GENDERANG perebutan kursi kepala daerah dimulai. Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai wasit dalam perhelatan pesta rakyat menyatakan tahapan pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) secara serentak di penghujung 2015, ditabuh sejak Jumat (17/4). Pencoblosan di bilik suara akan digelar pada 9 Desember 2015.
Banyak hal yang harus diperhitungkan secara matang KPU dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) di negeri ini. KPU dan Bawaslu patut menjaga integritas pribadi dan lembaga sehingga pesta rakyat tidak menyisahkan persoalan. Calon kepala daerah dan wakilnya yang masuk gelanggang pertarungan tidak hanya siap menang, akan tetapi juga siap kalah.
Semua strategi dan taktik disiapkan calon kepala daerah dan wakilnya. Mulai dari pendaftaran di partai politik hingga hari pencoblosan nanti. Lampung sendiri menggelar perhelatan itu di delapan kabupaten dan kota. Adalah Bandar Lampung, Metro, Lampung Selatan, Pesawaran, Lampung Timur, Lampung Tengah, Way Kanan, dan Pesisir Barat. Daerah itu terletak di delapan penjuru angin. Hebatkan!
Pasti rakyat di delapan kabupaten dan kota itu sudah menimbang-nimbang, siapa yang pantas dan kelak akan dipilih menjadi kepala daerah. Saya percaya dan sangat percaya, rakyat tidak akan memilih calon pemimpin yang hanya membual, menebar pesona, sembako, dan juga menjual program kemiskinan. Jika salah memilih, rakyat sendiri yang akan menanggung akibatnya dan menderita selama lima tahun.
***
Dari sekian calon kepala daerah dan wakilnya, adakah rakyat memilih pemimpin yang hidup sederhana. Adalah Mahmud Ahmadinejad, presiden ke-6 Iran. Hidupnya tidak kemaruk dengan harta, apalagi menguras uang rakyatnya.
Ahmadinejad, salah satu pemimpin yang menjadi cermin kesederhanaan. Dia menunjukkan bahwa semua manusia adalah sama. Salah satu pemimpin di Timur Tengah, negara kaya minyak itu menginspirasi bahwa kemewahan dan harta hanya racun. Kekayaan yang sesungguhnya, kata dia, adalah bagaimana seorang pemimpin berkorban untuk rakyatnya dan menjunjung tinggi keadilan. Adakah sifat kesederhanaan itu dimiliki calon kepala daerah dan wakilnya di delapan kabupaten dan kota yang akan dipilih pada 9 Desember nanti?
Lalu siapa lagi yang patut diteladani? Adalah Koesno Sosrodihardjo. Dia adalah presiden pertama di negeri ini. Bung Karno, yang akrab disapa rakyat itu, sangat cerdas, bijak, dan tegas dalam mengambil sikap dan perbuatannya. Orang tua saya pernah berkata, “Bung Karno sangat dicintai rakyat.”
Terbukti dalam setiap pidatonya membakar semangat rakyat. “Bung Karno berkarisma. Mendengar pidatonya saja tahan berjam-jam, apalagi melihat secara langsung, pasti kita tunduk dan patuh,” begitu kata ibuku. Karena kepemimpinannya, negeri ini dengan bangga mempersembahkan apa yang dinamakan dengan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Afrika yang digelar di Kota Bandung pada 1955.
Itu membuktikan Bung Karno adalah manusia kuat dan lihai berdiplomasi sehingga dapat mengumpulkan 29 negara di berbagai belahan dunia. KTT itu untuk melawan kolonialisme atau neokolonialisme Amerika Serikat, Uni Soviet, serta negara imperialis lainnya. Tekad Bung Karno berbuah manis.
Usai pertemuan di Kota Kembang itu, banyak negara di Asia dan Afrika merdeka dari cengkeraman negara superpower. Bung Karno sangat menjunjung tinggi harga diri bangsa dan negara. Adakah sikap itu dimiliki oleh calon kepala daerah di delapan kabupaten dan kota di Lampung ini?
Apalagi gaya kepemimpinan yang dicontohkan Muhammad bin Abdullah. Pria dari Jazirah Arab itu adalah nabi terakhir dalam sejarah kenabian. Muhammad saw. mengajar hidup yang sesungguhnya, memberi rasa hormat kepada siapa pun, baik kawan maupun lawannya.
Muhammad berakhlak mulia, sikapnya sangat bijak, serta memiliki kecerdasan luar biasa. Adakah itu dimiliki calon pemimpin tadi? Negeri ini haus dan mendambakan hadirnya sosok seperti seorang Muhammad, Bung Karno, Ahmadinejad, dan lainnya.
***
Temanku pernah berucap, Amerika sudah memikirkan dan hidup di bulan, tapi negeriku masih memikirkan dari bulan ke bulan. Rakyat selalu galau bagaimana menutupi kebutuhan hidup di bulan tua. Kalaupun negeri ini memiliki pemimpin yang jujur dan dapat dipercaya, tak banyak penghuni dibui oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Kalaupun negeriku ini memiliki pemimpin berkomunikasi dengan baik, tak banyak palu, meja, dan kursi sidang melayang di tengah rapat. Tak banyak daerah yang berkonflik untuk urusan perut. Kalaupun negeriku ini banyak pemimpin yang amanah—bertanggung jawab dalam menjalankan tugasnya, tak banyak rakyat yang menderita karena urusan perut kosong.
Dan jika negeriku memiliki pemimpin yang cerdas, tak banyak rakyat yang malas, bodoh, serta menjadi pembegal. Program pendidikan gratis dan kesehatan gratis, bukan jawaban yang ampuh mengatasi kebodohan dan kemelaratan. Itu pemanis untuk merebut simpati rakyat. Menjadi rakyat pintar dan sehat sudah menjadi tugas pemimpin karena memberi rasa nyaman.
Lihat Jepang. Negeri yang pernah porak poranda dihantam bom. Rakyatnya bangkit dari keterpurukan. Kini Negara Matahari Terbit itu menjadi maju.
Dari semua itu, ada percakapan yang hebat antara malaikat dan Tuhan Maha Pencipta ketika ingin menjadikan manusia di muka bumi. Malaikat protes karena manusia akan membawa petaka. Isi percakapannya, yakni: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka (malaikat) berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di bumi, sementara manusia membuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih, memuji-Mu dan menyucikan-Mu?”. Lalu Allah berkata: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Al-Baqarah: 30).
Kalaulah kepala daerah yang bertarung di delapan penjuru angin dengan gaya kepemimpinan seperti Muhammad, Bung Karno, Ahmadinejad, Lampung pasti bangkit seperti Jepang. Apalagi rakyat Sai Bumi Ruwa Jurai memiliki etos kerja yang tinggi, semangat berkobar menguburkan kemalasan. Dan mengatakan tidak, untuk memilih pemimpin berwatak korupsi, niscaya negeri Tanoh Lada ini akan makmur. ***


