INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJIUN. Dua belas hari menjelang hari Arafah, masjid suci umat Islam, Masjidil Haram, di Kota Mekah mengalami musibah. Sebuah crane konstruksi perluasan bangunan masjid runtuh diterjang badai dahsyat, Jumat (11/9) petang waktu Arab Saudi (WAS).
Akibatnya, ratusan jemaah calon haji dari seluruh dunia, termasuk Indonesia, meninggal dunia dan mengalami luka-luka. Peristiwa itu mengingatkan Tragedi Terowongan Mina pada 2 Juli 1990. Sekitar 1.426 jemaah haji dilaporkan wafat akibat berdesak-desakan dan terinjak di terowongan tersebut. Dari syuhada haji yang meninggal dunia itu, 631 berasal dari Indonesia.
Tak ada yang menyangka badai yang berlangsung begitu cepat usai salat asar itu mengakhiri hidup tamu Allah di Tanah Suci. Mereka adalah syuhada—mati sahid karena sedang menunaikan ibadah di rumah Allah. Robohnya crane ini membuat duka yang sangat mendalam mengingat puncak ibadah haji tinggal dua minggu lagi, tapi Allah berkehendak lain.
Foto dan video yang merekam tragedi mengerikan itu tersebar begitu cepat di media sosial. Dari foto yang dikirim temanku, Darman Zayadan, yang sedang berada di kawasan masjid, hanya tertegun dan bersedih. Jasad dan darah berserakan terlihat di antara crane besar yang roboh tersebut. Masjid yang mulai dibangun Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as itu tengah melakukan perluasan guna menampung lebih banyak lagi jemaah yang ingin beribadah.
Crane tersebut adalah milik perusahaan Jerman yang dioperasikan konsorsium perusahaan keluarga Osama Bin Laden. Ayah Osama adalah seorang miliuner, penguasa perusahaan konstruksi yang banyak melaksanakan proyek raksasa di Negeri Minyak tersebut. Proyek di Kota Mekah itu menghabiskan dana sekitar 21,6 miliar dolar Amerika untuk perluasan area masjid sehingga bisa menampung sedikitnya 2,2 juta jemaah.
“Peristiwa itu begitu cepat, memang cuaca di Mekah buruk sekali. Badai pasir kemudian mendadak berubah menjadi hujan badai, membuat penutup alat konstruksi terlepas dan bertebaran. Saking kuatnya badai itu, crane yang bertengger di atas bangunan roboh menghantam bagian masjid,” kata Darman, jemaah calon haji Kloter 8/JKG asal Bandar Lampung.
Jemaah langsung berlarian meninggalkan lokasi crane. Insiden berdarah membuat Mekah, kota yang aman tersebut, menjadi kacau. Suhu udara yang tadinya 42 derajat Celsius mendadak turun drastis menjadi 25 derajat. Subhanallah, Mahasuci Allah, Tuhan pasti mempunyai rencana lain mengapa musibah itu terjadi di rumah-Nya sendiri.
Bersamaan musibah itu, Presiden Jokowi dan rombongan tengah melakukan lawatan ke Arab Saudi. Kepala Negara yang senang blusukan itu mengutus Menteri Agama yang juga Amirul Hajj Lukman Hakim Saifuddin menyambangi korban crane di sejumlah rumah sakit di Mekah.
Jemaah yang ditemui Lukman berharap keluarga yang ada di Tanah Air selalu berdoa agar dapat menunaikan ibadah haji dengan aman dan lancar. “Terima kasih Pak, sudah menjengut. Doakan kami. Jangan putus doanya ya Pak,” kata Nuruddin, jemaah Indonesia memeluk tubuh menteri sambil menangis terharu.
***
Mekah adalah salah satu kota suci umat Islam selain Madinah dan Palestina. Di situ ada Kakbah, bangunan yang didirikan Ibrahim. Allah berjanji dalam Alquran Surah At-Tiin Ayat 1—3, yakni: “Demi bumi tin di Damaskus (Syria), dan demi bumi zaitun di Palestina, dan demi bukit Thur yang ada di Sinai (Mesir). Dan demi Kota Mekah yang aman.” Dari petikan surat itu, Mekah dijamin Allah sebagai kota yang aman dan tenteram.
Lalu dengan seizin Allah pula, Mekah tetap dalam perlindungan. Tuhan mengabulkan doa Nabi Ibrahim. “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS Ibrahim: 35).
Perlindungan datang dari Allah terhadap Kota Mekah, khususnya Kakbah, menjadi bukti. Kakbah yang ingin dihancurkan pasukan gajah pimpinan Raja Abrahah harus bertekuk lutut ditimpa batu burung ababil kiriman Allah. Persoalannya, mengapa badai yang meruntuhkan crane Jumat sore itu membawa korban jiwa?
Sebagai orang beriman, kita dapat mengambil hikmah dari peristiwa tersebut. Sekali lagi, Tuhan mempunyai rencana lain mengapa musibah itu terjadi. Apalagi Tanah Suci dijaga ribuan malaikat siang dan malam. Ada tiga pengalaman yang membekas hingga kini pada diri saya ketika melakukan haji dan umrah ke kota suci itu.
Pertama, dengan minum air zamzam menghadap Kakbah dan berdoa minta disembuhkan penyakit perutku, ternyata dalam sekejab sakit itu sembuh. Allahuakbar. Kedua, kakiku dihinggapi gejala rematik, karena banyak tawaf (mengelilingi Kakbah) dan sai (berjalan antara Bukit Safa dan Marwah), penyakit itu sembuh. Terakhir, kesombongan temanku, membuat dirinya tersesat dan sakit begitu lama saat berada di Mekah.
Dari itu, crane yang menjulang tinggi serta gedung-gedung pencakar langit milik keluarga kerajaan bahkan investor asing yang mengelilingi Kakbah menjadi “kemarahan” sebagian muslim, terutama Iran. Mereka tak suka banyaknya bangunan yang melebihi ketinggian Kakbah dan Masjidil Haram. Hal itu berbeda di Madinah.
Hotel dan pertokoan di Kota Nabi tidak melebihi bangunan Masjid Nabawi. Tinggi bangunan yang mengelilingi masjid di Madinah–sama semua. Memang terasa tak mengenakan perasaan ketika melihat Kakbah dari Tower Zamzam, sebuah hotel supermewah, rumah Allah itu kecil berada di bawahnya. Padahal berkah yang datang dan memancar dari Kakbah bagi yang melihatnya, ketimbang melihat hotel berbintang milik kerajaan.
Kesombongan terlihat. Allah sendiri tidak suka melihat manusia yang sombong dan lupa diri—hidup di muka bumi ini. Itu pesan tersirat dari badai yang melanda Mekah, Jumat sore, walaupun Allah menjaminnya aman dan tenteram. Lalu, bagaimana negeri yang tak dijamin oleh Allah? Hati nuranilah yang menjawabnya, untuk terus bersyukur dan ikhlas atas nikmat-Nya. ***


