TIDAK ada kata lain agar tanah Lampung tetap aman dan nyaman, bandit yang selalu mencari mangsanya harus diburu setiap hari sehingga mereka tidak berkutik lagi. Jika penjahat merampok, membegal, lalu menghabisi nyawa korban, balasannya adalah nyawa. Utang nyawa dibayar nyawa. Imbang dong. Itu namanya hukum kisas, berarti pembalasan–memberi hukuman yang setimpal.
Dalam kasus pembunuhan, untuk membuat efek jera, hukum kisas haruslah dilakukan. Hal itu memberikan hak kepada keluarga korban untuk meminta hukuman mati kepada pembunuh. Sudah berapa banyak bandit–begal di daerah ini membunuh rakyat yang tidak berdosa. Mereka merampas harta korban dengan cara-cara keji.
Kebrutalan itu menyisahkan keresahan rakyat. Itu membuat geram Kapolda Lampung Brigjen Edward Syah Pernong. Dalam setiap napasnya, Pernong menginstruksikan agar penjahat yang menghabisi nyawa manusia tidak berdosa harus diburu dan dihabisi juga.
“Negara akan hadir ketika rakyat membutuhkannya,” kata Kapolda saat berpamitan kepada Lampung Post mengakhiri masa tugasnya di Lampung, di kantor harian ini, Jumat (8/1). Tujuh bulan tugas utama Pernong adalah memberantas begal, menyukseskan pemilukada serentak, dan meminimalisasi konflik sosial.
Darah memburu bandit di tubuh Pernong itu terus mengalir setiap saat, walaupun Surat Telegram Kapolri No. ST/2718/XII/2015 tertanggal 31 Desember 2015 tentang perpindahan tugas sudah diterimanya. Sabtu (9/1), Pernong masih menginstruksikan kepada anak buah—Tekab 308—untuk mengejar pelaku begal di Tulangbawang Udik. Penjahatnya terpaksa ditembak. Selain itu, dibongkarnya kasus begal yang diotaki mahasiswa perguruan tinggi negeri (PTN) terkemuka di Lampung ini.
Luar biasa! Ketika seorang pejabat yang akan mengakhiri masa tugasnya, dipastikan lagi berkemas dan memberesi barang untuk dibawa ke tempat tugas yang baru. Bahkan tak bersisa. Tapi, itu tidak untuk Pernong. Malah menjelang serah terima jabatan, tongkat komando masih digunakannya untuk memberesi bandit-bandit yang masih membuat resah rakyat di daerah ini. Jabatan boleh berakhir, tapi panggilan tugas untuk anak bangsa masih menjadi nomor wahid.
Langkah Pernong beserta jajarannya patut diapresiasi. Prestasi yang diukirnya selama tujuh bulan bertugas di Lampung, salah satu upaya mengembalikan kepercayaan rakyat terhadap polisi. Selama lima tahun terakhir, Lampung dikenal daerah konflik, begal, penyuplai begal untuk Ibu Kota. Kini, sebutan itu tak terdengar lagi.
***
Pernong berkeyakinan, penggantinya Brigjen Ike Edwin adalah sosok yang lebih ganas lagi terhadap laku bandit. Dia memberikan jaminan bahwa Lampung akan lebih nyaman lagi di saat daerah ini membangun, merias diri mengejar ketertinggalan dan kemiskinan.
Dua putra terbaik yang masih bertalian darah—sepupu—itu akan melakukan serah terima jabatan di Mabes Polri, Senin besok. Ike, tutur Pernong, lebih inovatif dan kreatif karena ia memiliki rekam jejak yang jelas selama berkarier di dunia kepolisian.
Sambil berseloroh, Edward yang menyandang gelar sultan Kerajaan Adat Sekala Brak Kepaksian Pernong itu bertutur Ike adalah adik sepupunya lebih berkreasi lagi menjaga keamanan dan ketertiban untuk tanah kelahirannya. Ike di kerajaan adat yang sama menjabat sebagai perdana menteri bergelar Gusti Batin Mangku Negara, dapat mengemban amanah sultannya.
Rakyat pun menunggu nyali agar Ike lebih trengginas memberesi bandit dengan kearifan lokalnya. Jenderal … Lampung lagi membangun, mengejar ketertinggalan. Lampung membutuhkan rasa aman bagi investor untuk keberlangsungan usaha. Rakyat yakin dan optimistis bahwa Ike menjaga Lampung lebih damai dan tenteram lagi.
Di penghujung masa jabatannya, Pernong mengalirkan darah melawan kebatilan—membasmi begal dengan pergelaran wayang semalam suntuk di lapangan parkir Mapolda Lampung, Rabu (6/1). Pesan tersirat dalam wayangan itu, walaupun Pernong berasal dari Lampung, jenderal satu ini paham dengan budaya Jawa—yang ditularkan untuk warga Bhayangkara.
Dia mengidolakan Adipati Karna karena sosok kesatria terhormat. Tokoh wayang bermartabat itu terletak pada kesetiaan, kehormatan, dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan kewajiban. Adipati Karna tidak mendua dalam bertugas dan mengabdi.
Lakon wayang yang didalangi Supardi Romo Putro dari Ambarawa, Pringsewu, Pernong berucap filosofi hidup Adipati Karna dengan rasa cinta kepada tanah air dan kesetiaan terhadap tugas yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Tokoh Adipati Karna mampu menginspirasi untuk menjaga kehormatan, berani, berakhlak mulia yang diterjemahkan dalam bertugas dan bermasyarakat. Itulah kesetiaan. ***


