TAHUN 2016, tahun optimisme. Pekerjaan rumah yang tidak bisa terselesaikan pada 2015, akan diselesaikan pada tahun ini. Apakah itu pembangunan yang menyangkut hajat hidup anak bangsa, juga upaya menekan tindak kejahatan yang menghantui Lampung lima tahun terakhir. Begal kian brutal, konflik komunal, peredaran narkoba, dan sengketa tanah yang berujung maut.
Optimisme itu muncul ketika Kapolda Lampung Brigjen Pol Edward Syah Pernong mengungkapkan angka kriminalitas di daerah ini menurun signifikan dibanding tahun lalu. Edward bisa bernapas lega karena penyelesaian perkara mencapai 65%.
Jumlah tindak pidana kasus konvensional juga mengalami penurunan. Menjelang tutup tahun 2015, Edward menjelaskan pada 2014 angka kriminalitas mencapai 8.823 kasus, sementara pada Januari—November 2015 mencapai 7.650 kasus atau turun sebanyak 1.173 kasus atau 14%.
“Penyelesaian tindak pidana kasus konvensional turun sebanyak 625 kasus atau 16,7%. Pada 2014 tercatat sebanyak 5.663 kasus. Pada Januari—November 2015 hanya 5.038 kasus. Penyelesaian perkara mencapai 65%. Pencapaian itu cukup membanggakan jajaran Polda Lampung,” kata Edward.
Tidak itu saja, tindak kriminalitas seperti curat, curat, curanmor (C3) ditambah penganiayaan berat dan pembunuhan, juga mengalami penurunan sebanyak 252 kasus. Jika pada 2014 tercatat 3.631 kasus, pada Januari—November 2015 menjadi 3.379 kasus. Pencapaian itu tidak membuat Edward sebagai putra Lampung menjadi sombong dan membusungkan dada. Dia menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan masyarakat dan kerja sama lembaga penegak hukum untuk mewujudkan Lampung aman dan damai.
Ketika menapakkan kakinya sebagai Kapolda di Lampung pada Juni 2015 lalu, Raja Kerajaan Adat Sekala Brak Kepaksian Pernong itu bertekad memulihkan nama baik daerah. Saat menjadi Kapolda, Lampung terkenal daerah “pengekspor” begal ke Ibu Kota, bahkan aksi begal di tanah kelahirannya sendiri kian tak beradab dan merajalela.
***
Tim Khusus Antibandit (Tekab) 308 dan program anjau silau bentukan Edward ternyata mampu menurunkan kejahatan. Pasukan elite antibandit membuat pontang-panting penjahat di daerah ini. Pernong yang pernah memenjarakan preman kelas kakap Hercules pada 2006 di Jakarta Barat, termasuk Syekh Puji tahun 2009 di Semarang itu, tak henti-hentinya menggerakkan kesatuannya untuk memburu bandit sampai ke lubang tikus.
Perburuan bandit itu terungkap dalam pengakuan gembong begal bernama Herlambang (32) yang ditangkap anggota Tekab 308. Dia mengisahkan sebelum dibekuk pernah menyebarkan pesan melalui telepon selulernya ke komplotan. “Hati-hati kawan! Penyakit-penyakit itu (Tekab, maksudnya) berkeliaran di mana-mana. Lebih baik kita sembunyi dulu daripada ditangkap.”
Alhasil, dalam operasi Tekab justru Herlambang-lah yang duluan dilumpuhkan. Ketakutan memberangus bandit oleh Tekab sudah menghujam ke jantung penjahat. Seperti halnya rakyat sangat ketakutan dengan kawanan begal. Operasi perburuan bandit itu sering mematikan karena penjahatnya melawan aparat.
Penanggulangan kriminalitas dengan program anjau silau mampu meredam konflik sosial dan mencegah tindak kejahatan. Begitu juga Tekab 308 yang khusus mengejar pelaku kejahatan telah memberikan efek jera. Rakyat juga puas terhadap kinerja polisi yang mampu melumpuhkan penjahat. Rakyat Lampung Selatan, Lampung Timur, Lampung Utara, Lampung Tengah, dan Mesuji, termasuk di Bandar Lampung, merasakan aman dan nyaman.
Polisi dibawah kendali Pernong mendapatkan angka 100 atau nilai A+ dari rakyat karena mampu menurunkan kejahatan dan konflik sosial. Di penghujung mengakhiri jabatan sebagai Kapolda, dia mendeteksi keberadaan kelompok militan tersebar 44 titik di Lampung. “Dari 44 tempat itu, ada 200 anggota militan yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka dari Lampung bahkan luar negeri. Aktivitasnya kami pantau sehingga tidak meresahkan rakyat,” ungkap Edward.
Terkait itu, diskusi publik menyoal kejahatan internasional di Universitas Lampung pada awal tahun ini terungkap, Lampung menjadi lintasan kejahatan antarnegara. Daerah ini sangat strategis dimasuki pelaku kejahatan berkaliber internasional, apalagi keterbukaan global Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
Rakyat sangat berharap bumi Ruwa Jurai tetap dalam genggaman aman dan nyaman, walaupun tongkat komando Polda Lampung beralih dari Edward Pernong kepada adik sepupunya Brigjen Ike Edwin pada pertengahan Januari. Penyelesaian semua persoalan di Lampung terurai jika melibatkan tokoh agama, adat, partisipasi masyarakat, pers, dan perguruan tinggi. ***


