DINDING Facebook dan telepon selulerku banyak dikirimi kicauan dan ocehan masyarakat tentang kinerja satu tahun kepemimpinan duet Ridho Ficardo dan Bachtiar Basri (Ridho Berbakti) yang menakhodai Lampung, sejak 2 Juni 2014 lalu. Ada yang memuji dan menyanjung, ada yang menggerutu. Lebih miris lagi, ada yang memaki kinerja kabinet gubernur berusia muda ini.
Ridho Berbakti bukanlah malaikat. Dia sama halnya ketika Sjachroedin ZP dan Oemarsono baru memimpin setahun Lampung. Mereka tak lepas dihujani kritik. Bang Oedin, panggilan akrab Sjachroedin dijuluki pengamat, kepemimpinan bergaya komandan. Akhirnya, rakyat maklum karena Sjachroedin masih terbawa gaya di kepolisian.
Hasilnya? Dalam 10 tahun, Oedin mewariskan banyak perubahan di Lampung, antara lain disiplin pegawai negeri sipil (PNS) yang masih sangat dirasakan hingga saat ini. Begitu juga Pak Oe, panggilan akrab Oemarsono. Gaya Oe sederhana. Jika ada kelebihan dana perjalanan dinas keluar kota, dikembalikannya ke kas daerah. Berbuat baik pun, Oe pun tak luput dapat hujatan rakyat saat Soeharto lengser ke prabon.
Itulah kelebihan dan kekurangan pemimpin Sai Bumi Ruwa Jurai. Begitu juga ketika Habibie memimpin negeri ini. Sang manusia genius itu tak luput dari hujatan karena memberikan ruang lepasnya Timor Timur dari pangkuan Ibu Pertiwi. Lalu Gus Dur, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, dan terakhir Joko Widodo. Mereka mendapat kritikan pedas dari rakyat. Itulah sikap bangsaku jika tidak suka dengan pemimpinnya.
Kritik dan kontrol yang dilakukan publik dan pers adalah obat yang mengenakan bagi pemimpin untuk mengevaluasi dirinya. Ridho Ficardo tidak melarang masyarakat mengkritik kinerjanya. Itu disampaikannya saat dia terpilih menjadi gubernur setahun lalu. Dia mengibaratkan kritik yang datang dari rakyat seperti minum segelas kopi. Jika gula dalam adonan kopi terlalu banyak, tidaklah enak untuk diminum. Begitu juga jika gulanya sedikit, rasa kopi terasa pahit.
***
Publik banyak berharap dengan Ridho agar Lampung ini bangkit dan sejajar dengan provinsi lainnya. Selama satu tahun memimpin, Ridho diserahkan banyak pekerjaan rumah dan bersih-bersih piring kotor. Begitu juga Sjachroedin yang baru setahun menjabat gubernur pada 2004 lalu, melakukan hal yang sama setelah ditinggal Tursandi Alwi dan Oemarsono.
Tidaklah elok jika rakyat selalu menghujat pemimpinnya. Anak bangsa yang berkarakter adalah bagaimana membuat daerah maju bermartabat, mendorong serta membantu pemimpin membangun republik ini.
Bagaimana Lampung? Jawabnya, satu untuk Lampung; membenahi infrastruktur, peningkatan pendapatan petani dan nelayan, juga menjaga keamanan dan ketertiban. Paling penting, membangkitkan semangat rakyat agar mengubah nasib lebih maju lagi.
Gerak cepat Ridho dan Bachtiar setahun ini membuahkan hasil. Melobi Pemerintah Pusat menambah kuncuran dana untuk membenahi infrastruktur dan proyek strategis. Dia berhasil menjemput jalan trans-Sumatera untuk Lampung. Membangun bendungan irigasi pertanian, juga memperluas Bandara Radin Inten II agar bisa disinggahi pesawat berbadan lebar.
Kado setahun itu tidaklah cukup untuk memuaskan semua orang. Sebagai anak bangsa berpikir positif, tidaklah mungkin seorang Ridho yang masih muda itu mengakhiri kariernya tanpa prestasi. Waktu masih empat tahun lagi untuk membenahi Lampung.
Belakangan, citra buruk Lampung sebagai daerah penyuplai begal mengganggu pikiran Ridho. Belum lagi daerah ini rentan konflik horizontal, persoalan gizi buruk, ketimpangan ekonomi di perdesaan, hingga persaingan politik yang tidak sehat.
Terlepas dari itu semua, investasi di Lampung bertambah dan terus meningkat. Fakta membuktikan, sejumlah hotel berbintang kian bertambah. Maskapai berdatangan meminta rute penerbangan untuk tujuan ke Lampung. Lampung disebut sebagai daerah pemasok daging untuk Jakarta.
***
Fakta kemajuan itu terpicu dari sejumlah pekerjaan rumah yang diterima Ridho dari pemerintahan terdahulu. Memang ada yang perlu diteruskannya, ada juga ditimang-timang untuk disetop sementara karena berdasar hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) masih menyisahkan persoalan. Ridho menggelitik masyarakat agar menatap masa depan Lampung harus lebih baik. Seperti Hasan Al-Bana, tokoh muda karismatik, berhasil mereformasi mental rakyat Mesir berpikir lebih maju.
Hasan Al-Banna adalah salah satu tokoh pergerakan besar Islam di Timur Tengah. Dalam banyak literatur sejarah Mesir, Zabir Rizq menyebutkan Al-Banna sangat pantas didaulat sebagai pembaru abad ke-14 Hijriah. Rizq dalam bukunya Al-Imam as-Syahid Hasan al-Banna, adalah pemimpin rakyat yang tidak tertandingi sampai saat ini.
Al-Banna mengembangkan sikap kesabaran (ash-shabru), keteguhan (ats-tsabat), kearifan (al-hikmah), dan ketenangan (al-anat) dalam memimpin Jama’ah Ikhwanul Muslimin yang banyak memberikan pengaruh di dunia. Bagi Al-Banna, pemimpin harus memiliki kekuatan kejiwaan (al-quwwah an-nafsiyah) untuk mengubah nasib rakyatnya. Seperti digambarkan dalam Alquran, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka sendiri mengubah nasibnya.” (QS 13:11).
Adalah Amien Rais, salah satu tokoh reformasi di negeri ini—dalam bukunya Cakrawala Islam, menggambarkan Islam menurut Al-Banna revolusi melawan korupsi pemikiran dan korupsi hukum. Revolusi yang dikembangkan Al-Banna adalah menentang korupsi moral dan sosial. Paling dahsyat adalah revolusi monopoli dan perampasan kekayaan rakyat secara sewenang-wenang.
Pemikiran Al-Banna itu menginspirasi berdirinya negeri ini. Dalam Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri, yang ditulis M Zein Hasan terbitan Bulan Bintang (1980), Hasan Al-Banna dan Ikhwanul Muslimin memberi dukungan kuat bagi kemerdekaan Indonesia. Al-Banna secara aktif melibatkan diri dalam Panitia Pembela Indonesia. Pada April 1947, delegasi pemerintah RI dipimpin H Agus Salim berkunjung ke Mesir.
Kala itu Agus Salim menyempatkan diri bertemu Al-Banna. Pemimpin Ikhwanul Muslimin itu mengerahkan bantuan untuk Indonesia. Al-Banna dan rakyatnya, yang berlainan bangsa, dengan tulus ikhlas menyokong negeri ini agar dapat mempertahankan kemerdekaan. Bagi Al-Banna adalah satu untuk Indonesia, yakni lepas dari cengkeraman penjajah. Bagi Ridho Berbakti adalah satu untuk Lampung, menuju Tanoh Lada maju dan sejahtera 2019. ***


