NYANYIAN itu tak lagi kudengar. Lagu itu pun sudah jarang dinyanyikan anak-anak di usia taman kanak-kanak juga sekolah dasar. Jadi sangat wajar jika desa menjadi miskin karena tak tergerak anak bangsa membangun desa. Padahal, pintu masuk mencapai kesejahteraan itu bermula dari desa.
Lirik berjudul Desa yang Kucinta karya L Manik mengisahkan hidup di pedesaan. Bait per bait sangat menginspirasi, menggoda untuk kembali ke desa. Desa diidentikkan keasrian, kedamaian. Karena ada hamparan sawah menghijau dan hutan yang menyejukkan.
Itulah mengapa harus dikumandangkan lagi. Membangun negeri ini dimulai dari desa. Tidak salah memang Manik menciptakan lagu yang menginspirasi anak bangsa. ”Desaku yang kucinta, pujaan hatiku. Tempat ayah dan bunda, dan handai taulanku. Tak mudah kulupakan, tak mudah bercerai. Selalu kurindukan, desaku yang permai.
Desaku yang kucinta, pujaan hatiku. Tempat ayah dan bunda, dan handai taulanku. Tak mudah kulupakan, tak mudah bercerai. Selalu kurindukan, desaku yang permai …” Tanda-tanda kehidupan itu datang dari desa.
Ketika desa tak mampu menghasilkan lagi, rakyatnya pun berpindah ke kota mencari kehidupan baru. Sosiolog Talcot Parsons menggambarkan desa sebagai masyarakat tradisional. Kehidupan desa diselimuti perasaan bersama, kasih sayang, cinta, dan kesetiaan. Indahnya hidup di desa. Jati diri sebuah desa harus dijaga. Karena rakyat di desa mengedepankan hidup kebersamaan.
Maka itu Presiden Soeharto membangun negeri ini dari desa. Dia pernah mengumumkan banyak desa miskin pada era 1980-an. Gubernur, bupati, dan wali kota, saat itu ramai-ramai membantah tidak ada desanya yang miskin. Mengapa membantah? Karena itu “aib” bagi kepala daerah. Mereka gagal membangun desa.
***
Pak Harto tak hanya mengungkap angka desa miskin, tapi dia juga memberikan solusi. Kepala daerah diminta sama-sama membangun desa, menyejahterakan rakyat perdesaan dengan menggelontorkan dana program Inpres Desa Tertinggal (IDT). Itu bukan aib, melainkan bentuk tanggung jawab pemimpin bagaimana mengeluarkan rakyatnya dari kemiskinan.
Aku masih ingat, ketika jadi wartawan pemula di era 1990-an, Ramli Hasan Basri, gubernur Sumatera Selatan, membantah desanya masih miskin. “Tidak ada miskin di Sumatera Selatan. Yang ada, hanyalah masyarakatnya malas bekerja–mengejar ketertinggalan, sehingga dia jadi miskin,” tegas Ramli yang berkumis lebat saat itu.
Desa adalah pemerintahan yang langsung berurusan dengan rakyat. Jika desa itu maju dan pesat, rakyatnya sejahtera. Atau sebaliknya. Presiden Jokowi dan Gubernur Ridho Ficardo menggelontorkan dana untuk membangun negara dan daerah ini dari desa. Niat mulia untuk masa depan bangsa itu haruslah diapresiasi. Kita lihat saja bagaimana hasilnya nanti!
Lampung mengantongi 380 desa miskin. Desa sebanyak itu bisa dikeluarkan dari ketertinggalan selama 3—4 tahun mendatang. Caranya? Ridho mencanangkan program Gerbang Desa Saburai (Gerakan Membangun Desa Sai Bumi Ruwa Jurai). Setiap desa miskin memperoleh dana segar Rp300 juta. Gubernur pun berkata jujur, program itu diadopsinya dari Pulau Dewata. Bali sangat sukses membangun desanya.
Gerbang Desa merupakan langkah memangkas kesenjangan kesejahteraan. Tak hanya di Lampung, kesenjangan itu terjadi hampir di seluruh negeri tercinta. Rakyat berkonflik karena kesenjangan. Karena kecemburuan sosial. Tak ada uang yang tiba-tiba datang dari langit kalau tidak ada usaha yang gigih.
Allah, Sang Pencipta, tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri mengubah nasibnya. Itu sangat jelas dan tegas dalam kitab suci. Negeriku ini kalau ingin maju, tidaklah pasrah dan menyerah dengan nasib. Tapi bisa mengubahnya dengan cara kerja keras, kreatif, dan berpikir cerdas. ***


