DUA jam mengobrol santai bersama Brigjen Ike Edwin, kapolda Lampung, di kediaman pribadi Lamban Kuning, Sukarame, Bandar Lampung, Kamis (14/1), banyak hal yang disampaikan jenderal bintang satu itu. Mulai dari kinerja polisi, strategi dan program Polda agar rakyat tak miring melihat aparat, hingga membuka kesempatan kepada masyarakat mengadukan persoalan yang melilit dirinya. Ike berkeyakinan Lampung lebih aman lagi.
Dalam waktu bersamaan, saat Ike menginjakkan kaki pertama bertugas di Mapolda, Kamis pagi itu, Jakarta sedang digoyang teror bom. Tujuh tewas, puluhan luka-luka. Kamis penuh makna bagi jagoan Perdana Menteri Kerajaan Adat Sekala Brak Kepaksian Pernong itu. Tak banyak cerita Dang Ike, panggilan akrabnya, soal teroris. Lampung langsung berstatus menjadi Siaga I karena daerah ini sebagai penyangga Ibu Kota Jakarta.
Darah reserse mengalir setiap saat dalam dirinya. Ike memantau perkembangan Ibu Kota. Pelabuhan Bakauheni sebagai pintu gerbang Sumatera diperketat. Lampung menjadi salah satu provinsi persemaian teroris. Setidaknya, ada 44 titik kawasan di Lampung tempat tumbuh dan berkembangnya paham kekerasan. Hal itu diungkapkan Edward Syah Pernong, kapolda Lampung sebelumnya, saat menjelang tutup tahun 2015.
Itu menjadi renungan. Rakyat Lampung harus waspada. Dalam buku karya Mochtar Lubis berjudul Manusia Indonesia: Sebuah Pertanggungjawaban. Ternyata Lubis dengan gamblang dan berani menyimpulkan sifat manusia Indonesia. Ciri manusia Indonesia, menurut Lubis, munafik, segan, dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, berjiwa feodalistik, percaya tahayul, artistik, berwatak lemah, boros, cemburu, dan tukang tiru.
Inilah dengan mudahnya anak bangsa di negeri ini dapat dibentuk berwatak radikal. Mereka memiliki sifat kejam, meledak, membunuh, mudah mengamuk, menindas, membakar, berkhianat, memeras, korupsi, menipu, termasuk tidak peduli dengan nasib orang lain. Kelemahan itulah yang dimanfaatkan aktor teror untuk membuat keresahan bumi Indonesia. Sepertinya, tidak lagi ada sisi baiknya dari anak bangsa ini.
Puluhan pengungkapan kasus terorisme menunjukkan banyak melibatkan pelajar dan remaja menjadi anggota kelompok teroris. Mereka berasal dari latar belakang pendidikan agama yang minim. Anak bangsa itu sangat mudah disusupi, didoktrin. Tak heran kelompok radikal terus bersemai di bumi Nusantara bak cendawan di musim hujan.
Dasar keyakinan mengakar dalam jiwa teroris. Lebih baik mati daripada ditangkap polisi. Dengan mati, mereka berkeyakinan sebagai syahid. Mati syahid mendapatkan kedudukan mulia di sisi Tuhan, meraih puluhan bidadari di surga. Luar biasa doktrinnya. Padahal agama, termasuk Islam, tak mengajarkan meneror orang. Apalagi membunuh nyawa manusia tidak berdosa. Perbuatan itu sangat biadab sekali. Maka itu, bangsa ini berkata: Lawan Terorisme, Kami Tidak Takut. Kami Ingin Hidup Damai.
***
Tokoh lintas agama kompak memerangi terorisme, membantu polisi dan aparat keamanan agar negeri ini tetap nyaman. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj mengajak semua elemen bangsa dari berbagai latar belakang suku, agama, atau ras mana pun untuk menjadikan teroris sebagai musuh utama. “Mari jadikan teroris sebagai musuh bangsa,” ujar Said di Jakarta, Kamis lalu.
Semua tokoh lintas agama menyuarakan tindakan teroris merupakan tindakan yang jauh dari ajaran agama mana pun. “Sangat kurang ajar menjadikan Islam sebagai alasan untuk melakukan teror. Tidak ada dosa yang paling besar yang mengatasnamakan Islam untuk melakukan kejahatan. Kejahatan bertentangan dengan ajaran Islam,” kecam Said.
Kebulatan tokoh lintas agama untuk melawan teroris itu, paling tidak membuktikan pendapat pengamat teroris Noor Huda Ismail. Dalam bukunya berjudul Kawanku Teroris, Noor menganggap pendalaman terhadap dinamika kehidupan teroris menjadi salah satu memutus mata rantai teror yang mirip tokoh mitologi Yunani, Hydra.
Tokoh itu mempunyai banyak kepala. Dipotong satu kepala, kepala lain muncul menggantikannya. Contoh pelaku bom Bali. Ditangkap dan dibui, tumbuh teroris baru lagi. Kini, ada aliran bernama Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) dan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) atau Negara Islam Irak dan Suriah. Aliran itu mengancam keutuhan negeriku ini.
Untuk mempersempit aliran itu, gaya Dang Ike Edwin sebagai komandan warga Bhayangkara mengumandangkan PIIL polisi Lampung. PIIL kepanjangan dari Profesional, Integritas, Iman dan takwa, serta Law enforcement atau penegakan hukum. PIIL menjadi komitmen Bhayangkara, harga diri polisi untuk mendatangi–anjau silau ke masyarakat. Ike melakukan layanan prima dengan menjadikan rumah dinas Kapolda sebagai rumah rakyat, tempat mengadukan persoalan.
Karena Lampung sebagai daerah pernah berkonflik dan tingginya aksi kejahatan, Ike menggerakkan kesatuan untuk melakukan operasi sepanjang masa. Luar biasa. Bahkan jenderal yang banyak bertugas di kota besar di negeri ini, memprogramkan “sidang rakyat bersama polisi” di lapangan terbuka. Masyarakat diberikan waktu dan kebebasan untuk menyampaikan keluhan terhadap kinerja polisi dalam melayani rakyat. Kapan? Kita tunggu saja aksinya. ***


