RAKYAT hanya bisa menonton. Itulah kesimpulan drama “perseteruan” dua lembaga penegak hukum; Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Mabes Polri dalam menetapkan dua tersangka dengan kasus yang berbeda.
KPK menetapkan Komjen Budi Gunawan (BG) sebagai tersangka kasus rekening gendut, dan polisi menangkap Bambang Widjojanto (BW) atas tuduhan mengarahkan saksi memberikan keterangan palsu di sidang Mahkamah Konstitusi (MK) terkait perkara Pemilukada Kotawaringin Barat pada 2010.
Memanasnya tungku api dimulai dari KPK menjerat Budi Gunawan, calon Kapolri, dengan kasus rekening gendut. Lembaga penegak hukum itu dinilai bermain politik karena penetapan tersangka Budi diumumkan KPK menjelang fit and proper test di DPR.
Belakangan, Ketua KPK Abraham Samad menjadi sorotan. Dia ditengarai melakukan tindakan yang menyimpang dari kepatutan sebagai lembaga pemberantas korupsi. Abraham pernah bermain politik menjelang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2014.
Tabir manuver politik sang komisioner itu dibuka
Pelaksana Tugas Sekjen PDIP Hasto Kristianto. Abraham Samad, ungkap Hasto, telah melakukan enam kali pertemuan dengan petinggi partai pengusung capres Joko Widodo ketika itu. Tujuannya cuma satu, Abraham ingin menjadi cawapres pendamping Jokowi.
Dalam penjelasan Hasto, Abraham mengaku tahu bahwa dirinya sudah pasti tidak akan menjadi cawapres Jokowi. Dia (Abraham) mengatakan, “Karena saya telah melakukan penyadapan. Saya tahu yang menyebabkan kegagalan saya ini jadi cawapres adalah Budi Gunawan. Terima kasih ya.” Hasto menyimpulkan ada kasus pribadi antara Abraham Samad dan Budi Gunawan.
Sangat wajar jika ada publik berspekulasi, penetapan Budi Gunawan sebagai tersangka tidak lepas dari kaitan dengan usaha ketua KPK untuk menjadi cawapres.
***
Belum cukup 24 jam Hasto menggelar jumpa pers soal Abraham Samad, polisi menangkap Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto yang dituduh mengarahkan saksi memberikan keterangan palsu di sidang Mahkamah Konstitusi terkait perkara Pemilukada Kotawaringin Barat pada 2010.
Firasat Bambang bakal ditangkap polisi, Jumat (23/1) pagi, diungkapkan dua sahabat karibnya di KPK; Abraham Samad dan Adnan Pandu Praja.
Adnan menceritakan beberapa hari belakangan Bambang sudah berkemas karena sudah merasa sesuatu yang buruk akan menimpanya. Sang sahabat menyakinkan tidak ada hal yang buruk menimpa. Atas dasar itulah, Bambang berani keluar rumah mengantar anak ke sekolah tanpa pengawalan.
Begitu juga halnya dengan cerita Abraham. Menurut Abraham, malam sebelum penangkapan, Bambang memiliki firasat akan berurusan dengan polisi. Bahkan, firasat tersebut menguat dengan ucapan sahabatnya. Kata Abraham menirukan ucapan Bambang, malam Jumat menjadi malam terakhirnya mereka jalan bersama.
Bambang ditangkap lalu sempat dinyatakan ditahan polisi pada Jumat. Sabtu dini hari itu, Bambang dilepas dengan jaminan. Beberapa jam setelah informasi ditangkapnya Bambang, dukungan pun mengalir ke KPK. Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi menyampaikan penangkapan Bambang ditengarai sebagai upaya pelemahan pemberantasan korupsi.
***
Penangkapan komisioner KPK itu membanjiri media sosial. Dukungan “saveKPK” dalam hitungan jam menjadi topik terpopuler dunia. Perseteruan ini mengingatkan kita pada kasus Cicak vs Buaya antara dua institusi penegak hukum yang melibatkan Ketua KPK Antasari Azhar pada 2009 lalu. Akhir dari drama itu membuat Antasari meringkuk di sel lembaga pemasyarakatan (LP).
Artinya, kedua kasus yang melilit Budi Gunawan dan Bambang Widjojanto, publik menilai siapa di antara keduanya dianggap bersih. Lalu siapa dan lembaga apa yang berkomitmen menjaga Indonesia bebas dari korupsi.
KPK dan Polri harus menunjukkan kepiawaiannya dalam penegakan hukum di negeri ini. Tidak perlu tebang pilih. Proses hukum dijalankan secara objektif dan sesuai fakta dengan alat bukti cukup, bukan asumsi atau balas dendam.
Dari peristiwa dua pekan terakhir awal 2015, baik di KPK, DPR, dan Mabes Polri, saya teringat dengan obrolan kosong teman sesama jurnalis. “Jika ingin hidup selamat, jangan dilawan tiga jenis orang. Pertama, orang yang berkuasa. Kedua, orang yang punya duit, dan terakhir orang gila,” pesan temanku.
Aku hanya tersenyum. Temanku lalu membedah ketiga jenis orang itu, “Melawan yang berkuasa pasti jadi arang. Melawan orang punya harta kekayaan, pasti jadi sengsara dibuatnya, apalagi melawan orang gila. Bisa-bisa kita jadi gila benaran.” Gitu ya, kataku. ***


