NEGERI Indonesia memasuki 71 tahun usia kemerdekaannya. Gegap gempita seantero Nusantara merayakannya. Tidak lupa berkumandang lagu Hari Merdeka ciptaan H Mutahar. Isinya? Membangkitkan semangat patriotisme anak bangsa. Apalagi datangnya pertolongan Allah—merebut kemerdekaan, maka tidak ada satu kekuatan dari mana pun yang dapat mengalahkan perjuangan saat itu.
Selama hayat masih di kandung badan, rakyat harus merekatkan dan membela Ibu Pertiwi. Dalam memaknai kemerdekaan itu, anak bangsa, khususnya kalangan dunia pendidikan, berupaya memperkokoh jati diri, memiliki karakter, tahan banting, dan mencintai kerja. Dengan begitu, anak-anak Indonesia mempunyai keterampilan dan profesional yang bisa diandalkan di pasar global. Bukan dibunuh masa depannya!
Adalah penutupan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 9 Bandar Lampung. Contoh yang paling anyar di daerah ini, ratusan masa depan anak bangsa yang sekolah kejuruan di Kelurahan Susunanbaru, ditutup hanya dengan sepucuk surat dari Wali Kota bernomor 550/IV/.40/HK/2016. Penutupan itu juga membunuh harapan Presiden Jokowi.
Bersama Jusuf Kala, Jokowi prorakyat ini menginstruksikan kepada seluruh instansi terkait untuk memaksimalkan peran sekolah kejuruan dan vokasi, bukan ditutup. Niat yang tulus Jokowi untuk menciptakan generasi siap kerja dan berkompetensi. Hingga kini, tercatat sebanyak 13.167 SMK tersebar di Indonesia. Sebanyak 3.300 di antaranya SMK negeri.
Pada 2010, SMK negeri dan swasta se-Indonesia hanya berjumlah 10.500 unit sekolah. Dan SMK yang memiliki sertifikasi kompetensi dari industri dan perusahaan sebanyak 1.650 sekolah. Artinya, setiap tahun SMK di negeri ini terus bertambah, termasuk bersertifikasi dengan status akreditasi A. Tapi niat tulus ikhlas itu tak berlaku di Bandar Lampung.
Berdirinya SMKN 9 di Susunanbaru setahun lalu itu, bak membangun istana pasir di tepi pantai. Apa yang telah dilakukan setahun lalu; kini sekolah sudah memiliki nomor induk dan menerima dana bantuan dari pusat, sangat mahal untuk ditutup. SMKN 9 tidak ubahnya menjadi mainan anak yang asyik membangun istana pasir di pinggir pantai.
Lihatlah, di tengah terik sinar matahari, anak-anak kecil sangat serius berimajinasi membangun istana yang bagus. Dia lupa waktu dan lupa makan. Dengan tatap yang merona dari matanya, istana nan indah itu seketika lenyap disapu ombak. Mereka pun kegirangan bersorak. Lalu mereka mulai membangun lagi istana yang baru, kemudian lenyap lagi diterjang ombak. Begitu seterusnya. Lelah, tapi hati mereka puas.
***
Hanya kerugian dan kebodohan, membangun SMKN 9 yang amat mahal, bangunan dari duit rakyat lalu ditutup. Sekolah itu tak ubah membangun tanpa fondasi yang kuat, seperti membangun istana pasir di tepi pantai tadi. Rakyat yang merugi. Berbulan-bulan membangun ruang kelas, dana dikucurkan agar menjadi sebuah sekolah—tetapi ujung-ujungnya ditutup.
Fakta penutupan yang dilakukan pejabat Pemkot dalam sebuah tayangan video yang beredar di media sosial pada 18 Juli lalu, membuat saya kembali merenung, membayangkan. Bersusah payah negeri ini mengumpulkan duit membangun peradaban di Susunanbaru, harus berakhir dengan sehelai kertas. Sering membuat orang lupa dengan jabatan dan fasilitas.
Di bawah kitab suci, ia bersumpah dan berjanji membawa kemaslahatan negara ini ke arah lebih baik. Tim Itjen Kemendikbud sudah ke lapangan, mengumpulkan data, memperoleh informasi. Anggota tim, Kasimin Budi Santoso, menyatakan kedatangan mereka ke SMKN 9 mengumpulkan bahan dan keterangan terkait keberadaan sekolah. Paling penting memastikan kegiatan belajar-mengajar berjalan lancar.
Dan berulang-ulang Direktur Pembinaan SMK Kemendikbud Mustaghfirin Amin dimuat hari ini, menegaskan siswa SMKN 9 harus tetap sekolah. Tapi, beda lagi dengan Kepala Dinas Pendidikan Bandar Lampung Suhendar Zuber. Anak buah Wali Kota ini berkukuh bahwa sekolah kejuruan yang berdiri di atas tanah hibah rakyat itu, ditutup melalui surat atasannya. Kata anak buah satu ini, surat keputusan Wali Kota itu sudah final dan mengikat.
Ingat! Anak bangsa pada 10 sampai 20 tahun mendatang menghadapi persaingan hebat di pasar global. Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi modal utama menghadapi tantangan global. Sudah berapa banyak lulusan SMK yang mampu menjawab kebutuhan itu? Hanya pekerja asing yang mampu menjawabnya, yang sudah merambah hampir di seluruh Tanah Air. Itu salah satu dampak dari kebijakan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang dimulai pada akhir tahun 2015 lalu.
Persaingan global adalah masalah paling mendasar di era MEA. Guna menjabarkan program Nawacita Jokowi-JK tentang peningkatan SDM, Direktur Pendidikan SMK Kemendikbud Mustaghfirin Amin berucap anak bangsa harus mampu memenuhi tuntutan global. Prioritasnya adalah pengembangan ketahanan pangan, kemaritiman, dan pariwisata.
Negara ini hadir memerlukan sistem pendidikan yang mendorong siswa mampu mengembangkan diri dengan kompetensi dan keahlian, bukan menutup sekolah kejuruan. Itu berarti menutup masa depan yang membangun kemandirian bangsa. Sangat pantas diucapkan jika sumber daya alam dikuasai asing karena anak Indonesia tak memiliki kemampuan untuk mengelolanya. ***


