KONSUMSI informasi untuk publik kian bergeser. Itu ditandai dengan turunnya tiras surat kabar yang sangat drastis dan melesatnya jumlah pengguna internet. Anak bangsa di negeri ini tidak lagi menjadikan media konvensional, seperti media cetak dan siar, sebagai sumber utama dalam mendapatkan informasi. Justru publik lebih percaya media sosial yang lebih cepat menyebarkan berita politik, ekonomi, sosial, dan budaya.
Anak bangsa tidak hanya sebagai penikmat informasi, tetapi juga produsen informasi di media sosial. Terkadang, informasi yang viral melahirkan keraguan akan kebenarannya karena kredibel dan akurasi tidak dipenuhi. Pengajar UIN Sunan Kalijaga, Agung Fatwanto, mengatakan kabar fiktif yang disebarkan melalui akun media sosial jauh lebih cepat dan menjangkau banyak khalayak dibandingkan berita faktual.
Dosen yang menekuni bidang komunikasi itu meyakini fenomena tersebut menjangkiti rakyat Indonesia. Di negeri ini masih rendah tingkat literasi masyarakat. Berdasarkan riset UNESCO pada 2017, Indonesia menempati posisi ke-60 dari 61 negara yang diteliti. Rendahnya tingkat literasi itu berkorelasi dengan kurangnya pengetahuan, keterampilan, dan terlebih lagi rendahnya kemauan memverifikasi informasi yang diterima.
Lalu, bagaimana bidang jurnalistik menghadapi tantangan yang timbul akibat fenomena baru itu? Yang jelas, industri media harus berinovasi untuk beradaptasi. Masyarakat pers harus dibekali kompetensi berbasis teknologi agar tidak tersisih. Perusahaan media massa, baik cetak maupun siar, melakukan berbagai upaya agar bisa bertahan pada era industrialisasi media. Salah satunya adalah bermetamorfosis menjadi media konvergensi.
Kehadiran konvergensi media jadi pilihan terbaik berbisnis informasi yang cepat dan akurat. Kehadirannya juga menembus ruang-ruang kosong karena tekanan yang dahsyat. Dengan begitu, perusahaan pers mulai menancapkan kuku bisnis konvergensi di bawah pengaruh teknologi digital. Ini akan melahirkan dunia baru jurnalisme dengan multiflatform.
Patut dicatat, akibat melesatnya teknologi digital, koran-koran terkemuka Amerika Serikat berhenti terbit, seperti koran Seatle Post Intellegencer yang terbit 147 tahun di Negeri Paman Sam pada awal 2009 menyatakan berhenti terbit. San Fransisco Chronicle mengaku merugi sampai 50 juta dolar AS atau setara Rp450 miliar. Hal yang sama juga terjadi di Indonesia.
Meski tidak separah yang terjadi di negara maju, media cetak di negeri ini mulai menunjukkan kecenderungan serupa. Terakhir, pada 1 Maret 2018, koran tiga zaman Yogyakarta, Harian Bernas berhenti terbit. Bisnisnya dialihkan ke koran online dengan penguatan isi dan perwajahan. Bisnis portal berita di negeri ini terus meningkat.
Apalagi pengguna internet pada 2017 di negeri ini meningkatmenyentuh angka 143,26 juta jiwa. Angka itu separuh dari jumlah penduduk Indonesia, yakni 262 juta jiwa. Itu artinya, sebagian besar penduduk Indonesia sudah sangat akrab dengan internet.
***
Suka tidak suka, mau tidak mau, perusahaan pers perlu mengantisipasi kebangkrutan bisnisnya dengan menghadirkan konsep media konvergensi. Caranya? Awak redaksi dan marketing dituntut mampu menguasai peranti lunak dan keras untuk mempermudah proses kerjanya. Dengan begitu, peluang menyampaikan bisnis informasi berbagai kanal menjadi mudah.
Dan wartawan tidak hanya dituntut mampu menulis, akan tetapi juga memotret, mengedit, dan mengunduh berita, baik dalam bentuk teks, foto, maupun video. Konsep kerja sudah dilakukan awak redaksi Lampung Post di usia ke-44 tahun (10 Agustus 1974—2018). Koran ini terus bersolek—membenahi isi dan wajah, berinovasi memenuhi hati pembacanya.
Suplemen dan subdomain di kanal lampungpost.id dan lampost.co yang hadir setiap saat, bagian dari perubahan pada era konvergensi. Yang jelas, media konvergensi yang dikembangkan Lampung Post bukan sekadar proses teknologi yang mampu menggabungkan beberapa fungsi media, akan tetapi lebih untuk menyatuh keutuhan dalam bisnisnya.
Media konvergensi dalam jaringan Media Group–koran Lampung Post, laman lampungpost.id, lampost.co, lampost TV, dan Radio SAI 100 FM adalah sebuah cita-cita yang luhuruntuk mampu mengantisipasi kultur pembaca pada era zaman now. Konsumen selalu ingin mencari informasi terbaru dan terkini. Pada tahun ke-44 ini, harian dengan tagline “Teruji dan Tepercaya” terus berinovasi dari wajah, konten, juga bisnisnya.
Hadirnya portal desa.lampungpost.id dan portal lainnya di bawah payung Lampung Post pada usia 44 tahun ini, adalah bagian dari penguatan bisnis mencerdaskan kehidupan anak bangsa. Hadirnya desa.lampungpost.id sebagai jawaban atas keinginan menyuarakan aspirasi dari pinggiran. Seperti halnya dana desa yang dikucurkan Rp1 miliar setiap tahun adalah sebuah komitmen perubahan agar kehidupan di desa akan lebih baik lagi.
Dari desa itulah portal baru desa.lampungpost.id akan mengembangkan jurnalisme warga, dengan masyarakat lebih tertantang berpartisipasi lebih aktif mengirimkan informasi yang berada di sekitarnya. Portal desa akan membuka akses yang seluas-luasnya kepada rakyat yang kian cerdas dan kritis. Apalagi pundi dana desa mengisi kantong-kantong kesejahteraan anak bangsa yang sudah ikut memicu pembangunan di perdesaan.




