HIDUP terasa indah kalau selalu berdampingan. Tidak ada yang mendahului, dan juga tidak ada yang merasa tertinggal di belakang. Apalagi dalam kehidupan rumah tangga, makan di satu meja antara suami, istri, dan anak. Tidur pun berdampingan dalam satu ranjang. Indah kan? Jika itu ditinggalkan, malapetaka pasti akan datang.
Dalam kehidupan masyarakat madani; kaum mayoritas mengayomi minoritas, si kaya berbagi kepada si miskin. Yang lemah dilindungi si kuat. Ada saling ketergantungan dan membutuhkan. Dengan begitu, tidak ada kebohongan, tidak ada kecemburuan, tidak ada kesenjangan, dan juga tidak ada pemberontakan.
Kecemburuan terjadi manakala suami lupa bahwa dia seorang suami, begitu juga sebaliknya si istri. Dalam kehidupan berumah tangga, pasangan hidup harus mempunyai rasa saling melengkapi, karena mereka dihadapkan perasaan dan logika. Begitulah untuk urusan menata negara dan agama di alam jagat raya ini.
Contohnya? Konflik di berbagai kehidupan, termasuk partai politik dan perbedaan agama. Belum lagi urusan paham radikal yang bisa menggerus dan mengerikan penduduk negeri ini. Semuanya bermuara dari ketidakpuasan dalam kehidupan. Si kuat menindas si lemah. Si kalah tidak mau mengakui kekalahannya. Yang menang penuh kesombongan. Yang kaya berlomba-lomba menumpuk harta hingga tujuh keturunan. Yang ada hanyalah lupa diri! Itu yang digambarkan oleh Raja Fir’aun, Raja Abraham, Qorun, dan lainnya. Seketika juga mereka tewas ditelan bumi.
***
Bersamaan Jumat Agung, kemarin, yang diperingati umat Nasrani. Dan juga hari Jumat, muslim menunaikan salat jumat. Khatib jumat di masjidku dalam khotbahnya mengisahkan; ulama, dermawan, dan mujahid adalah orang yang pertama kali masuk neraka karena mereka berdusta dan tidak ikhlas.
Dalam khotbahnya, khatib memaparkan orang yang diberi ilmu oleh Allah itu disebut ulama. Allah bertanya kepada ulama. “Apa yang engkau lakukan dengan ilmu yang kau ketahui?” Ulama itu menjawab, “Tuhanku. Dengan ilmu itu, aku bangun dan berdiri mengerjakan salat malam.” Lalu Allah menjawab, ”Engkau telah berdusta. Malaikat berkata, dia telah berdusta. Sesungguhnya dia hanya hendak dikatakan sebagai seorang alim, padahal memutarbalikkan ilmunya.” Golongan inilah yang pertama kali masuk neraka.
Golongan kedua, dermawan. Orang yang dilimpahkan harta oleh Allah. Sang Pencipta bertanya, “Apa yang telah engkau lakukan dengan harta yang sudah diberikan?” Dermawan pun menjawab, ”Tuhanku, aku bersedekah dengan harta itu.” Lalu Allah kembali menjawab, ”Engkau telah berdusta, sesungguhnya engkau hanya ingin dikatakan sebagai pemurah dan ingin melindungi si miskin. Padahal tidak.”
Terakhir golongan ketiga, orang yang terbunuh di jalan Allah, mati berjihad di jalan Allah. Golongan ini ditanya Allah, ”Apa yang telah engkau perbuat untuk agamaKu?” Mujahid itu pun menjawab, ”Tuhanku, aku diperintah untuk berjihad, maka aku berperang hingga aku terbunuh di medan laga.” Allah berkata, ”Engkau telah berdusta, sesungguhnya engkau hanya hendak dikatakan sebagai seorang pemberani dan pahlawan. Sesungguhnya tidak demikian.”
Apa pun alasan yang dikerjakan dan diperbuat ketiga golongan itu tidak berangkat dari keikhlasan. Jika tidak ikhlas, pasti ada udang di balik batu. Alim yang menyerukan amar makruf nahi mungkar yang membuat kegelisahan—seperti apa yang diajarkannya, pasti dia pertama masuk neraka.
Negeri ini, kini, dilanda kegelisahan dan ketakutan dengan masuknya paham radikal yang menamakan Islam. Paham itu akan pupus karena Islam adalah agama yang tidak mengenal kekerasan. Indonesia berdiri dengan keberagaman suku, agama, dan ras. Keberagaman itulah yang membuat nusantara jadi kaya raya peradabannya. Keberagaman yang dirajut dengan kebhinnekaan tak akan hancur lebur seperti negara Uni Soviet.
***
Masuknya paham Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) ke Indonesia, menurut pengamat terorisme Sidney Jones, pemerintah harus terlebih dahulu memahami tentang ideologinya. Menutup situs kelompok radikal, tidak cukup karena ada beragam media komunikasi, termasuk media sosial yang mudah diakses.
Pemerintah sendiri sudah memblokir 22 situs/website yang bernuansa radikal. Penutupan internet radikal itu atas pemrakarsa Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Ternyata itu tidak cukup dan mengundang prokontra di masyarakat. Anak bangsa sudah tidur dalam satu ranjang, Indonesia, tapi mimpinya berbeda, mereka ingin membentuk negara Islam.
Kalau mau dikatakan jujur, paham ISIS membahayakan dari sisi kekerasan dan korban yang ditimbulkannya. Video yang dikirim temanku dari Timur Tengah, anak di usia beranjak remaja diajarkan menembak pakai pistol dan senapan, didoktrin membenci dan menyebarkan permusuhan yang berbeda dengan Islam.
Jika ini dibiarkan, akan terjadi polarisasi di masyarakat. Mereka menebar kebencian agama dan aparat. Paham ini merusak fondasi toleransi Ibu Pertiwi. Itulah alim dan mujahid yang digambarkan khatib jumat tadi. Begitu juga politikus. Apa yang diperjuangkannya di parlemen hanya untuk menebar pesona dan mencari nama; popularitas.
Seluruh elemen anak bangsa, apakah dia sebagai alim, dermawan, juga mujahid harus mengembangkan toleransi, menghargai kemajemukan. Seperti Rasulullah saw. membangun Madinah menjadi kota peradaban baru umat Islam. Hingga kini sangat terasa sekali hidup di kota suci tersebut. Masyarakatnya santun dan hidup teratur. Madinah sangat kental persamaan, kedamaian, keadilan, dan toleransi dibandingkan Kota Mekah yang penuh dengan kekerasan dan siasat. ***


