• Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
Kamis, September 17, 2026
Bung Is
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang
No Result
View All Result
Bung Is
No Result
View All Result

Kelompok Militan Lampung

Januari 3, 2016
in Refleksi
Lilin Kecil

ArtikelTerkait

Corona Belum Musnah!

Berkalang Limbah

Share Postingan ini :

TAHUN 2016, tahun optimisme. Pekerjaan rumah yang tidak bisa terselesaikan pada 2015, akan diselesaikan pada tahun ini. Apakah itu pembangunan yang menyangkut hajat hidup anak bangsa, juga upaya menekan tindak kejahatan yang menghantui Lampung lima tahun terakhir. Begal kian brutal, konflik komunal, peredaran narkoba, dan sengketa tanah yang berujung maut.
Optimisme itu muncul ketika Kapolda Lampung Brigjen Pol Edward Syah Pernong mengungkapkan angka kriminalitas di daerah ini menurun signifikan dibanding tahun lalu. Edward bisa bernapas lega karena penyelesaian perkara mencapai 65%.
Jumlah tindak pidana kasus konvensional juga mengalami penurunan. Menjelang tutup tahun 2015, Edward menjelaskan pada 2014 angka kriminalitas mencapai 8.823 kasus, sementara pada Januari—November 2015 mencapai 7.650 kasus atau turun sebanyak 1.173 kasus atau 14%.
“Penyelesaian tindak pidana kasus konvensional turun sebanyak 625 kasus atau 16,7%. Pada 2014 tercatat sebanyak 5.663 kasus. Pada Januari—November 2015 hanya 5.038 kasus. Penyelesaian perkara mencapai 65%. Pencapaian itu cukup membanggakan jajaran Polda Lampung,” kata Edward.
Tidak itu saja, tindak kriminalitas seperti curat, curat, curanmor (C3) ditambah penganiayaan berat dan pembunuhan, juga mengalami penurunan sebanyak 252 kasus. Jika pada 2014 tercatat 3.631 kasus, pada Januari—November 2015 menjadi 3.379 kasus. Pencapaian itu tidak membuat Edward sebagai putra Lampung menjadi sombong dan membusungkan dada. Dia menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan masyarakat dan kerja sama lembaga penegak hukum untuk mewujudkan Lampung aman dan damai.
Ketika menapakkan kakinya sebagai Kapolda di Lampung pada Juni 2015 lalu, Raja Kerajaan Adat Sekala Brak Kepaksian Pernong itu bertekad memulihkan nama baik daerah. Saat menjadi Kapolda, Lampung terkenal daerah “pengekspor” begal ke Ibu Kota, bahkan aksi begal di tanah kelahirannya sendiri kian tak beradab dan merajalela.
***
Tim Khusus Antibandit (Tekab) 308 dan program anjau silau bentukan Edward ternyata mampu menurunkan kejahatan. Pasukan elite antibandit membuat pontang-panting penjahat di daerah ini. Pernong yang pernah memenjarakan preman kelas kakap Hercules pada 2006 di Jakarta Barat, termasuk Syekh Puji tahun 2009 di Semarang itu, tak henti-hentinya menggerakkan kesatuannya untuk memburu bandit sampai ke lubang tikus.
Perburuan bandit itu terungkap dalam pengakuan gembong begal bernama Herlambang (32) yang ditangkap anggota Tekab 308. Dia mengisahkan sebelum dibekuk pernah menyebarkan pesan melalui telepon selulernya ke komplotan. “Hati-hati kawan! Penyakit-penyakit itu (Tekab, maksudnya) berkeliaran di mana-mana. Lebih baik kita sembunyi dulu daripada ditangkap.”
Alhasil, dalam operasi Tekab justru Herlambang-lah yang duluan dilumpuhkan. Ketakutan memberangus bandit oleh Tekab sudah menghujam ke jantung penjahat. Seperti halnya rakyat sangat ketakutan dengan kawanan begal. Operasi perburuan bandit itu sering mematikan karena penjahatnya melawan aparat.
Penanggulangan kriminalitas dengan program anjau silau mampu meredam konflik sosial dan mencegah tindak kejahatan. Begitu juga Tekab 308 yang khusus mengejar pelaku kejahatan telah memberikan efek jera. Rakyat juga puas terhadap kinerja polisi yang mampu melumpuhkan penjahat. Rakyat Lampung Selatan, Lampung Timur, Lampung Utara, Lampung Tengah, dan Mesuji, termasuk di Bandar Lampung, merasakan aman dan nyaman.
Polisi dibawah kendali Pernong mendapatkan angka 100 atau nilai A+ dari rakyat karena mampu menurunkan kejahatan dan konflik sosial. Di penghujung mengakhiri jabatan sebagai Kapolda, dia mendeteksi keberadaan kelompok militan tersebar 44 titik di Lampung. “Dari 44 tempat itu, ada 200 anggota militan yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka dari Lampung bahkan luar negeri. Aktivitasnya kami pantau sehingga tidak meresahkan rakyat,” ungkap Edward.
Terkait itu, diskusi publik menyoal kejahatan internasional di Universitas Lampung pada awal tahun ini terungkap, Lampung menjadi lintasan kejahatan antarnegara. Daerah ini sangat strategis dimasuki pelaku kejahatan berkaliber internasional, apalagi keterbukaan global Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
Rakyat sangat berharap bumi Ruwa Jurai tetap dalam genggaman aman dan nyaman, walaupun tongkat komando Polda Lampung beralih dari Edward Pernong kepada adik sepupunya Brigjen Ike Edwin pada pertengahan Januari. Penyelesaian semua persoalan di Lampung terurai jika melibatkan tokoh agama, adat, partisipasi masyarakat, pers, dan perguruan tinggi. ***

Share Postingan ini :
Previous Post

Dua Agama Satu Cinta

Next Post

Berberes Bandit

Artikel Terkait

Lilin Kecil
Refleksi

Corona Belum Musnah!

Lilin Kecil
Refleksi

Berkalang Limbah

Lilin Kecil
Refleksi

Lampung Mendunia

Lilin Kecil
Refleksi

Bayar Mahal     

Lilin Kecil
Refleksi

Politikus Berakrobat        

Lilin Kecil
Refleksi

Entrepeneur Lokal    

Next Post
Lilin Kecil

Berberes Bandit

Lilin Kecil

Gaya Dang Ike

Lilin Kecil

Dirongrong dari Dalam

Lilin Kecil

Nyamuk Nakal Mematikan

Lilin Kecil

Memaknai Monyet Api

Artikel Terbaru

Keterangan Ahli Pers Menegakan Wibawa Profesi dan Etika Jurnalistik

Pers sebagai Mitra Strategis dan Penyedia Solusi Konstruktif

Wakabid Pendidikan PWI Pusat Umumkan 31 Wartawan Kompeten UKW PWI Lampung

Buku Transformasi SDM Pendidikan Islam Di Era Globalisasi

Perkuat Fungsi Pers, LPEF Kawal Peningkatan Kualitas SDM

PWI Pusat Tetapkan Marthen Jadi Sekjen, Iskandar sebagai Wakabid Pendidikan

Facebook Twitter Instagram Youtube
Bung Is

Platform Bung Is berperan sebagai repositori media yang menjaga integritas jurnalistik melalui penguatan kompetensi dan etika profesi oleh Dewan Pers juga PWI di era digital. Seluruh konten, termasuk podcast dan opini, menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menghadapi tantangan teknologi serta memajukan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia.

Beranda
Refleksi
Bung Is Menyapa
Nuansa
Opini
Buku & Jurnal
Peraturan
Pedoman
Nota Kesepahaman Pers

Aktivitas
Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Refleksi
  • Nuansa
  • Opini
    • Bedah Tajuk
  • Buku & Jurnal
  • Aktivitas
    • Podcast Bung Is Menyapa
  • Tentang

© 2026 - Bungis.id - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist