• Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
Kamis, September 17, 2026
Bung Is
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
No Result
View All Result
Bung Is
No Result
View All Result

Sekutu Kunci Terorisme

Mei 10, 2015
in Refleksi
Lilin Kecil
Share Postingan ini :

AUSTRALIA kukenal sejak duduk di bangku sekolah dasar. Di sekolahku, kami dibimbing untuk gemar menyurati sejumlah kedutaan besar negara asing di Jakarta. Adalah Kedutaan Besar Australia yang merespons surat-surat kami, bahkan setiap bulan dikirim sejumlah buku pengetahuan tentang negara terbesar keenam luasnya di dunia itu.

Masih ingat di benak, radio Australia edisi Indonesia yang sering mengirim buku cara praktis belajar bahasa Inggris melalui siaran radio untuk didengar. Negeri itu sangat merespons surat kami dibanding Kedutaan Besar Belanda, Amerika, juga Inggris. Hasilnya? Teman-temanku mencintai Negeri Kanguru tersebut.

Banyak hal yang didapatkan dari Australia. Mulai dari mengenal suku asli bernama Aborigin hingga hewan berkantong bernama kanguru yang menggendong anaknya di “saku”. Dengan begitu, ketertarikan kami terus mendalami isi perut bumi benua terkecil itu.
Dari penduduk aslinya bernama Aborigin memiliki keahlian menggunakan senjata berburu. Senjata bumerang, sangat unik. Jika ia dilempar, senjata itu bisa kembali lagi. Bumerang digunakan untuk berburu binatang liar. Kini Aborigin dengan bumerangnya masih bertahan hidup di pedalaman Australia.
Ada kisah yang sangat menarik dari asal usul penduduk pendatang di Australia. Dalam catatan sejarah, Australia tempat pembuangan orang bermasalah dengan hukum (narapidana) di Inggris pada Januari 1788. Total narapidana yang diangkut dengan kapal ke benua ini sebanyak 160 ribu orang. Mengakhiri masa hukuman, mereka tidak kembali ke Inggris, tetapi menetap dan berinteraksi dengan penduduk asli hingga beranak pinak.
***
Kehidupan pendatang dari Inggris tidaklah begitu mulus menguasai Australia. Mereka harus berhadapan dengan Aborigin. Karena kekuatan politik, suku asli menjadi tersingkir. Apalagi bangsa-bangsa Eropa berdatangan dengan isu yang menyedapkan bahwa Australia menyimpan banyak emas dalam perut buminya.
Dengan begitu pula, orang-orang kulit putih yang ingin menguasai Australia menganggap Aborigin sebuah hewan. Anggapan itu digerus dengan percepatan proses asimilasi. Perkawinan campur kedua bangsa itu membuahkan hasil—anak-anak mereka tak lagi berkulit hitam. Karena pengaruh genetika, anak bangsa Aborigin banyak berkulit putih.
Bagaimana dengan Indonesia? Australia adalah negara mitra sejajar dan sama halnya dengan negara lainnya. Terkadang, kedua negeri ini bersitegang jika satu sama lainnya tidak menghormati kedaulatan negara. Australia sering membantu Indonesia, jika negeri ini dirundung bencana alam. Bahkan, bom Bali yang mengguncang Pulau Dewata puluhan tahun lalu, Australia turut serta mencari biang kematian yang paling mengerikan itu.
Kedua negara pun sempat tegang. Terakhir, keputusan Jakarta tetap melaksanakan eksekusi mati dua gembong narkoba asal Australia, Andrew Chan (31) dan Myuran Sukumaran (34), oleh regu tembak bersama enam terpidana lainnya, Kamis (29/4) dini hari. Canberra bereaksi dan langsung menarik duta besarnya dari Jakarta untuk konsultasi.
Ketegangan itu mereda setelah Duta Besar Indonesia untuk Australia Nadjib Riphat Kesoema menyampaikan rasa simpati untuk keluarga terpidana mati. Perdana Menteri Australia Tony Abbott tidak sampai satu pekan berucap, “Meskipun terdapat kesulitan beberapa hari terakhir, meskipun begitu banyak kemarahan yang dirasakan warga Australia, pada akhirnya, itu adalah kepentingan terbaik semua orang, bahwa hubungan ini dapat dipulihkan secepat mungkin.”
Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil mengungkapkan ketegangan akibat eksekusi mati dua warga Australia tidak akan mengancam neraca perdagangan Indonesia. Ketergantungan Australia terhadap pasar Indonesia, seperti ketergantungan Indonesia terhadap sapi dan produk daging beku Australia, sangat besar.
Abbott kembali berkata jujur, hubungan Australia-Indonesia harus dipulihkan kembali. Selain negara bertetangga, Jakarta dan Canberra merupakan sekutu kunci dalam kerja sama memerangi terorisme. Paling penting, Indonesia adalah mitra ekonomi bagi Australia. Tercatat, hubungan perdagangan barang dan jasa kedua negara mencapai 14,9 miliar dolar Australia atau Rp153 triliun pada 2013.
***
Belum lagi ketergantungan Australia ke Indonesia terkait industri peternakan sapi. Itu terungkap setelah perwakilan industri ternak sapi Australia berharap agar Pemerintah Indonesia memberikan kuota izin impor sapi tahunan, bukan setiap tiga bulan seperti yang berlaku saat ini. Permintaan itu menggugah Indonesia. Negeri ini mengumumkan kuota impor sapi Australia untuk kuartal kedua 2015, April—Juni, sebanyak 250 ribu ekor.
Sebelumnya pada kuartal pertama Januari—Maret, Indonesia hanya membolehkan 100 ribu ekor. Untuk dua kuartal pertama 2015, Indonesia mengimpor 350 ribu ekor sapi Australia. Apalagi menjelang bulan puasa. Dalam neraca perdagangan Australia, Indonesia merupakan tujuan ekspor terbesar sapi dari Negeri Kanguru berkisar 750 ribu ekor pada 2014.
Untuk menambah permintaan konsumsi daging sapi, salah satu industri peternakan sapi Australia, PT Great Giant Livestock (GGL), yang berada di kawasan Terbanggibesar, Lampung Tengah, mengembangkan industri daging berbasis petani. Hingga 2015, ribuan petani di Way Pengubuan dan Punggur menjadi mitra binaan GGL.
Saat menerima kunjungan dari sejumlah awak media dan pihak Kedutaan Australia, pekan ini, Direktur PT GGL Dayu Aryasintawati mengatakan kebutuhan daging di Indonesia sangat tinggi, sementara stok yang ada tidak mencukupi, baik sapi impor maupun lokal. Untuk itulah, PT GGL bermitra dengan petani untuk mengembangbiakkan sapi betina dan penggemukan sapi bakalan.
Kemitraan tidak hanya mengembangbiakkan sapi, juga kotoran ternak dapat menjadi bahan baku pembuatan biogas. Pupuk dan biogas adalah keuntungan lain dari pola kemitraan. Kerja sama yang menguntungkan ini adalah bagian strategi perusahaan untuk tetap bertahan di tengah impitan rencana impor sapi dari berbagai negara di Asia.
Lampung untuk menuju swasembada daging perlu mengkaji kembali impitan impor sapi Australia. PT GGL memilih kerja cerdas dengan pola kemitraan untuk menutupi kekurangan daging di pasaran lokal.
Ketidakcerdasan menteri pertanian di era pemerintahan Yudhoyono yang menyetop separuh impor sapi bakalan agar daging sapi lokal lebih dominan, teryata tidak menguntungkan negeri ini. Kebijakan itu untuk memperbaiki citra. Langka seperti ini tak ubah politik dagang sapi yang dimainkan parlemen—membuat anggota DPR ramai-ramai masuk bui. ***

