• Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
Kamis, September 17, 2026
Bung Is
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
No Result
View All Result
Bung Is
No Result
View All Result

Dirongrong dari Dalam

Januari 24, 2016
in Refleksi
Lilin Kecil
Share Postingan ini :

NEGERIKU ini terus dirongrong. Konser teroris yang gagal pentas di Sarinah, jantung ibu kota negara, Kamis (14/1) lalu, aliran sesat Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang membuat geger karena puluhan warga hilang bak ditelan bumi. Hantu menakutkan yang merongrong itu, kini menembus pertahanan pendidikan anak masa depan bangsa.

Pekan ini, taman kanak-kanak (TK) dan pendidikan anak usia dini (PAUD) disuguhi buku berjudul Anak Islam Suka Membaca karya Nurani Mustain. Buku itu dinilai mengajarkan unsur kekerasan dan tidak tepat diajarkan bagi anak usia kanak-kanak. Pada jilid lima, di dalam buku tersebut terdapat kata-kata “sahid di medan jihad” dan “selesai raih, bantai kiai”.

Lalu pada jilid empat, terdapat kata-kata “munafik, bom, dan hati-hati manhaj batil”. Pada jilid ketiga, mengandung ajaran radikalisme seperti “gegana ada di mana, rela mati demi agama, kita semua bela agama, bazoka dibawa lari, dan hati-hati zona bahaya”. Luar biasa! Di usia anak yang tidak tahu-menahu persoalan negeri ini, sudah disuguhi bacaan tentang kebencian dan mengajarkan dendam kesumat.

ArtikelTerkait

Corona Belum Musnah!

Berkalang Limbah

Masih adakah di bumi Indonesia mengajarkan sopan santun, budi pekerti, sayang menyayangi, hormat menghormati? Sepertinya tidak ada kerelaan dan keikhlasan untuk hidup bersama dalam kedamaian. Adalah bangsa Yahudi dengan bangganya berhasil menyebarkan kebencian dan memecah belah. Lihatlah nasib bangsa Mesir, Iran, Irak, Suriah, Afghanistan yang berhasil diadu domba, dirontokkan berkeping-keping. Negara-negara besar dan kaya itu kini rapuh. Yang ada hanya berkobar perang saudara.

Indonesia? Negeriku tak ingin seperti negeri di Timur Tengah. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dicoba dikoyak rasa kebangsaan dari dalam. Mengatasnamakan agama, mengobarkan ledakan bom di mana-mana. Tanpa akar kuat yang mencakar perut bumi, pohon kebangsaan itu tumbang dan terkubur. Katakan tidak, untuk yang mengobarkan kekerasan.
Terorisme mengatasnamakan agama memperburuk citra agama. Tidak ayal, pendidikan berbasis keagamaan seperti pesantren Islam terstigma negatif oleh tindakan teroris yang mengatasnamakan Islam. Kapolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti mengisyaratkan pelaku teror banyak berlatar belakang pendidikan dari pesantren. Saat diteliti, kurikulum pondok pesantren yang santrinya terlibat terorisme pada dasarnya sama kurikulum pendidikan yang digunakan pesantren lainnya.
Paham radikal tidak tumbuh melalui pesantren. Paham itu bersemai melalui diskusi dan pengajian yang dilakukan kelompok radikal. Biasanya cara tersebut ampuh karena kerap mempropaganda seorang yang tidak memiliki nilai agama kuat. “Seorang yang sudah terkontaminasi hanya bisa diketahui melalui pemikiran, bukan berjenggot atau bercelana gantung,” kata Haiti pada acara silaturahmi nasional kiai dan pimpinan alumni Pesantren Gontor di Tangerang, Banten, Sabtu (23/1).
***
Tidak hanya paham radikal yang dikobarkan dari dalam untuk merusak negeri ini. Ternyata moral anak bangsa sejak usia dini juga akan dihancurkan. Warga Kota Bekasi, Jawa Barat, geger dengan beredarnya jajanan anak yang berhadiah mainan mirip alat kontrasepsi—kondom.
Jajanan yang dijual di kawasan Jalan Pekayon, Bekasi Selatan, dikemas dalam bentuk boks kecil berukuran 5 x 7 sentimeter dengan tulisan ‘Kotak Kado’ berisi kemasan saset Susu Mas Mocachino. Dalam satu boks berisi 30 saset, isinya mainan beragam jenis. Ada payung-payungan, mainan kecil, juga barang serupa kondom.
Dijualnya jajanan anak menyerupai kondom dan beredarnya buku untuk TK dan PAUD berjudul Anak Islam Suka Membaca, pekan ini, sungguh mengerikan. Pemerintah serta aparat keamanan tidak berpangku tangan. Perlu dibentuk tim khusus hingga ke pesolok daerah mengawasi peredaran kedua senjata yang mematikan anak muda tersebut.
Anak usia dini merupakan masa emas dan periode yang tepat dalam pembentukan karakter. Karena orang tua sangatlah berhati-hati dengan informasi lisan, tulisan, maupun tayangan yang diterima oleh anak. Karena itu segala informasi harus bebas dari unsur kekerasan, paham kebencian, radikalisme, serta pornografi. Alquran dalam Surah At-Tahrim Ayat 6 mengingatkan umat di bumi; “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Maka itu, Jenderal Badrodin menawarkan tiga hal yang bisa mencegah meluasnya paham-paham radikal. Pertama, melakukan kontra paham radikal seperti memberikan ceramah kepada masyarakat yang belum terkontaminasi paham radikal. Kedua, menerbitkan buku untuk mementahkan paham radikal. Dan ketiga, menggelar diskusi langsung dengan orang yang berpotensi terpengaruh oleh paham radikal.
Membendung paham radikal yang sudah bersemai di bumi Indonesia, maka Undang-Undang (UU) Antiterorisme harus direvisi. Anak bangsa harus berani merevisinya karena selama ini aparat keamanan hanya bertindak saat peristiwa sudah terjadi, sehingga teroris yang tertangkap hanyalah eksekutor, bukan petinggi yang mendoktrin paham-paham radikal. Dengan revisi UU tersebut, aparat bisa bertindak lebih awal untuk mencegah tindakan terorisme. ***

 

Share Postingan ini :
Previous Post

Gaya Dang Ike

Next Post

Nyamuk Nakal Mematikan

Artikel Terkait

Lilin Kecil
Refleksi

Corona Belum Musnah!

Lilin Kecil
Refleksi

Berkalang Limbah

Lilin Kecil
Refleksi

Lampung Mendunia

Lilin Kecil
Refleksi

Bayar Mahal     

Lilin Kecil
Refleksi

Politikus Berakrobat        

Lilin Kecil
Refleksi

Entrepeneur Lokal    

Next Post
Lilin Kecil

Nyamuk Nakal Mematikan

Lilin Kecil

Memaknai Monyet Api

Lilin Kecil

Negeri Sampah Plastik

Lilin Kecil

Kreativitas Lampung Mendunia

Lilin Kecil

Ruang Gelap dan Remang

Artikel Terbaru

Keterangan Ahli Pers Menegakan Wibawa Profesi dan Etika Jurnalistik

Pers sebagai Mitra Strategis dan Penyedia Solusi Konstruktif

Wakabid Pendidikan PWI Pusat Umumkan 31 Wartawan Kompeten UKW PWI Lampung

Buku Transformasi SDM Pendidikan Islam Di Era Globalisasi

Perkuat Fungsi Pers, LPEF Kawal Peningkatan Kualitas SDM

PWI Pusat Tetapkan Marthen Jadi Sekjen, Iskandar sebagai Wakabid Pendidikan

Facebook Twitter Instagram Youtube
Bung Is

Platform Bung Is berperan sebagai repositori media yang menjaga integritas jurnalistik melalui penguatan kompetensi dan etika profesi oleh Dewan Pers juga PWI di era digital. Seluruh konten, termasuk podcast dan opini, menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menghadapi tantangan teknologi serta memajukan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia.

Beranda
Refleksi
Bung Is Menyapa
Nuansa
Opini
Buku & Jurnal
Peraturan
Pedoman
Nota Kesepahaman Pers

Aktivitas
Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist