MINGGU lalu (14/6), kawasan Telukbetung, Bandar Lampung, tidak seperti hari biasanya. Pagi itu, ratusan bunga papan ucapan selamat berjejer memenuhi halaman Mapolda Lampung. Tak ketinggalan perwira polisi dan warga berpakaian adat—berdiri tidak jauh dari pintu gerbang perkantoran Bhayangkara. Mereka menyambut kedatangan Kapolda Lampung Brigjen Edward Syah Pernong, istri, dan anak.
Memang acara welcome parade dan farewell (perpisahan) Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) dari Brigjen Heru Winarko kepada Edward Syah Pernong sangat berbeda dari acara farewell sebelumnya. Warga Bhayangkara memakluminya karena acara tersebut tidak terlepas bahwa Edward sebagai raja dari Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak.
Edward bergelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan XXIII disambut tarian dan dikawal anggota kerajaan. Di sisi kiri dan kanan Paduka Yang Mulia Sai Batin Puniakan Dalom (SBPD) itu ikut juga mengawal pencak silat Samang Begayut Pendekar Hanuang Bani.
Sebelum menuju Mapolda, seorang pengawal raja berbaju putih menyatakan sumpah setia kepada Edward diiringi bunyi tetabuhan. Arak-arakan itu pun mengantar raja adat ke tempat tugas yang baru. Perdana Menteri Kerajaan Sekala Brak, Ike Edwin, ikut mengantarkan Pangeran Edward. Turut hadir dalam acara tersebut, perwakilan raja-raja dari Bugis, Sulawesi Selatan.
Masih soal kerajaan, pada akhir November 2010 lalu, di Kota Palembang, Kerajaan Sekala Brak diundang dalam acara Festival Keraton Nusantara (FKN) VII. Edward Pernong dan permaisuri adalah pasangan dari puluhan sultan dan raja yang hadir atas undangan Forum Komunikasi Informasi Keraton Nusantara (FKIKN) dan Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN).
Sejarah mencatat, Sekala Brak adalah kerajaan tertua di Indonesia dalam dua era, yaitu era Hindu Buddha dan Islam. Pada abad ke-15, Sekala Brak berperang melawan Portugis dan Belanda. Sekala Brak bukan satu-satunya kerajaan yang berasal dari Lampung. Pada abad ke-13, muncul Kerajaan Tulangbawang, tapi tidak bertahan lama dan akhirnya punah.
***
Sebagai titisan darah biru, Raja Pernong tetap menomorsatukan tugas sebagai kepala Kepolisian Daerah. Kehadirannya sebagai Kapolda ke-11 Lampung itu menjadi harapan masyarakat dalam memberantas kejahatan. Pernong mengandalkan kearifan lokal dalam penegakan hukum. Memerangi maraknya aksi begal, lalu peredaran narkoba yang sudah sampai ke perdesaan, dan praktik korupsi menghinggapi semua lini pekerjaan adalah tugas utamanya. Sebagai tanah leluhurnya, Lampung paling tidak harus bebas dari tiga jenis kejahatan tersebut.
Edward yang pernah menangkap preman kelas kakap Hercules mengaku posisinya di kerajaan adat bisa dimanfaatkan lebih mudah untuk mendekatkan diri dengan masyarakat, seperti memberikan pemahaman keamanan dan stabilitas daerah. “Kami memberi kesadaran bahwa era ke depan, hukum ditegakkan secara adil dan tidak memihak, serta transparan. Dari sekarang, warga adat pun harus bersiap diri menjadi warga taat hukum. Hukum harus tegas tapi tetap humanis,” kata ayah dari Putri Mahkota Alfrince Syah Pernong, saat berkunjung ke kantor Lampung Post, Jumat (19/6).
Bagi seorang raja yang bertugas melanglang buana sampai ke penjuru nusantara, Pernong memiliki resep kearifan lokal; anjau silau (adat Lampung). Cara ini sangat efektif mengantisipasi kejahatan dan pelanggaran hukum. Polisi sebagai pelayan—melalui pendekatan anjau silau—mendatangi masyarakat untuk menjalin komunikasi sebelum terjadi tindakan kriminal. Tentunya, jalinan komunikasi dilakukan dengan mengedepankan kearifan budaya lokal.
Pernong pernah berucap ada sejumlah budaya Lampung yang dapat menjadi modal mengajak masyarakat menjaga perdamaian dan kerukunan antarumat beragama. Dia mencontohkan nengah nyappur, sakai sembayan, piil pusenggiri, dan bejuluk beadok yang bisa dikemas ke dalam tugas kepolisian. Semua itu masuk rembuk pekon.
Kearifan lokal yang dikembangkan Pernong menghidupkan kembali kerajaan Lampung. Hal itu bukan untuk merusak dan mengotak-ngotakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Akan tetapi, dari kerajaan adat itulah ada nilai-nilai dan aturan sosial di dalamnya. Hal itu bisa menjadi solusi jika sewaktu-waktu terjadi konflik yang tidak bisa diselesaikan secara hukum.
***
Perlu dicatat, Lampung adalah salah satu suku yang memiliki aksara dan bahasa sendiri. Dalam era bebas sekarang ini, sebaiknya tokoh Tanoh Lada tidak lagi berpikir dan mengelompokkan diri Saibatin dan Pepadun, ada pendatang dan penduduk asli. Lampung dibangun dengan keberagaman suku dan agama. Anak bangsa harus menyadari; Lampung itu satu. Lampung ini hebat.
Di pundak Edward Syah Pernong-lah, keamanan dan ketertiban enam bulan ke depan—pemilukada serentak pada Desember 2015—berjalan lancar atau tidak. Lampung harus menjadi contoh dan model bagi daerah lainnya dalam menjaga ketertiban. Jika itu sukses, ini sebuah prestasi dan kebanggaan Lampung karena kapoldanya berasal dari putra daerah dan berpendidikan sekolah perwira.
Melalui tangan Pernong, saatnya seluruh tokoh adat dan masyarakat mengembalikan citra Lampung sebagai daerah kaya raya dari lahan pertanian. Saatnya, anak bangsa di sini membunuh citra buruk sebagai daerah “pengekspor” begal. Dari mulut sang jenderal ini pula; Lampung menciptakan harmonisasi dan membangun kehidupan sosial yang kokoh. Adat dan nilai-nilai yang ada menjadi pemersatu saat timbul konflik yang berujung pada perpecahan.
Lampung harus berhenti dari konflik. Kerusuhan Balinuraga tiga tahun silam dan Anaktuha beberapa bulan yang lalu segera diakhiri. Saatnya Lampung membangun. Siapa lagi yang akan membangun daerah ini kalau tidak warganya sendiri. “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang akan mengubah nasibnya.” (QS Ar-Ra’d:11).
Lampung harus bangkit. Lampung ada tol. Pernong hanya pemicu agar Lampung berubah menjadi lebih baik lagi; tak ada lagi begal, malu melakukan korupsi, narkoba musuh bersama. Allah memberikan kebebasan dan keleluasaan kepada manusia untuk menentukan nasibnya sendiri. Yang paling bertanggung jawab atas hidup dan nasib adalah diri sendiri, bukan orang lain. ***