ArtikelTerkait

Corona Belum Musnah!

Berkalang Limbah

Share Postingan ini :
Previous Post

Terjaga Tidur Panjang

Next Post

Curhat Dayu dan Rohan

Artikel Terkait

Lilin Kecil
Refleksi

Corona Belum Musnah!

Lilin Kecil
Refleksi

Berkalang Limbah

Lilin Kecil
Refleksi

Lampung Mendunia

Lilin Kecil
Refleksi

Bayar Mahal     

Lilin Kecil
Refleksi

Politikus Berakrobat        

Lilin Kecil
Refleksi

Entrepeneur Lokal    

Next Post
Lilin Kecil

Curhat Dayu dan Rohan

Lilin Kecil

Sapi Betina

Lilin Kecil

Daging Halal

Lilin Kecil

Satu untuk Lampung

Lilin Kecil

Tidurlah Bersama Barbie

Artikel Terbaru

Keterangan Ahli Pers Menegakan Wibawa Profesi dan Etika Jurnalistik

Pers sebagai Mitra Strategis dan Penyedia Solusi Konstruktif

Wakabid Pendidikan PWI Pusat Umumkan 31 Wartawan Kompeten UKW PWI Lampung

Buku Transformasi SDM Pendidikan Islam Di Era Globalisasi

Perkuat Fungsi Pers, LPEF Kawal Peningkatan Kualitas SDM

PWI Pusat Tetapkan Marthen Jadi Sekjen, Iskandar sebagai Wakabid Pendidikan

Facebook Twitter Instagram Youtube
Bung Is

Platform Bung Is berperan sebagai repositori media yang menjaga integritas jurnalistik melalui penguatan kompetensi dan etika profesi oleh Dewan Pers juga PWI di era digital. Seluruh konten, termasuk podcast dan opini, menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menghadapi tantangan teknologi serta memajukan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia.

Beranda
Refleksi
Bung Is Menyapa
Nuansa
Opini
Buku & Jurnal
Peraturan
Pedoman
Nota Kesepahaman Pers

Aktivitas
Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist