap yang dimaksud Megawati? Menurut dugaan pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ikrar Nusa Bhakti mengarah kepada tiga orang yang kini berada di lingkaran istana.

Mereka adalah Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto, Menteri BUMN Rini Soemarmo, dan Kepala Staf Kepresidenan Luhut Binsar Panjaitan. Ketiganya disebut “Trio Singa”. Ikrar dikutip Metro TV (grup Lampung Post), mereka adalah orang kepercayaan Megawati. Andi adalah putra Theo Syafei. Theo sering membantu sang ketua umum, begitu juga Rini dan Luhut.
Belakangan ketiganya diduga menutup kran informasi dan juga akses komunikasi partai politik pengusung dengan Jokowi. Terkadang PDI Perjuangan hanya gigit jari dengan kebijakan Presiden yang memengaruhi rakyat. Seperti naik turunnya bahan bakar minyak (BBM), peraturan presiden tentang uang muka pejabat negara, termasuk dibentuknya lembaga kepala staf kepresidenan. Lembaga staf itu kini “merampas” tugas dan wewenang wakil presiden, menteri koordinator politik, hukum, dan keamanan, menteri sekretaris negara, menteri sekretaris kebinet, juga dewan pertimbangan presiden (wantimpres).
Direktur Eksekutif Institut Proklamasi Arief Rachman menggambarkan keberadaan lembaga staf kepresidenan yang dipimpin Luhut menjadi predator kewenangan dari lembaga-lembaga lain. Tidak hanya Arief mengatakan demikian, guru besar hukum tata negara Universitas Indonesia, Jimly Asshiddiqie, mengatakan hal yang sama.
“Patutnya Pak Luhut jadi Mensesneg saja, supaya dia mengoordinasi fungsi pelayanan kepada Presiden,” kata Jimly yang juga mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK). Jangan sampai perbuatan penumpang gelap—Mario membuat gelapnya penumpang, siapa kawan siapa lawan. Penumpang gelap yang akan mengeruk kekayaan sumber daya alam—diteropong Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Baik Jokowi maupun PDI Perjuangan saling mengevaluasi diri. Janganlah keduanya membuat kegaduhan. Cukuplah parlemen yang mempertontonkan kebobrokan, adu jotos di tengah rapat. Presiden dan menteri harus membangun negeri ini lebih baik lagi. Cukup sudah nasib Bung Karno, Pak Harto, dan Gus Dur berhenti di tengah jalan karena korban dari indahnya berpolitik. ***

Share Postingan ini :
Previous Post

Satu Ranjang

Next Post

Delapan Penjuru Angin

Artikel Terkait

Lilin Kecil
Refleksi

Corona Belum Musnah!

Lilin Kecil
Refleksi

Berkalang Limbah

Lilin Kecil
Refleksi

Lampung Mendunia

Lilin Kecil
Refleksi

Bayar Mahal     

Lilin Kecil
Refleksi

Politikus Berakrobat        

Lilin Kecil
Refleksi

Entrepeneur Lokal    

Next Post
Lilin Kecil

Delapan Penjuru Angin

Lilin Kecil

Mimpi Tiga Agama

Lilin Kecil

Terjaga Tidur Panjang

Lilin Kecil

Sekutu Kunci Terorisme

Lilin Kecil

Curhat Dayu dan Rohan

Artikel Terbaru

Keterangan Ahli Pers Menegakan Wibawa Profesi dan Etika Jurnalistik

Pers sebagai Mitra Strategis dan Penyedia Solusi Konstruktif

Wakabid Pendidikan PWI Pusat Umumkan 31 Wartawan Kompeten UKW PWI Lampung

Buku Transformasi SDM Pendidikan Islam Di Era Globalisasi

Perkuat Fungsi Pers, LPEF Kawal Peningkatan Kualitas SDM

PWI Pusat Tetapkan Marthen Jadi Sekjen, Iskandar sebagai Wakabid Pendidikan

Facebook Twitter Instagram Youtube
Bung Is

Platform Bung Is berperan sebagai repositori media yang menjaga integritas jurnalistik melalui penguatan kompetensi dan etika profesi oleh Dewan Pers juga PWI di era digital. Seluruh konten, termasuk podcast dan opini, menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menghadapi tantangan teknologi serta memajukan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia.

Beranda
Refleksi
Bung Is Menyapa
Nuansa
Opini
Buku & Jurnal
Peraturan
Pedoman
Nota Kesepahaman Pers

Aktivitas
Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist